Usai sudah rangkaian MPLS yang dijalani anakku sejak senin lalu. Di akhir penutupan Jumat sore saat memakaikan seragam dalam hati seraya mengucap syukur, hadir pula berjuta harapan baik yang senantiasa mengiringi langkah-langkahnya.
Sedikit saja aku mau bercerita tentang pengalaman yang merangkum perjalanan 5 hari itu, dan pesan yang kerap kali coba kusampaikan adalah untuk percaya bahwa bersama kesulitan itu selalu datang kemudahan. Satu paket lengkap yang seharusnya bisa membuat langkah demi langkah terasa lebih tenang untuk dijalani. Karena di usianya kini kerap akan muncul beragam badai emosi, dan gak selalu bisa dengan mudah ia ceritakan. Tentu do'a-lah yang lebih bisa mendekapnya dan membuat dunianya aman.
Jelang hari penutupan ada satu tantangan yang diberikan yakni membuat sepucuk surat untuk dirinya sendiri. Kala itu, ia diminta untuk berdiskusi dengan kami dan ketika momen bersamaku ada satu tanya yang spesifik untukku, "Sejak kapan Nenek mulai melepas Bubu?" Butuh lebih dari satu hari sampai aku menyadari tanya itu bukan sebuah tanya biasa. Biiznillah, momen diskusi itu bukan hanya tepat menyasar titik kesadaran anakku, tapi juga diriku sendiri. Benar rasanya, ketika dititipkan seorang anak banyak sekali pembelajaran yang kami dapat. Boleh jadi momen belajar kami dan anakku berbeda, tetapi setiap peristiwa mengantarkan makna besar bagi kami, orangtuanya.
Selamat hari anak, Nak. Terima kasih sudah menjadi semesta kecil yang teramat istimewa. Terima kasih sudah memberi kami kesempatan untuk memahami dengan caramu. Semoga kami bisa menjadi rumah, yang bisa menumbuhkan rasa berharga. Dan semoga kami bisa memberi ruang untuk bertumbuh, tanpa lupa bahwa masing-masing kita adalah pribadi yang berbeda.