Si Koko pun berlalu dari piring makannya ke arah terik sinar matahari pagi dan segera selonjoran disitu. Sambil menjilati bulunya sesekali ia memanjang-manjangkan tubuhnya. Ia menarik jauh-jauh tangan dan kakinya ke arah yang berlawanan dan terlihat sangat rileks. Saat dipanggil namanya ia pun menjawab dengan dengkuran pelan lalu menelentangkan tubuhnya sembari berkali-kali memekarkan jari-jarinya ke udara.
Aku yang melihatnya pun segera tersenyum dan terbawa santai. Secara naluri alami ia masuk ke dalam kondisi aktivasi saraf parasimpatik dengan semua tanda-tandanya tadi. Tubuhnya mulai mengatur kerja sistem pencernaannya untuk bekerja mengolah sepiring makanan yang baru saja dia santap dengan lahap. Bisa ditebak kelanjutannya, ia pun akan segera tidur seusai mandi (baca : menjilati bulu-bulunya).
Manusia pun tak ubahnya dengan mamalia ini, memiliki dua sistem saraf yang mengatur kerja tubuhnya. Dua sistem yang bekerja secara otomatis dan bergantian secara periodik. Jika sistem saraf parasimpatik membawa tubuh dalam mode rileks dan istirahat, maka yang satunya adalah sistem saraf simpatik yang membawa tubuh dalam mode siaga : lawan atau lari.
Lagi-lagi dua sistem ini bisa dilihat dengan kacamata Yin dan Yang, masing-masing memiliki peran penting dan saling melengkapi. Jika dikaitkan dengan napas maka tarikan napas akan cenderung mengaktifkan saraf simpatik dan embusan napas akan cenderung mengaktifkan saraf parasimpatik.
Secara lebih detail kemudian aktivasi sistem saraf ini bisa diperhatikan lewat kekuatan napas di kedua lubang hidung. Sisi tubuh sebelah kiri adalah Yin side, sisi tubuh yang berkarakter Yin. Sebaliknya, sisi kanan adalah Yang side, sisi yang berkarakter Yang. Oleh karena itu kita bisa mendeteksi hal itu pula lewat kekuatan napas di lubang hidung kiri dan kanan. Caranya bisa dengan menyadari kekuatannya atau dengan meletakkan jari tangan dibawah lubang hidung dengan jarak 1 sentimeter lalu embuskan napas dan rasakan sisi mana yang terasa lebih kuat embusannya.
Jadi saat hidung mampet sebelah, itu juga menunjukkan sisi mana, Yang atau Yin yang lebih aktif dan cara untuk menyeimbangkan adalah dengan melakukan aksi yang berlawanan. Counter action selalu jadi rumus paling sederhana jika ingin seimbang, karena like increases like, sesuatu yang sama akan terus menambah-nambahkan.
Satu cara lain yang mudah dilakukan untuk mengakses sistem saraf adalah dengan bernapas dengan sebelah paru-paru lebih dominan. Pernapasan ini dilakukan dengan posisi berbaring miring ke salah satu sisi. Jika tujuannya mengakses paru-paru kiri, sisi Yin, saraf parasimpatik, maka berbaringlah miring ke kanan. Lalu sadari pernapasannya selama sekurangnya 5 menit dan perhatikan seksama rasanya. Sebaliknya jika yang dituju adalah aktivasi saraf simpatik, maka paru-paru kanan yang mau diberi kesempatan untuk mengembang secara lebih optimal sehingga kita pun berbaring miring ke sisi kiri.
Mayoritas dari kita mungkin lebih cenderung membutuhkan akses ke saraf parasimpatik dan mengaktifkan sisi Yin karena pola kehidupan modern yang ada. Kebutuhan kita untuk tetap aktif dan terus produktif-lah yang sebenarnya berpotensi melemahkan kemampuan alami tubuh untuk berganti mode. Sehingga tak mengherankan jika rasa kelelahan yang lebih sering muncul, bahkan sekalipun baru bangun tidur. Di sinilah lalu koneksi antara pikiran, tubuh dan jiwa menjadi penentunya. Apakah saya memiliki relasi baik dengan tubuh saya?
Menarik banget ini. Baru baca tau kulit2nya. Memang perlu didalami ya ini... 🙏🙂
Ya kak Andy, makin didalami makin seru. Esai selanjutnya masih berhubungan juga, silakan terus membaca. 😁🙏🏼