Setelah sekitar 3 bulan bisa menyetir mobil untuk antar jemput anak, ternyata masih ada 1 masalah besar yang menghadang (menurutku masalah besar, karena tingkat kesulitannya yang tinggi)
PARKIR..yaa..parkir adalah masalahnya. Bahkan untuk pindah parkir ke tempat yang lebih teduh pun rasanya belum cukup percaya diri. Oleh karena itu, hampir setiap hari saya tiba di sekolah pukul 6.15, masih belum ada siapapun, sehingga saya bisa leluasa maju mundur dan mencari parkiran yang saya inginkan. Tapi tentu saja berujung parkir di tempat yang sama, di bawah pohon mangga yang rindang. Sampai-sampai disebut tempat parkir "Direksi" ahahaha.
Seiring waktu, saya pun merasa harus mencoba spot parkir lain, selain karena menantang diri, tapi juga karena panas, jadi saya secara alamiah mencari tempat teduh. Cuma masalahnya ya itu, parkir ternyata merupakan hal yang tersulit. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika saya mau pindah parkir ke tempat yang teduh, tapi karena saya sibuk nyari pertolongan..eehh..tempat yang ditarget keburu ditempati orang lain. Dan saat kedua kalinya mau pindah parkir, saya tetap tidak berani, akhirnya ada bapak yang berbaik hati membantu memindahkan mobil, dan saya menjaga tempat target agar tidak ditempati orang..ehehehe.
Percaya atau tidak, ketika memutuskan untuk pindah parkiran, banyak hal yang berkecamuk. Seperti "Kalau saya pindah sekarang, dan tiba-tiba ada mobil masuk, apa yang harus saya lakukan? Maju ato mundur", "Saat memindahkan mobil, setir sebaiknya ke arah kanan atau kiri?", "Saat pindah parkiran, mobil harus mengarah kemana..ke kanan atau kiri?"..dan berbagai pikiran lebay lainnya.
Tapi memang tidak disangka sih. Yang dulu saya takutkan ketika belajar menyetir adalah jalan menuju rumah yang sempit dan terkaget-kaget oleh motor yang semakin bejubel di Bandung. Dan ketika ketakutan-ketakutan itu berhasil saya taklukkan, ternyata kesulitan terbesar saya adalah PARKIR.
Asik nih sudah terbit tulisan ke 2. Masih seputar perparkiran Smipa ya. Lucu banget penceritaannya Ravi 🙏😊