AES 121 Balas Bakti
leoamurist
Saturday September 25 2021, 6:15 AM
AES 121 Balas Bakti

Menurut saya, sepertinya kita sudah terlalu sering salah kaprah soal penggunaan frasa balas budi dengan balas bakti. Seperti kesalah kaprahan penggunaan kata bergeming. Bergeming kan artinya tidak bergerak sedikitpun, sedangkan diam tak bergeming kan artinya diam yang tidak tidak bergerak. Dengan logika matematika, diam yang bergerak. Galau nih, bergerak atau diam?

Atau bisa jadi diam tak bergeming itu maksudnya mungkin posisi sih tidak berubah, hanya pose yang berubah. Seperti, duduk sambil goyang-goyangin kaki gelisah. Atau, berdiri sambil gigit-gigitin jari tangan. Atau, gak ngomong apa-apa hanya pandangan matanya kemana-mana sambil memainkan pensil di sela-sela jari tangan. Kalau di sela jari kaki susah soalnya.

Yasudahlah, balik lagi ke frasa balas budi Vs balas bakti. Budi itu berkaitan dengan akal dan kemampuan mental untuk mengelola pemahaman akan suatu persepsi. Jadi, yang lebih hebat daripada Budi adalah Ibu Budi. Ini Ibu Budi. Okey, fokus! Sedangkan bakti adalah suatu tindakan yang merepresentasikan nilai kesetiaan dan pengorbanan. Yaa... kesetiaan emang butuh pengorbanan. Mengorbankan yang lain-lain demi yang satu ini.

So (biar gak pake kata 'jadi'), kesalah kaprahan yang sering kita lakukan adalah saat orang lain melakukan bakti, kita malah membalasnya dengan kata balas budi yang adalah tidak tepat juga karena sebenarnya yang kita lakukan adalah balas bakti. Contoh, karena ia hadir menemani di saat saya pulang kemalaman waktu itu maka saya membalas budinya dengan hadir dan membantu membersihkan rumahnya yang kebanjiran.

Itu kan balas bakti bukan balas budi, ada aspek kerja dan pengorbanan materi yang dibalas dengan kerja dan pengorbanan materi. Kerjanya, hadir dan membantu. Materinya, waktu dan tenaga. Sedangkan budi, gampangnya sih, adalah hal yang berkaitan dengan pemahaman, pengertian, penerimaan, pengakuan, dll dst dsj dsb yang intinya menggambarkan itu.

Contoh, ia tidak menghina juga tidak memuji pilihan saya untuk tidak berbagi dan melibatkan banyak orang dalam urusan komunitas saya. Karena ia mengerti soal ekslusivitas kelompok bersamaan dengan inklusivitas manfaat, juga bahwa diam adalah solusi kalau memang tidak bisa memberikan bantuan yang besar sekalian. Sehingga saya membalas budinya dengan memberikan dukungan suara kepadanya sebagai calon ketua RW.

Kalau yang contoh barusan balas budi dengan budi. Sedangkan contoh sebelumnya balas bakti dengan bakti. Sebenarnya bisa saja balas budi dengan bakti, juga balas bakti dengan budi. Contoh mudahnya, saat kita ngobrol dengan teman di kedai kopi lalu kelepasan curhat jadinya butuh saran untuk strategi posisi pekerjaan. Teman kita memberikan gagasan yang ternyata mencerahkan kita. Tanpa ragu kita pun menraktir semua pesanan dia.

Itu contoh balas budi dengan bakti. Contoh balas bakti dengan budi? Cari tahu dan labelin sendiri aja yak, tiba-tiba mentok untuk kasih contoh nih (padahal males aja).

Begitulah kira-kira pemikiran sekelebat saya tentang budi dan bakti. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk berbagi pandangan saja. Walau Budi & Bakti itu saudara kembar, tetap saja berbeda hal. Budi ya budi. Bakti ya Bakti. Kalaupun yang lebih dikenal Ibu Budi, itu hanya karena Budi anak pertama, lahir beberapa menit lebih awal, jadi deh dipake namanya untuk identifikasi orangtuanya.

Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bakti, ini Ibu Budi yang ibunya si Budi juga ibunya si Bakti. Budi bukan Bakti, Bakti bukan Budi. Ibu bukan Budi dan Ibu bukan Bakti juga. Ibu ya ibu lah. Dari tadi ngomongin Budi, Bakti, & Ibunya. Bapaknya mana?
Itu yang ngambil potret, kameranya belum ada teknologi timer jadi manual ngambil fotonya.