AES 1246 Yang Hidup Dan Yang Mati
joefelus
Sunday November 17 2024, 12:59 PM
AES 1246 Yang Hidup Dan Yang Mati

Mohon maaf bila obrolan saya hari ini masih berhubungan dengan yang kemarin, soal kematian. Memang agak gruesome, tapi itu yang terus berkecamuk dalam pikiran saya beberapa hari ini.

Memikirkan soal kematian memang mengerikan. Dan menurut psikolog, takut akan kematian itu sangat normal karena merupakan semacam survival mechanism yang tujuannya untuk menghindari hal-hal buruk terjadi pada diri kita. Tapi jika rasa takut itu sudah mulai mengancam kehidupan normal kita, itu saatnya untuk mencari bantuan, ada istilah medisnya untuk itu, sayang saya lupa istilahnya.

Jo mah berharap ga usah tua banget pas waktunya tiba.” Kata saya dalam perjalanan menuju ke undangan perkawinan bersama adik. 

Bener! Nes juga.” Kata adik saya.

Kami berbicara sepanjang jalan tentang bagaimana kami tidak ingin menyusahkan mereka yang nanti harus mengurus jika tiba saatnya nanti membutuhkan bantuan hanya sekedar untuk menjalani keseharian. Itu bukan gambar yang  ingin kami alami. 

Persis seperti yang dikatakan oleh Prof Dumbledore di film Harry Potter: “Do not pity the dead, Harry. Pity the living. And above all, pity those who live without love.” Kami berdua lebih concern terhadap mereka yang nanti akan kami tinggalkan. 

Liat aja, misalnya selama berminggu-minggu di rumah sakit, akhirnya mati juga. Lalu nanti yang ditinggal hidup harus berjuang karena ditimbuni utang. Daripada gitu, biarin aja Jo pergi. Ga akan lagi menderita dan terutama yang ditinggal ga akan menderita bayar utang.” Kata saya lagi

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia memang belum sampai ke taraf menyejahterakan masyarakatnya. Untung juga sudah ada BPJS, dan dalam menjalaninya pemerintah masih terus menerus tekor. 

Jangankan bayar BPJS secara teratur, untuk hidup aja banyak yang susah. Tau engga kalau tukang-tukang yang kerja di rumah ga makan siang? Supaya bayarannya ga kepake buat makan, jadi gajinya utuh.” Kata saya.

Tindakan preventif di Indonesia menurut saya masih sangat minim. Banyak tetangga saya yang meninggal karena memiliki penyakit yang tidak terdeteksi. Colon cancer misalnya, baru ketahuan sesudah menyebar kemana-mana dan kanker semacam ini termasuk yang menjadi penyebab kematian tertinggi padahal penyakit ini dapat dideteksi sejak awal jika masyarakat melakukan screening, apalagi jika sudah menginjak usia tertentu yang biasanya lebih rentan terhadap penyakit ini. Nah masyarakat yang seharusnya bisa lebih proaktif dalam hal menjaga kesehatan, dalam hal pencegahan. Tapi semua itu membutuhkan biaya, nah sampai di sini terjawab sudah apa masalah utama pencegahan penyakit! Lihat saja, barusan saya mencari tahu biaya untuk colonoscopy di Indonesia, yang paling murah sudah di atas 2 juta rupiah hingga belasan juta. Pencegahan itu di sini membutuhkan biaya tidak kecil. Serba salah ya? Dana yang tersedia untuk hidup saja sudah sangat terbatas, maka jangan harap berusaha melakukan-tindakan-tindakan preventif. “Yang penting tidak sakit!” Itu alasannya, padahal tidak “sakit” itu belum tentu sehat. Bisa saja gejalanya baru muncul ketika sudah terlambat. 

Ironisnya, di masyarakat yang saya perhatikan, entah betul atau tidak, tapi saya merasa ada kecenderungan seperti itu, yaitu bahwa masyarakat jauh lebih care terhadap yang sudah meninggal daripada yang masih hidup! Perhatikan saja di jalan raya, iringan-iringan pengantar orang ke pemakaman lebih dihormati daripada penyeberang jalan!!!! Pernah kita perhatikan? Lihat saja penyeberang jalan sering dimaki-maki atau tidak dipedulikan keselamatannya, sementara rombongan pengantar jenasah diberi prioritas bahkan tidak jarang para pengemudi motor yang berusaha membuka jalan mejadi sangat beringas. Nah itu yang kadang tidak masuk akal. Pada intinya memang seharusnya kita menghormati orang lain entah hidup atau mati. Itu bagian dari ciri kemanusiaan yang membedakan kita dengan mahluk lainnya. 

Foto credit: newsflare.com