AES094 Pola dan Kesadaran
yulitjahyadi
Thursday December 9 2021, 10:04 PM
AES094 Pola dan Kesadaran

Kemarin aku bertemu dengan seorang teman lama dan mengajaknya makan malam bersama. Dalam perjalanan menuju restoran, ia mengatakan tak lagi menjadi vegan, jadi restoran apapun boleh, katanya. Lalu ia bercerita lebih lanjut alasannya. 

Ia adalah penyintas kanker. Perjuangannya untuk sembuh dari kanker adalah dengan mengubah drastis pola makannya, dan menjadi vegan. Pola diet alkali dengan konsumsi mayoritas sayuran hijau baik matang maupun mentah itu memang telah terbukti menyingkirkan sel kanker dari dalam tubuh karena sel kanker memang tidak dapat hidup dalam tubuh dengan suasana basa.  

Aku pertama kali berjumpa dengannya  saat menjadi peserta kelas rawfood-nya yang kebetulan diadakan di Bandung.

Saat itu memang aku juga sedang menaruh perhatian pada manfaat makanan mentah karena membaca buku Hiromi Shinya, Miracle of Enzyme. 

Dalam perjalananku selanjutnya, ternyata aku dan temanku sama-sama meninggalkan rawfood tanpa janjian.

Aku belajar ayurveda karena ikut pelatihan yoga sementara perjalanan temanku juga membawanya sampai ke India untuk belajar Ayurveda. 

Lalu aku pun kembali jadi murid kelas Ayurvedanya dalam satu kesempatan retret di rumahnya di Yogya, sepulangnya ia dari India. 

Suatu waktu semesta kembali mempertemukan aku dengannya. Lagi-lagi tanpa janjian, kali ini kami sama-sama menjadi murid dalam kelas pelatihan singing bowl. Hingga kemudian membuat sebuah kelas bersama di Bandung sesudah pelatihan itu.

Kemarin saat bisa kembali bertemu, dari begitu banyak cerita yang mengalir, cerita tentang keputusannya berubah itu menjadi konfirmasi tersendiri buatku. Setahun yang lalu dalam satu podcast Lucas Rockwood, ia mengatakan bahwa satu pola diet tertentu dalam penelitiannya, rata-rata dijalani hanya selama 7 tahun, selebihnya pelaku diet akan kembali ke pola sebelumnya karena berbagai faktor. 

Perubahannya dengan kembali mengonsumsi protein hewani diakuinya memberi efek yang positif. Kukunya yang tadinya pecah-pecah dan bertekstur jadi kembali kuat dan halus, rona wajahnya pun terlihat lebih segar dan bersinar. Menurutnya itu karena selama ini tubuhnya defisiensi vitamin D3 dan B12 dan keduanya itu tidak bisa disubstitusi oleh suplemen. 

Sungguh terasa betapa pentingnya untuk selalu mengamati setiap kondisi nyata yang ada. Memperhatikan segala sesuatu berdasar situasi dari momen ke momennya dan tidak melulu terpaku hanya pada sebuah kaidah tertentu saja. 

Aku pernah membaca sebuah penjelasan singkat tentang cara otak meberi perintah pada tubuh manusia untuk bekerja. Ketika sebuah kebiasaan dilakukan secara terus menerus dalam rentang waktu yang cukup lama, itu berarti otak mengeluarkan jenis perintah yang sama terus menerus. Maka atas dasad perintah itu, tubuh menjalankan perintah dengan hasil yang kualitasnya akan menurun dari waktu ke waktu karena menganggap perintah itu adalah program yang telah dikenalnya. Tepatnya, kualitas hormon yang dihasilkan oleh masing-masing kelenjar dalam sistem akan menurun kualitasnya. 

Sementara jika satu hal baru masuk ke dalam tangkapan otak dan terjadi pada tubuh, maka kemudian otak seperti terbangun dan bekerja lebih keras atas hal baru yang dianggapnya sebagai suatu tantangan baru itu. Anggapan itu lalu diteruskan menjadi perintah-perintah baru agar tubuh bekerja seturut tantangan itu. Di sinilah kemudian bisa tertangkap dari luar adanya perubahan kualitas daya kerja tubuh.

Kesadaran selalu lebih penting, bahkan baru saja sempat terbaca kutipan dari Ibu Diwien Hartono yang berbunyi, 'ternyata harta yang paling berharga adalah kesadaran'

Memang temanku itu rutin membuat jurnal makanannya, sehingga pastilah keputusan itu adalah hasil kesadarannya dari waktu ke waktu.

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wow... bacaan kita sama... Hiromi Sinya. ☝🏼😃👍🏼