When you are ready, it will happen.
Remember. If it is meant to be, it will be
And when you are ready, it will happen.
The Universe has a funny way of blessing you.
Whether it with people. Or things. Or moments. Or places. It knows
And it gives you everything you need.
But only when you are ready.
Now exhale.
Spontan tersenyum saat membaca kalimat demi kalimat itu pada gambar pertama di instagram saat aku membukanya. Seringkali aku mendapat pesan dari semesta dengan cara seperti itu. Lewat tulisan yang sangat nyambung dengan situasi yang terjadi saat tulisan itu terbaca. Seolah hadir sebagai konfirmasi supaya aku mantap melangkah.
Mungkin masih ingat cerita dalam esai berjudul Kembali ke Titik Nol, bahwa memang ada bentuk komunikasi dari semesta ke diri kita. Aku membangun komunikasi dengan semesta seolah aku sedang berinteraksi dengan seseorang. Memang semesta itu tanpa sosok, tapi nyata adanya. Kata semesta mungkin bisa diganti dengan Tuhan yang tanpa sosok namun nyata keberadaannya.
Dalam pola 5 elemen, Tuhan berada di luar semua elemen itu, beyond elements, di atas segala-galanya. Jadi jika elemen bisa diurutkan dari gross ke subtle, dari yang padat jadi kian halus, dari yang bisa tertangkap oleh seluruh indera hingga yang hingga hanya oleh 1 indera saja, maka keberadaanNya di atas kemampuan daya tangkap dari kelima indera itu.
Dengan logika berpikir itu, maka sebuah relasi dengan Tuhan membutuhkan kepekaan lain yang non inderawi, kepekaan yang membuat kita bisa menangkap sesuatu meskipun tak ada wujudnya, dan lalu menjadi tau, sense of knowing.
Namun mengganti kata Semesta dengan Tuhan bisa menyempitkan bentuk komunikasi itu dalam satu kata yaitu doa, yang lagi-lagi bisa kian mengecilkan relasi itu dalam kebakuan sebuah doa.
Padahal doa sendiri bisa melalui banyak cara, dengan kata-kata maupun tanpa kata-kata. Aku sendiri juga menyukai doa tanpa kata-kata, karena Ia tahu segala-galanya tanpa kita perlu banyak berbicara. Aku juga suka berdiam diri dan berkata tanpa suara padaNya, 'Aku datang, aku mendengarkan'. Memang tidak akan ada kata-kata yang kudengar saat itu atau sesudahnya pun sebagai balasannya, namun aku memperoleh jawaban dariNya lewat seribu satu macam cara. Lewat satu gambar berisi tulisan seperti tadi itu misalnya. Sebuah konfirmasi yang meneguhkan, yang membuatku percaya pada jalan yang telah disediakanNya, rencana yang diaturkanNya dan pada waktu yang dicanangkanNya.
Dan sekarang aku pun jadi mengembus napas seraya berucap dalam hati, 'Oh God...Thank you...'