Ketika saya menonton film Marvel terbaru konsep "multiverse" begitu menonjol, membawa saya pada perjalanan imajinatif yang melintasi berbagai dunia dan kemungkinan yang tak terbatas. Konsep ini seolah membuka realitas alternatif di mana setiap pilihan, setiap kemungkinan yang tak terpikirkan dalam satu dunia bisa menjadi kenyataan di dunia lainnya. Namun di balik keindahan cerita dan aksi, saya mulai bertanya-tanya bisa kah konsep multiverse ini ada dalam sains nyata?, Apakah mungkin ada cara untuk bergerak antar dimensi atau bahkan kembali ke masa lalu?
Dalam upaya mencari jawaban saya teringat pada teori-teori dari dua ilmuwan besar, Stephen Hawking dan Albert Einstein. Kedua tokoh ini meskipun tak secara langsung berbicara tentang "multiverse" sebagaimana kita lihat di film, telah menyumbangkan konsep-konsep dasar yang jika dikombinasikan bisa menuntun kita untuk memahami kemungkinan-kemungkinan dari gagasan multiverse ini.
Pertama kita punya konsep "waktu" dari Stephen Hawking. Dalam pandangan Hawking, waktu tidak berjalan lurus seperti yang kita rasakan sehari-hari. Ia membayangkan waktu sebagai sebuah "garis yang melengkung" di mana masa lalu, masa kini dan masa depan bukanlah sekadar urutan kejadian melainkan bagian dari sebuah "ruang-waktu" yang bisa memengaruhi satu sama lain. Hawking juga menyebutkan kemungkinan adanya singularitas dalam black hole atau lubang hitam, yang mampu menciptakan kelengkungan ekstrem dalam ruang dan waktu yang dapat membuka pintu pada apa yang bisa kita sebut sebagai "perjalanan waktu."
Lalu ada konsep "lubang cacing" dari teori relativitas Einstein. Einstein membayangkan bahwa dalam ruang-waktu mungkin ada jalan pintas atau "lubang cacing" yang bisa menghubungkan dua titik di ruang dan waktu yang berjauhan secara langsung. Ini berarti secara teoritis, seseorang bisa melakukan perjalanan waktu atau bahkan bergerak antar dimensi melalui lubang cacing ini. Lubang cacing seolah menjadi "jembatan" antara dua tempat berbeda yang jauh, namun bisa diakses tanpa perlu waktu lama.
Membayangkan konsep multiverse dalam konteks ini terasa lebih masuk akal, bagaimana jika ada lebih dari satu ruang-waktu dan masing-masing terhubung melalui lubang cacing? bagaimana jika multiverse adalah kumpulan dari berbagai realitas alternatif, di mana setiap keputusan kecil menciptakan jalur yang berbeda?. Tentu saja ini masih dalam ranah spekulasi sains dan sangat jauh dari bukti eksperimental.
Namun dengan kemajuan ilmu fisika dan eksplorasi konsep quantum, siapa yang tahu? konsep multiverse ini bisa jadi lebih dari sekadar fiksi ilmiah. Multiverse menawarkan kita wawasan yang hampir "magis" tentang potensi keberadaan dimensi tak terbatas dan perjalanan waktu bisa menjadi jalan untuk menjelajahinya. Bayangkan, jika kita bisa membuka sebuah lubang cacing ke dimensi lain mungkin kita akan menemukan versi diri kita yang berbeda di setiap realitas atau bahkan menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar tentang siapa kita dan apa arti keberadaan kita di alam semesta.
Dalam sebuah pandangan yang lebih sederhana, multiverse mengingatkan kita bahwa kemungkinan hidup dan keputusan kita tidaklah satu arah. Dalam setiap keputusan kecil setiap jalur yang kita pilih atau tinggalkan, mungkin ada alam semesta yang terbentuk. Dan apakah kita bisa berinteraksi dengan dimensi tersebut? untuk saat ini, mungkin hanya dalam khayalan. Tapi mungkin suatu saat nanti, fisika akan menunjukkan cara untuk menjelajah "dunia-dunia lain" ini seperti yang pernah dibayangkan oleh Hawking dan Einstein.