_
Pagi itu, sambil menunggu bubuk kopi pelan-pelan tenggelam, saya menggenggam rapat badan gelas yang masih panas dengan kedua tangan untuk menghadapi semilir angin pagi yang sebentar-sebentar lewat. Pada hari terakhir perencanaan pembelajaran semester, Kak Andy menampilkan sebuah pertanyaan di sebuah salindia, “Jika bukan tubuh dan pikiran, apa esensi kedirian manusia?” Beginilah, pagi tercipta dari segelas kopi dan pertanyaan filosofis.
Kebetulan, tengah malam sebelumnya, saya menuntaskan novel No Longer Human karya Osamu Dazai, novel yang mengisahkan kehidupan kelam seorang lelaki rantauan di Tokyo. Kurang-lebih, novel ini mendekonstruksi pandangan pembaca akan esensi manusia dalam kehidupan kolektif sosial. Kisah berakhir dengan terbuka. Yozo, sang tokoh utama, diasingkan dari lingkungan sosial karena dianggap kurang waras. Pada bagian epilog, tak terdengar lagi kabar keberadaan Yozo, entah masih hidup atau justru sudah berpulang. Namun antara kedua kemungkinan itu, yang pasti adalah Yozo telah gagal menjadi manusia.
Sehingga pada pagi yang sama, kepala saya riuh akan pertanyaan. Apa itu diri? Apa itu Manusia? Bagaimana cara untuk menjadi manusia? Apa yang membuat manusia, manusia? Saya coba menyatukan satu demi satu kepingan, antara pertanyaan pemantik yang diberikan oleh Kak Andy dengan novel yang baru selesai saya baca.
Dalam novel, Yozo berusaha keras untuk bisa menjadi manusia, untuk bisa diterima oleh manusia lainnya. Namun nahasnya, ia tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaannya sendiri, tenggelam jauh ke dasar tanpa satu pun cara untuk kembali ke permukaan. Baginya, manusia tak akan terlepas dari manusia lainnya. Satu manusia membentuk kolektif masyarakat, sebaliknya, masyarakat tak akan terlepas dari individu di dalamnya. Dalam hubungan antarmanusia, selalu ada ketegangan dan kompromi, baik kompromi yang hadir secara natural, maupun kompromi yang dipaksakan.
Dari pertanyaan Kak Andy, saya menulis di buku catatan, bahwa manusia terdiri dari tubuh fisik, pikiran, dan satu hal abstrak, pada bagian ini saya menulis “ruh/kesadaran”. Ketika semua bagian itu dikaitkan dengan novel yang saya baca, hal yang pasti adalah seorang manusia akan mendistorsi manusia lainnya, mendistorsi makhluk lainnya, mendistorsi segala yang dapat didistorsi. Sampai sini, saya menaruh curiga, jangan-jangan esensi kedirian manusia adalah mendistorsi segala hal yang ada di sekitarnya. Namun beberapa detik kemudian, saya menghancurkan kembali pemaknaan tersebut, lalu coba membangun pemaknaan yang baru. Berulang-ulang saya mencari pemaknaan demi meruntuhkan kembali pemaknaan yang ada.
Hingga, saya mulai menyadari sebuah kecurigaan, jangan-jangan esensi manusia adalah proses itu sendiri: membangun pemaknaan untuk meruntuhkan kembali pemaknaan tersebut. Pada saat yang sama, saya merasa bahwa makna manusia yang saat ini kita pahami merupakan simplifikasi berdasarkan makna manusia dalam pengertian sains, politik, sosial, dan agama. Namun, pertanyaan filosofis yang sama tentang manusia tak akan pernah berhenti dilemparkan dari generasi ke generasi. Keraguan adalah bagian penting dalam kehidupan kita sebagai manusia. Di bagian ini saya teringat kutipan populer dari René Descartes, “Sum ergo cogito ergo dubito”. Kurang lebih terjemahannya adalah, “Aku meragukan, maka aku berpikir, maka aku ada”—bagian “dubito” atau “meragukan” terkadang tak disisipkan, meski kata ini tak kalah pentingnya.
Pagi itu, saya melihat bubuk-bubuk kopi tenggelam perlahan ke dasar gelas. Tiba-tiba saya membayangkan diri saya sebagaimana Sisyphus yang dikutuk untuk mendorong bongkahan batu besar ke puncak bukit, hanya untuk membiarkan batu tersebut kembali bergelinding ke kaki bukit, lalu mendorong kembali batu menuju puncak untuk mengulang proses yang sama, tanpa henti. Barangkali, batu yang didorong oleh Sisyphus itu adalah bubuk kopi yang tenggelam pelan, ketika kopi tersebut habis, saya akan mengulang proses yang sama. Dalam konteks ini, batu tersebut pun dapat dianalogikan sebagai pemaknaan filosofis yang saya runtuhkan demi menghadirkan pemaknaan baru, sebelum akhirnya diruntuhkan kembali.
Meskipun melakukan hal yang sama berulang-ulang, Albert Camus pernah menulis bahwa “One must imagine, Sisyphus happy”. Dengan begitu, barangkali saya memang perlu berbahagia melihat bubuk kopi tenggelam setiap harinya, saya perlu bahagia menjalani hari-hari yang berulang, saya perlu bahagia untuk mengulang pertanyaan filosofis tanpa benar-benar menemukan jawaban pastinya, saya perlu bahagia untuk meragukan dan memaknai berbagai hal demi menjadi manusia.
_
2026
“Sum ergo cogito ergo dubito” ini menarik kak. Saya baru tahu. Ternyata ada kata-kata yang 'dihilangkan ya?. Saya pernah menulis tentang ini juga kak.
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/2992/aes061-berbeda-pandang-dengan-descartes
Terima kasih banyak catatannya kak. 🙏🏼😊