Suaka paling nyaman tempatku menghilang dari segala kepenatan adalah saat aku berada diantara buku-buku. Entah kenapa, aku merasakan 'hidup' saat menyentuh kertas berwarna kuning penuh bercak atau menghirup aroma buku di perpustakaan. Aroma? Hahaha.. iya aromanya itu, lembab yang menyenangkan. Dan ketenangan seolah muncul dalam pikiranku, seketika, secepat itu.
Dulu, sewaktu aku masih bekerja di studio, jika ada waktu luang kusempatkan duduk di ruang baca tepat menghadap rak-rak buku berisi referensi, majalah, bahkan brosur material. Terkadang membuatku bersin, tapi selama aku masih butuh berelasi dengan 'dunia' -ku, selama itu aku bertahan meski hidungku sudah berair. Seingatku jaman sekolah juga seperti itu, beberapa teman dekatku sudah tahu harus mencariku dimana dan menjadi panduan tak tertulis kalau aku sedang butuh ketenangan.
Sebetulnya pikiranku tak selalu 'tenang' saat butuh membaca, seringkali justru pikiranku sedang berwisata kesana kemari. Membaca hanyalah salah satu 'jangkar' yang membuatku dapat mengontrol emosi, tergugah dengan kalimat-kalimat magis. Memang tidak selalu berupa buku sih, apalagi di jaman sekarang, media digital memudahkanku untuk mencari bacaan. Namun, menyentuh lembar-lembar kertas memberiku rasa yang berbeda.
Ada beberapa penulis yang sangat kukagumi, bukunya bisa kubaca berulang kali dan ceritanya bertahan lama dalam ingatan. Pramoedya adalah sosok yang kupuja sepanjang usia remaja. Kemudian aku mengenal sosok Ayu Utami lewat Saman, kisah yang tak pernah bisa aku lupakan. Hingga akhirnya aku mulai mengenal penulis-penulis lainnya. Beberapa buku sudah kulepaskan, namun banyak buku yang masih kusimpan untukku sendiri dan berharap mungkin nanti bisa dibaca juga oleh anakku.
Sekitar 3 tahun lalu aku baru mengenal daftar living book setelah lama mencari-cari referensi baca untuk anakku. Ternyata beberapa diantaranya sesuai dengan pilihanku terdahulu saat mengumpulkan dengan harapan anakku suka buku, tetapi kehabisan sumber lainnya karena anakku yang mulai bertambah besar, kala itu berusia sekitar delapan tahun aku mulai bingung karena merasa sulit menemukan buku-buku berkualitas. Alhamdulillah, senang juga rasanya di rumah belajar mulai ada daftar buku wajib yang harus dibaca oleh anak setiap semesternya, meski tetap harus kusiapkan beberapa buku lain untuknya. Setidaknya aku mulai memahami mana buku-buku yang cocok bagi jenjang usianya serta menikmati saat-saat membaca bersamanya. Hm.. mungkin nanti malah aku yang diberikan referensi oleh anakku. Bisa jadi, ya.
Wah cocok sekali ini. Saya penggemar Pramoedya dan pernah merasa beruntung bertemu dengan beliau, saya juga menyukai Saman. mengkoleksi beberapa karya Ayu Utami, walau ada yang saya sangat tidak suka juga. Saya penggemar aroma buku, tapi bukan di perpustakaan lembab tapi di toko buku. kalau sudah masuk ke ruangan penuh buku, memang mudah tersesat dan tidak tahu jalan pulang hahahaha... Terima kasih sudah berbagi, membuat saya seolah-olah membaca isi benak sendiri!
Waaah... makasih juga bang Joe sudah mampir. hehe... kalau ke toko buku suka pengen bawa pulang semua buku. Nah, dulu jaman kuliah sering juga nongkrongin buku bekas di cikapundung, sampe akang-akang penjualnya kasih tempat khusus buat baca-baca disitu.
Saya juga penggemar buku dan dulu bercita-cita punya perpustakaan dengan buku2 keren di dalamnya. Tapi berhenti sejak baca tulisan pendeknya Paulo Coelho, bahwa buku juga punya hidupnya sendiri, jadi jangan disimpan di lemari dan sekedar jadi koleksi, tapi lepaskan, pinjamkan, berikan ke orang-orang lain yang akan dapat manfaatnya... Sejak itu saya berhenti beli buku, tapi belum sampai melepaskan koleksi buku-buku saya juga... 🤭
Aduh, iya kak.. aku juga masih susah melepaskan buku-buku. Pernah juga ngalamin sudah dipisahkan di box tapi karena belum sempat disalurkan dan tertunda beberapa bulan malah dibongkar lagi dan beberapa jadinya balik lagi ke rak buku