AES 20 - Kesadaran Ketunggalan
Gunawan Muhtar
Friday November 14 2025, 1:07 PM
AES 20 - Kesadaran Ketunggalan

Yesus / Sananda mulai mengajarkan kesadaran ketunggalan pada usia 30 tahun. 3 tahun kemudian beliau disalib pada usia sekitar 33 tahun. Sangat muda.

Secara spiritual, ajaran inti yang disampaikannya ada 2 : Ketunggalan dan Cinta Kasih.

2 hal yang membuat komunitas Yahudi marah, lalu mengejar dan menyiksanya sampai mati karena dianggap "sesat" menurut keyakinan umum orang Yahudi saat itu.

Saat Yesus datang, keadaan sosial didaerahnya mirip sekali dengan kondisi Indonesia saat ini.

Para pemuka agama Yahudi sangat diagungkan, semua perkataannya dituruti, diyakini tanpa perlu diperdebatkan, hidup dalam kondisi ekonomi yang jauh lebih baik dari kebanyakan umatnya, lebih terhormat dll. Para Imam agama masuk dalam kelompok elit setara penguasa.

Dan Yesus datang membawa pemahaman, bahwa semua manusia adalah sama. Bahwa yang utama dari seorang manusia bukanlah kemegahan ibadah ritual yang dilakukannya, tapi kemampuan untuk saling mengasihi dan memahami ketunggalannya dengan seluruh alam semesta.

" Aku (kesadaran yang mengalami pengalaman rasa sebagai manusia) adalah SATU / TUNGGAL dengan Bapa (kesadaran yang mengalami pengalaman rasa menjadi segala sesuatu) "

Ajaran yang sangat mengancam eksistensi para pemuka agama Yahudi saat itu karena bisa membuat masyarakat meninggalkan ritual dan membuat kedudukan imam imam agama sejajar dengan orang biasa.

Dan dari sanalah Yesus dan para pengikutnya diburu.

Dan pada suatu malam, selepas beliau makan malam bersama murid murid utamanya (The Last Supper), beliau ditangkap, disiksa dari dini hari sampai akhirnya dipaku di kayu penyiksaan (salib) sekitar jam 9 pagi, dan wafat dalam penyiksaan sekitar jam 3 sore.

Dan dengan tubuh penuh luka, kepala yang ditanami duri, tangan dan kaki yang dipaku ketiang kayu, beliau melihat mereka yang menyiksanya sambil berkata

" Ampuni mereka, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan ". Sebuah pencapaian spiritual tertinggi yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah mengalami kesadaran ketunggalan.

Seperti Yesus yang pengalaman rasanya telah sampai pada kesadaran ketunggalan, di Timur Tengah, ada Al Hallaj yang menyampaikan pemahaman Wahdatul Wujud nya.

Bahwa semua wujud adalah tunggal dengan Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah semua wujud. Bahwa ibadah ritual tidak dibutuhkan oleh Tuhan melainkan sikap welas asih manusia lah ibadah yang sesungguhnya.

Dan seperti Yesus, Al Hallaj juga mati disiksa karena dituduh sesat oleh ulama Islam dan dipandang mengancam stabilitas sosial politik di Persia saat itu. Setelah dihukum cambuk, digantung, lalu kepalanya dipenggal, tubuhnya dipotong2 sebagai bentuk peringatan agar tidak dicontoh oleh masyarakat.

Di Nusantara, yang terkenal ada Syeh Siti Jenar dengan pemahaman manunggaling kawulo gusti nya. Bahwa Aku dan Gusti / Allah adalah Tunggal. Suatu bentuk pemahaman yang dianggap sesat oleh dewan wali songo. 

Siti Jenar juga dihukum mati oleh wali songo, dipenggal kepalanya karena dianggap sesat. Sementara banyak petinggi eks Majapahit yang saat itu mulai belajar spiritual padanya, suatu kondisi politik yang mengancam eksistensi wali songo dan kedudukan para petinggi Demak di masyarakat.

Sungguh dari jaman ke jaman, akan selalu ada jiwa datang ke bumi, membawa kabar tentang kesadaran ketunggalan. Mereka adalah jiwa jiwa yang tahapan evolusinya telah sampai pada suatu bentuk pengalaman rasa, dimana ia telah kembali sadar sebagai kesatuan tunggal tak terpisahkan dengan kesadaran semesta.

Sananda menyebutnya Bapa.

Al Hallaj menyebutnya Al Haq.

Syeh Siti Jenar menyebutnya Allah.

Para ilmuwan fisika kuantum menyebutnya medan kuantum.

murdeani
@murdeani   5 months ago
Love!
joefelus
@joefelus   5 months ago
Superb!
Andy Sutioso
@kak-andy   5 months ago
Terima kasih... Wawasan yang semoga ikut membukakan kesadaran kita semua. 🙏🏼
You May Also Like