AES02 Proyek 20 Tahunan
Amelia Wiryoatmojo
Tuesday March 14 2023, 10:00 AM
AES02 Proyek 20 Tahunan

Akhirnya tulisan kedua, dilakukan sambil duduk manis di bengkel dengan back sound diskusi kakak-kakak KPB memaparkan idenya, dan anak-anak yang ikutan ketak-ketik di samping..

Kemarin saya berkesempatan mengikuti FBO Kelompok Limas, diskusi yang padat dan bermakna. Kami berdiskusi menangani anak-anak dalam berbagai kondisi, yaitu berkehendak dengan sehat, kebutuhan olah fisik, manajemen konflik, dan menetapkan nilai diri. Saya akan coba bahas satu per satu, tulisan ini berdasarkan diskusi yang terjadi, banyak pendapat orang tua yang saya leburkan dan tentunya banyak poin diskusi yang tidak tertuliskan disini:

  1. Pemunculan kehendak yang sehat. Pada tahapan umur 7 tahun pertama manusia mulai memiliki kehendak, dimana pemunculan kehendak ini perlu didampingi agar tetap sehat. Dalam diskusi disebutkan bahwa kehendak itu sehat ketika dapat disampaikan, tidak dipendam. Tentunya penyampaiannya pun diarahkan dengan cara yang santun dan tidak membawa kerusakan untuk diri maupun sekitar, contohnya ketika anak tidak mau mandi dan ia berteriak serta berguling-guling, perlu didampingi agar anak dapat menyampaikan keinginannya secara jelas "saya tidak mau mandi", dengan suara yang normal dan tidak menyakiti dirinya sendiri.  
  2. Kebutuhan olah fisik. Hal ini sangat penting pada anak usia dini, karena tubuhnya sedang dalam perkembangan yang pesat baik dalam motorik kasar maupun halus, perkembangan ini juga perlu didampingi agar anak-anak memiliki fisik yang siap untuk bertumbuh di tahap perkembangan selanjutnya. Bukan hanya kesiapan fisik tapi permainan maupun olah fisik juga melatih endurance and agility anak. Jatuh, bangun, cape, senang, seru, semangat, fokus, kerja sama, dan lain-lain. Kegiatannya bisa berupa structured dan unstructured play, keduanya perlu dengan proporsi yang seimbang. Dalam diskusi disebutkan bahwa anak perlu sekitar 45 menit olah fisik dalam sehari untuk memenuhi kebutuhannya. Dari mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, berolah raga mandiri maupun mengikuti klub, berkarya banyak sekali pilihan kegiatannya. 
  3. Manajemen  konflik. Konflik adalah jendela pembelajaran yang baik dan sehat, kita perlu konflik untuk dapat bertumbuh, konflik bisa terjadi dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Jadi berkonflik adlah kesempatan belajar, bukan hanya untuk anak tapi untuk orang tuanya juga. Terkadang konflik menjadi sulit terselesaikan karena banyak emosi yang terlibat, manajemen emosi orang tua penting juga untuk sehat. Orang tua perlu dapat memisahkan dirinya dengan situasi konflik yang dialami anak. Orang tua tidak perlu baper ketika anak berkonflik dengan anak lain. Bimbingan orang tua kembali diperlukan agar anak dapat menyelesaikan konfliknya dengan baik. 
  4. Menetapkan nilai diri. Setiap keluarga pasti memiliki nilai baik yang ingin diwarskan ke generasi penerusnya, nilai ini ada yang saklek/fundamental ada juga yang bisa berkembang sesuai dengan kebutuhan jaman. Ketika anak berinteraksi dengan anak lain/keluarga lain, ada beberapa nilai yang mendapatkan warna lain, warna ini yang kemudian menjadi bahan diskusi apakah warna ini bisa diterima atau tidak, jika dapat diterima kemudian ditetapkan menjadi value yang diperbaharui, atau jika tidak dapat diterima maka perlu dikomunikasikan dengan tepat agar tidak salah penerimaaanya. 

Dari semua poin diskusi, banyak sekali kata pendampingan yang digunakan, karena ya tugas orang tua/orang dewasa di sekitar anak adalah pendamping. Agar anaknya sehat lahir batin, pendampingnya pun perlu sehat lahir batin, baik secara invdividu maupun secara kelompok. Tentunya bukan tugas yang mudah mendampingi anak yang excited memiliki kehendak, belajar punya dunia selain dirinya, pengennya gerak terus dan ditemani, pengen bisa ina itu kaya temennya. Oleh karena itu orang tuanya pun perlu mampu Waras, Berefleksi, Adaptasi, Kolaborasi, dan Konsisten.  

Banyak yang didiskusikan dan setelah mendengarkan pemaparan hasil diskusi Kak Andy berujar, "Anak itu proyek 20 tahunan", ungakapan ini sangat mengena di saya karena sebelumnya saya berkecuimpung di dunia energi (pemboran) yang proyeknya berumur 20 tahuanan, di saat itu juga saya merelasikan bagaimana pekerjaan saya dulu banyak dramanya, konflik, kerjasama, kerja keras untuk dapat menyediakan sumber energi untuk Indonesia dan beberapa negara tetangga agar warga bisa menikmati listrik, bahan bakar, dan lain-lain.

Saat ini saya sebagai orang tua juga menjalani proyek anak yang juga penuh cinta kasih, kerja sama, emosi, drama, dan rasa syukur dengan harapan anak ini dapat membawa kebermanfaatan untuk dirinya, keluarganya, dan semesta. Layaknya proyek ini tidak dapat dilakukan sendiri, perlu orang tua lain, perlu keluarga besar, perlu kakak-kakak, perlu komunitas lain agar proyeknya bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan produk yang baik. Semoga kerja sama kita semua berbuah manis di masa depan.

Bandung, 14 Maret 2023

Amelia Wiryoatmojo

tesaputripermatasari
@tesaputripermatasari   3 years ago
Keren Bu Amel. Nuhun pisan.
Semoga kita bisa saling ya. Belajar sama-sama untuk menemani anak2 bertumbuh. :)
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Wow tulisan kedua sudah terbit ya. Terima kasih banyak sudah berbagi di sini. 🙏😊
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Ahem, colek ah supaya muncul tulisan ke tiga... 🙏