Relasi Kuasa-Relasi Pertemanan
adhmsm
Saturday June 21 2025, 8:24 AM
Relasi Kuasa-Relasi Pertemanan

_

"Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan terjatuh juga.

Sepandai-pandainya S.Pd. mengelak, akhirnya akan mengajar juga."

_

Satu tahun penuh, akhirnya saya menuntaskan peran sebagai "fasilitator" di Kelas 7 SMP Semi Palar, tepatnya Kelompok Sampiung. Istilah "fasilitator" ini sering bertukar-campur dengan istilah lain, misalnya "guru", "pendidik", "pengajar", dan/atau lainnya. Dari semua sebutan itu, "guru" adalah predikat yang paling saya segani dan coba sangkal ketika ada seseorang yang menyebut demikian. Memang, terkadang istilah cuma dianggap sebagai istilah. Dengan kata lain, beberapa orang menganggap, "apa bedanya?" Betul, saya merencanakan olahan pembelajaran, berangkat pagi, hadir di kelas, memberikan materi, membuat soal, memeriksa reviu, dan seterusnya, dan seterusnya. Terlebih, kebetulan saya menyandang gelar S.Pd. dari pendidikan tinggi yang telah saya tempuh. Jadi, apa bedanya?

Mungkin secara ideal dan sederhananya, fasilitator punya peran memberikan fasilitas untuk menghadirkan ruang pembelajaran bersama. Namun, akhirnya fasilitator punya peran yang mirip seperti "guru" pada umumnya. Oleh sebab itu, ada beberapa hal kecil yang coba saya lakukan ketika menghadirkan diri di sekolah. Sehingga, beban predikat yang teremban agak terasa ringan bagi saya.

Mau-tidak mau, suka-tidak suka, hadir relasi kuasa ketika saya berinteraksi dengan teman-teman di tengah kelas. Relasi kuasa tersebut hadir berdasarkan perbedaan usia, pengalaman hidup, gelar pendidikan, dan seterusnya. Sehingga, sadar atau tidak sadar, terkadang hadir perasaan siapa yang lebih superior dan siapa yang lebih inferior antara saya dengan teman-teman.

Ketika saya mengiyakan predikat sebagai "guru", saya mungkin santai-santai saja untuk mempertegas relasi kuasa tersebut. Namun, ketika menjadi "fasilitator", saya berupaya untuk menipiskan relasi kuasa tersebut, sekalipun tidak akan benar-benar terhapus. Maka dari itu, saya coba menganggap teman-teman sebagaimana panggilan tersebut, yakni tetap menjadi "teman". Dengan kata lain relasi kuasa tersebut perlu dibalut-dikemas dalam relasi pertemanan. Meskipun, ketika saya berteman perlu batasan tertentu, sehingga saya bisa menjadi "teman" yang baik bagi teman-teman yang lain. Di sini saya sadar bahwa saya belumlah pantas untuk disebut sebagai "teman" baik dan baik-baik saja. Saya masih perlu belajar banyak untuk menjadi teman yang baik, salah satunya dari teman-teman di kelas.

Pada saat bersamaan, semua teman di kelas sudah seharusnya punya peran sebagai subjek, alih-alih sekadar objek. Sebagaimana subjek, setiap teman punya hak untuk berpikir-memilih-bergerak secara aktif atas kehendaknya sendiri, bukan hanya diarahkan secara pasif. Maka, setiap teman punya peran yang setara untuk bisa berkembang bersama. Mungkin semua hal ini terkesan sederhana, tapi sekali lagi, praktiknya tidak sesederhana itu.

Sependek pengalaman saya berperan sebagai "fasilitator", saya terus diingatkan akan situasi dari relasi pertemanan ini. Pernah pada satu ketika, teman-teman Sampiung berencana untuk tampil di hajat Musik Sore. Awalnya saya memberi saran akan referensi lagu yang akan ditampilkan oleh teman-teman, lagu yang menurut saya keren, tepatnya lagu Hidup Itu Pendek, Seni Itu Panjang dari Indie Art Wedding. Namun, karena perbedaan selera, teman-teman tidak setuju dengan lagu pilihan saya, mereka memilih lagu yang justru kurang saya suka, yakni Rumah ke Rumah dari Hindia. pada momen tersebut, saya perlu sadar bahwa saya bukan penentu di sini. Selanjutnya, saya pun perlu aktif mengelaborasi lagu tersebut bersama teman-teman agar penampilan dan lagu yang dipilih dapat berselaras. Maka, tidak ada lagi pikiran di kepala saya, "itu lagu pilihan mereka", melainkan "ini lagu pilihan kita bersama".

Setahun penuh, peran saya dan Kak Marta sebagai fasilitator di Kelompok Sampiung pun dicukupkan. Saya akhirnya harus berpisah dengan teman-teman Kelompok Sampiung, meski belum tahu akan ditempatkan di kelompok mana untuk tahun berikutnya. Saya cuma berharap dapat meninggalkan kesan yang baik dalam perpisahan ini. Sepertihalnya lirik lagu Hindia berikut:

_

"Pindah berkala rumah ke rumahBerharap bisa berujung indahWalau akhirnya harus berpisahTrima kasih karna ku tak mudah".

_

Ciao! See you when i see you, Sampiung!

athaillah-alfie
@athaillah-alfie   10 months ago
Ciao! Grazie untuk satu tahun ini kaakk!!
adhmsm
@adhmsm   10 months ago
Muchísimas gracias 🤙👋
Rosmelia Ayu Lestari
@rosmelia-ayu-lestari   10 months ago
Teramati, terlalu banyak konjungsi "sehingga". #FR-OK-Gas-OK-Gas 250621 #KangenRapotan
adhmsm
@adhmsm   10 months ago
Masih kerasa adrenaline rush-nya. OTW isi Trello dulu
rizalk47
@rizalk47   10 months ago
Absolute Smipa!
adhmsm
@adhmsm   10 months ago
Partner Nyaba 🤘
anaagustina08
@anaagustina08   10 months ago
Sungguh jleb. Bahkan kalau dipikir pikir, relasi kuasa kita pun terkadang menunjukkan superioritas ya dim. Hahaha
adhmsm
@adhmsm   10 months ago
Betul, Ka Anna. Natural, tapi perlu dikelola. Heuheu.
nataliadewisondang
@nataliadewisondang   10 months ago
Terimakasih Ka Adhimas, sudah memberikan warna dalam memfasilitasi teman2 Sampiung berproses. ✨ Bacaan yang mengingatkan kami juga sebagai orang tua, dalam memfasilitasi remaja-remaja Sampiung bertumbuh 🌱
adhmsm
@adhmsm   10 months ago
Terima kasih kembali, Bu Nat, warna yang paling bersinar tentu muncul dari teman-teman. :)
You May Also Like