"To love is at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all antanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken, it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable." ― C.S. Lewis, The Four Loves
C.S Lewis adalah seorang penulis dari Inggris. Katanya beliau adalah teman dekat J.R.R Tolkien, pengarang buku terkenal The Lord of the Rings. Saya memiliki semua buku seri The Lord of The Rings yang sudah hampir 20 tahun belum mampu saya selesaikan hahaha.. Eniwei, ini adalah refleksi akhir tahun saya yang ke-4. Kali ini saya mengambil issue tentang mencintai. Topik seru yang tidak pernah bisa habis dibahas sepanjang hayat sejak sejarah manusia dimulai.
Sebelum mulai, mengapa saya memilih topik ini. Karena sebuah alasan yang egois hahaha. Tahun ini saya sungguh-sungguh merasakan ketidakberdayaan karena urusan ini. Hahaha.. Terdengar seperti lagunya Rinto Harahap bukan? Well, mungkin saja begitu, mungkin saja bang Rinto ini benar walau cara beliau mengungkapkannya buat saya agak eng ing eng, agak (atau terlalu) cengeng. Tidak apa-apa, setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengungkapkan urusan ini. Sah-sah saja!
Mari kita mulai membahas kutipan penulis legendaris asal Inggris di atas, C.S Lewis. Beliau berkata mencintai membuat kita begitu rapuh dan tidak berdaya! Kalau tidak mau mengambil risiko untuk hancur, terluka, sakit, atau babak belur, jangan pernah mencinta! Simpan saja hati anda rapat-rapat agar tidak dapat ditembus, tidak rapuh, tidak terpatahkan. Katanya lagi simpan rapat-rapat didalam peti yang gelap, hampa udara dan aman. Pertanyaannya, hidup seperti apa jika hati kita tidak digunakan untuk mencintai? Hidup seperti apa yang tidak terlibat dalam urusan cinta-mencintai? Saya tidak tahu jawabannya sebab itu adalah hidup yang tidak pernah saya jalani. Saya hanya tahu di sisi yang lainnya.
Nah ini yang ingin saya ungkapkan. Yang pertama, mencintai artinya kita melepaskan diri dari sikap egois, selfishness karena kita memilih untuk memprioritaskan kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain daripada diri sendiri. Oleh sebab itu saya sering tersenyum masam ketika mendengar lirik lagu-lagu anak muda di Indonesia. Jangan salah sangka, musiknya bagus, tapi begitu saya dengarkan liriknya, semuanya terfokus pada aku, aku, dan aku hahaha.. Misalnya pahami aku saat menangis, jangan berhenti memilikiku.. Itu salah satu lirik yang pernah saya dengar. Pada kenyataanya, menurut saya jika sungguh mencintai, maka saya mengurangi porsi "aku", dan lebih memprioritaskan "kamu". Tedengar naif dan lucu memang. Tapi pernahkah memiliki jestur seperti ini: ketika melihat orang yang kita cintai kelelahan, kita berkata, "Sudah kamu istirahat, saya yang cuci piring." Atau melihat istri sulit membuka mata ketika bayi menangis, kita berkata, "Dah kamu tidur aja, aku yang ganti popoknya, atau siapkan susu." Begitu bukan? Itu saya sih, tapi ada memang dan saya tahu itu bahwa ketika punya bayi, suami ngungsi ke kamar lain supaya bisa tidur nyenyak! Hahahahaha
Mencintai itu artinya memilih untuk takut dan khawatir! Itu sudah jelas karena cinta adalah perasaan yang kuat yang terkait dengan attachment, keterikatan, terkait dengan afeksi dan kebutuhan. Kita akan merasa khawatir dan takut akan kehilangan attachment, takut kehilangan perasaan afeksi dan takut kebutuhan kita terancam! Nah sekarang paham mengapa saya begitu ketakutan dan khawatir beberapa waktu yang lalu ketika Nina di ICU. Khawatir akan kondisi dia, keselamatan dia, dan well-being dia, tapi juga tidak dapat dipungkiri saya ketakutan akan kehilangan. Relasi yang dibangun selama puluhan tahun sudah terasa sebagai "candu"! Kelekatan, attachment dan perasaan saling mendukung dan membutuhkan tidak dengan mudah bisa dengan begitu saja diputuskan atau dilenyapkan, bukan? Cinta tidak bisa lepas dari rasa sakit. Orang yang sedang jatuh cinta akan merasakan kesakitan ketika berjauhan.. tidak heran jika dalam bahwa Inggris malah dinamakan lovesick! Hahahaha
Mencintai sama saja dengan berpetualang secara harafiah maupun lahiriah. Mencintai tidak lepas dari berkemas-kemas dan berpergian. Tidak hanya pada manusia, sebagian hewanpun begitu. Bebek Canada saya perhatikan selalu berpasangan, monogamous. Ketika mereka berimigrasi ketika peralihan cuaca, mereka berdua bersama-sama pergi dengan kelompoknya. Ketika bertelur dan mulai proses penetasan, ketika semua anggota kelompok kembali ke daerah asal, mereka berdua tinggal untuk mengurus calon keturunan mereka, bergantian mengerami telur, lalu membesarkan bayi bebek mereka selama musim panas hingga musim dingin, ketika kelompok mereka datang kembali dan begitu anak-anak mereka besar dan mampu terbang, ketika peralihan musim mereka semua terbang kembali ke asalnya. Manusia juga begitu, ketika pasangan pindah kerja, pindah kota, maka mereka berkemas dan pindah, berpetualang membangun "sarang" baru, membangun relasi baru dengan teman-teman baru. Begitu seterusnya. Saya juga begitu. Selama masa pernikahan kami, lebih dari setengahnya dihabiskan di rantau. Berpetualang berdua, berganti-ganti "sarang" dan berganti kelompok pertemanan.
Mencintai artinya melepaskan topeng, menghancurkan tembok pemisah. Mencintai artinya kita memperlihatkan semua kelebihan dan kekurangan, keterbatasan dan kehebatan, menunjukkan segala sesuatu yang kita miliki bahkan yang seharusnya kita sembunyikan. Nah menurut saya tidak ada yang lebih vulnerable daripada melepaskan semua tameng dan topeng kita dihadapan orang yang kita cintai. Karena cinta menuntut keutuhan. Tanpa kita mengetahui keutuhan masing-masing maka relasi tidak akan terjalin sepenuhnya. Nina melihat ketika saya sedang tidak berdaya, ketika saya sedang rapuh-rapuhnya, ketika saya bersusah hati dan menangis. Nina juga melihat ketika saya sedang berjaya. demikian juga sebaliknya. Tidak ada tembok pemisah, tidak ada topeng kepura-puraan.
Ini yang saya simpulkan: Ketidakberdayaan, kerapuhan dan vulnerability adalah kesempatan untuk tumbuh menjadi seorang pribadi yang utuh dan juga sebagai wahana untuk menemukan relasi yang mendalam dan memuaskan. Membuka diri dan melepaskan diri pada rasa takut dan penolakan akan dapat membantu membangun kejujuran dan rasa saling percaya, memupuk empati dan afeksi yang akan membentuk kedekatan, ikatan dan kerekatan satu sama lain yang kuat. Tidak mudah menjadi rapuh dan tidak berdaya, tidak nyaman menjadi vulnerable, tapi itu adalah langkah yang sengaja kita ambil untuk membentuk relasi dan semuanya itu sangat setimpal, sangat sepadan, worth it!