AES103 Miskom
yulitjahyadi
Tuesday June 28 2022, 5:48 AM
AES103 Miskom

Berbicara lewat tulisan memang tidak mudah. Obrolan langsung yang memuat gestur, intonasi, volume suara dan kontak mata memang lebih utuh dan memudahkan, sehingga setiap ada salah intrepertasi dapat diluruskan dengan segera.

Orang juga lebih mudah berbicara ketimbang menulis. Berbicara dan menulis adalah sarana untuk berpendapat, mengutarakan isi hati, menyampaikan hasil pemikiran dan mengarahkan pembacanya pada sebuah sudut pandang. 

Dibutuhkan kemampuan berbicara agar pembicara mampu membawa pendengarnya terbawa pada arah pandang yang sama. Semua jadi lebih sulit dengan menulis. 

Dibutuhkan kemampuan berpikir secara terstruktur, kecermatan logika berpikir dalam menyusun kalimat dan pemilihan kata-katanya agar sebuah tulisan yang jadi obrolan dapat dimengerti tanpa menimbulkan salah persepsi, dapat disepakati karena pembaca dapat terbawa pada pola berpikir penulisnya.

Perkara sehari-hari pun di zaman ini butuh kecakapan menulis. Perkara komunikasi sederhana yang dulu dilakukan lewat berbicara dengan sambungan telepon, kini lebih jamak dilakukan lewat ketikan tulisan. 

Saat menulis dibutuhkan kemampuan melambatkan pikiran. Apalagi dalam percakapan langsung dua arah lewat tulisan. Kesempatan untuk menimbang ulang kalimat demi kalimat yang tersampaikan itu selalu ada dengan membaca hasil tulisannya sebelum dikirimkan. Lewat membaca ulang maka bisa ditakar oleh rasa, kira-kira bagaimana penerimaan dari sisi pembacanya. Apakah tertangkap jelas? Apakah bisa diterima baik? Apakah emosi tersirat yang terbawa dalam kalimat yang tertulis itu? Apakah yang tersirat menjelaskan yang tersurat? Ataukah yang tersirat mengaburkannya? Ataukah justru yang tersirat lebih dominan sehingga maksud tulisan akhirnya tidak tersampaikan?

Dinamika dalam komunikasi tak jarang membuat runyam suatu relasi. Apalagi jika kecakapan komunikasinya kurang terasah. Belum lagi jika ada hambatan energi dalam diri seseorang itu hingga ia tidak sanggup mengutarakan kebenaran dalam dirinya baik dalam obrolan lisan maupun tulisan. 

Runyam, sudah pasti jadi begitu ketika komunikasi kacau. Bahkan seseorang bisa masuk dalam moda sistem saraf yang terkunci dan mendapat serangan panik saat kekusutan komunikasi menjadi-jadi.

Stres bisa muncul dari ketidakmampuan berkomunikasi dengan baik. 

Lalu bagaimana solusinya? Belajar. Cuma itu caranya. Belajar berkomunikasi yang baik lewat berkomunikasi. Jika belum berhasil ya harus bisa mengevaluasi diri dan mau mencoba lagi perbaikannya terus menerus sampai jadi bisa. 

Kemampuan berpikir luas lagi-lagi dibutuhkan.Kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda lagi-lagi perlu. Ketajaman rasa untuk menakar yang tak terdengar, tak terbaca, tak kasat mata lagi-lagi juga minimal harus dikenali keberadaannya. 

Sederhana bisa jadi rumit, hanya karena salah mengetikkan isi hati. Pada intinya kita hanya butuh untuk dimengerti, maka ada baiknya kita mulai dari belajar mengerti orang lain dari membaca lebih hati-hati dan mendengarkan dengan hati

Salam.