Kalau sedang menjalani hariku, aku sering melihat hal-hal aneh-aneh atau memikirkan sesuatu yang menarik. Ada begitu banyak yang bisa aku bicarakan seputar topik-topik ini. Tapi hanya dalam kepala. Begitu aku duduk di depan laptop, siap-siap membuat AES baru, semuanya hilang dan aku tidak punya ide apa-apa. Ketika aku melihat catatan ide-ideku, tidak ada yang membuatku berselera untuk menulis. Jadinya aku tidak menulis.
Sekarang mumpung liburan aku mencoba mendorong diriku untuk menulis tiap hari. Kadang aku menulis dua esai untuk mengejar yang terlewat. Sejujurnya sebenarnya aku juga menulis karena bercita-cita jadi yang pertama di kelasku yang mencapai 100 karena aku mudah termotivasi oleh jiwa kompetitifku. Masalahnya, yang menghambatku menulis biasanya bukanlah motivasi, tapi ide. Rasanya semua kisah yang menarik sudah kutulis, semua ide yang baru terlalu mirip dengan yang lama.
Jadi, seperti yang sekarang selalu disarankan oleh orang-orang, aku bertanya pada AI. Ide-idenya cukup kreatif, tapi tidak ada satu topik yang benar-benar bisa kueksplorasi sedalam yang kumau. Kalau diminta memberikan ide baru, dia malah mengulang yang lama. Kalau diminta memberi 15 ide, dia mengulang-ulang 6 ide yang sama. Sepertinya ini lebih karena keterbatasan kemampuanku menggunakan AI sebagai alat pembantu. Tapi aku tetap tak puas.
Jadinya sekarang aku seringkali melihat-lihat album foto di HP, mencari kenangan yang belum pernah diceritakan. Atau, aku mencari satu emoji random lalu menumbuhkan ide dari situ. Ada juga situs Random Word Generator yang kata-katanya bisa aku gunakan.
Kurasa hal lain yang menghambatku adalah rasa perfeksionis. Aku punya daftar ide esai yang tak kunjung kutulis, karena takut akan kurang optimal dan tak sesuai dengan ekspektasiku di awal. Tapi aku yakin kalau aku cukup banyak menulis AES, lama-kelamaan rasa itu akan memudar sendiri.