Kejelasan bukan datang dari penjelasan yang kita terima dari orang lain kepada kita, malahan dari penjelasan dari diri kita kepada diri kita sendiri. Satu manusia satu dunia, menjelaskan satu melibatkan seluruh dunianya. Memangnya waktu kita tersedia untuk menerima satu dunianya? Lalu, satu dunia kita sendiri terabaikan?
Mungkin, ini yang namanya jebakan pengalihan yang lebih ngetren dengan sebutan pelarian. Semakin jelas instruksi yang kita dapatkan, semakin kuat kita lari dari dunia kita sendiri dan semakin dalam masuk ke dunianya. Buktinya? Kita semakin mengurusi hal-hal lain terkait dunianya, membahas hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu.
Apa yang tidak perlu? Pembahasan ke-seharusnya-an, seharusnya begini seharusnya begitu, dunianya begitu tidak jelas. Coba bandingkan dengan dunia itu, coba bandingkan dengan orang lain itu. Lalu lupa membandingkan dunia kita sendiri dengan dunianya. Melupakan lebih tepatnya, karena takut akan kesadaran bahwa;
Dunianya ternyata duniaku juga dan duniaku ternyata dunianya juga karena, kita ada di satu ruang yang sama melakukan hal yang sepaket. Memang, bisa saja orientasi tidak jelas dan hasil akhir tidak tegas. Apapun alasannya, seruang ya seruang, selahan ya selahan. Tidak bisa tidak, terlibat lah atau keluar lah. Tdak ada jalan tengah.
Yang perlu apa dong kalau gitu? Setelah memutuskan untuk melanjutkan keberadaan di ruang dan area yang sama ini, jelaskan kepada diri sendiri soal orientasi dan tegaskan kepada diri sendiri soal hasil akhir. Kedua, buat penawaran untuk diajukan dengan kesiapan terhadap penolakan juga penerimaan. Terutama penerimaan.
Bukankah kita lebih siap ditolak daripada diterima. Buktinya, kita selalu siap dengan gerutuan keseharusnyaan dan rasionalisasi komparatif ‘mendingan’ yang ujungnya diam memberatkan. Terseret iya, menghambat iya. Terhambat pun hanya jadi kata pembenaran, karena bisa saja keluar ruang kan. Ketakutan itu tidak ada, ketagihan saja sepertinya.
Dengan demikian, tulisan ini menjelaskan mengenai kemampuan membuat penawaran. Yang lebih nyata lagi bahkan sampai bentuk proposal pengajuan penawaran itu. Yang ada ya ada, yang tidak ada ya tidak ada. Proposalnya mana? Akh gak mau bikin, gak pasti diterima malah ngehabisin waktu saja. Nah kan, inilah indikator ketagihan.
Ketagihan apa? Ketidak jelasan.
Karena ketidak jelasan menjadi alasan untuk mempertanyakan doang tanpa mengajukan penawaran.
Karena ketidak jelasan menjadi alasan untuk mempermasalahkan doang tanpa mengajukan arah & langkah ke depan.
Karena ketidak jelasan menjadi alasan untuk membahas kejelasan doang, tanpa memilih ketegasan posisi diri; terlibat atau keluar.
Melibatkan atau mengeluarkan.