Berhasil menemukan setelah mencari, pertama-tama pastinya membawa kelegaan. Bagai beralih dari moda simpatetik ke parasimpatetik, seketika kelegaan itu seperti menciptakan ruang yang segera teraliri sesuatu sehingga memberi kenyamanan.
Baru saja pengalaman itu hadir setelah sejak pagi nyeri di perut ini membuatku bertanya-tanya, 'Salah makan apa ya?' dan sore ini kutemukan jawabannya, 'acar'. Aku baru teringat saat membuatnya aku sempat mengiris mentimun dengan talenan daging, dan meski sadar aku tak berprasangka apa-apa selain lalu mengganti talenan dan lanjut mengiris.
Lega meski rasa nyerinya masih ada, namun kekhawatirannya sudah menghilang dan langkah selanjutnya jadi lebih mudah.
Tapi bagaimana jika yang dicari itu tak segera diperoleh jawabannya? Kekhawatiran itu pasti akan terasa bagai sumbatan yang mengganjal. Pikiran seperti terus dipaksa mencari tahu untuk menemukan. Sampai kapan?
Kadang ganjalan tidak melulu hadir oleh rasa sakit yang nyata. Kadang ganjalan itu hanya berupa perasaan tidak nyaman yang tidak jelas asal usulnya. Malah bisa juga ganjalan itu ada justru karena asumsi belaka.
Asumsi memang berbahaya, hanya karena menganggap lawan bicara mengerti apa yang dibicarakan dan kenyataannya tidak, maka komunikasi bisa jadi error, macet atau bahkan sampai selisih paham. Seperti yang belakangan terjadi di rumah dengan si anak abg. Serasa dianggap cenayang yang bisa tahu sendiri segala sesuatunya tanpa ia perlu banyak mengucapkan kata-kata. Berulang kali harus kembali diminta untuk menganggap orang tuanya ga ngerti apa-apa, sehingga ia mau berusaha untuk lebih menjelaskan sejelas-jelasnya.
Berkomunikasi memang hal penting untuk dikuasai. Memang tidaklah mudah, sekedar mengucapkan isi pikiran saja bisa terdengar ruwet dan kusut, apalagi mengucapkan isi hati, pastilah jauh lebih susah lagi.
Dalam sistem chakra, kemampuan untuk mengekspresikan segala sesuatu dari dalam diri ini terletak di Throat Chakra, dan tak hanya sekedar kemampuan berbicara tapi berekspresi seturut kebenaran dari dalam.
I am honest about who I am, I am aligned with my highest truth.
My voice is important. I speak my truth and my emotions with ease. I am fully heard. My truth is valid. I always find the right words to say. I trust in my truth and my voice. I honor my truth and my voice fully.
Sesuatu yang tidak nyaman memang bagaikan batu yang mengganjal aliran ekspresi sehingga jadi tidak lancar.
Kisah yang tidak ingin diceritakan bisa membuat seseorang menghindar dari percakapan personal dan lebih banyak diam. Layaknya energi yang terhalangi, blockage pun terbentuk, baik disadari maupun tidak dan akan terus ada di sana. Sampai kapan?
Maka pertanyaan itu mengantar kembali pada 'Jawaban apa yang dicari?'. Mendefinisikan ketidaknyamanan yang ada akan membantu menemukan jawaban dari kebutuhan yang dicari. Jika sakitnya di perut pastilah mencari apa yang dimakan. Jika sakitnya tak terdefinisikan, maka mulai dari menguraikannya dulu satu persatu akan membantu menemukan apa yang perlu dicari jawabannya.
Nanti ketika ketemu apa yang dicari, maka dengan sendirinya ganjalan itu akan perlahan memudar, sumbatannya mencair dan ekspresi akan kembali mengalir.
.
Whatever makes you uncomfortable is your biggest opportunity for growth