AES 989 Sebelum Saya Lupa
joefelus
Wednesday February 7 2024, 12:52 PM
AES 989 Sebelum Saya Lupa

Kedua kaki saya angkat sebisa mungkin. Menurut instruksi Blair, saya harus mengangkat kaki setinggi mungkin, tapi dengan harness yang mengikat tubuh, agak sulit saya mengangkat kaki tinggi-tinggi. Tapi saya tahu maksudnya, jika kaki saya kurang tinggi dan mendarat duluan, maka ada kemungkinan kaki saya bisa patah. Maklum kami mendarat di tanah berpasir ini dengan kecepatan lumayan tinggi. Akhirnya bokong saya menyentuh pasir kasar yang menutupi permukaan tanah. Berakhir sudah! Ketika saya berhasil berdiri dengan susah payah, tubuh sedikit oleng dan lutut saya masih lemas. Butuh beberapa detik hingga saya dapat berdiri tegak dan kaki kuat menginjak tanah. Petualangan yang seru selama mungkin 30 menit di udara berakhir. Saya mendarat kembali dengan selamat.

Itu terjadi kurang dari 3 minggu yang lalu. Pengalaman luar biasa yang mungkin terjadi hanya sekali seumur hidup. Melompat, terjun bebas dari sebuah pesawat kecil lalu melayang dan jungkir balik selama sekian detik sebelum parasut terbuka.

"I saw your video, Jo. It's so cool." Kata Stephanie di tempat kerja tadi siang.

"Hahaha.. thanks. It was crazy." Jawab saya

"Were you scared?" Tanyanya. Ini adalah pertanyaan yang kebanyakan teman-teman saya lontarkan begitu tahu saya baru saja melakukan terjun payung.

"Well, during free fall, I did not know what to think. My mind was kinda blank. All I knew was that I was falling very fast and for a split second I was questioning myself about why I decided to do something insane like this." Cerita saya

Yang saya alami saat itu memang sangat surreal. Saya seperti orang yang tidak dapat banyak berpikir. Ketika ngobrol dengan instruktur dan dia memasang harness di tubuh saya, hanya satu hal yang saya tahu yaitu saat itu sedang bersiap-siap tapi otak ini sepertinya ada yang membentengi sehingga banyak informasi tidak dapat saya cerna. Itu yang sulit saya jelaskan karena sama sekali tidak ada rasa takut ataupun khawatir. Ketika berjalan ke pesawat kecil juga saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Seperti ada semacam denial yang mengatakan pada diri sendiri bahwa ini tidak sungguh-sungguh terjadi. Aneh sekali.

Yang membuat saya benar-benar menderita adalah ketika duduk di dalam pesawat terbang kecil berdesak-desakan dengan posisi yang tidak nyaman. Punggung dan pinggang saya sakit sekali karena tubuh saya menempel pada Blair, instruktur saya dan terikat dengan beberapa carabiner. Kaki saya tidak bisa diluruskan dengan nyaman, tidak bisa menyandar dan membuat lower back saya sangat sakit. Bunyi pesawat terdengar menderu-deru sangat keras karena seolah-olah bekerja dengan susah payah untuk menanjak menanggung berat 5 orang di dalamnya. Saya merasa pesawat ini tidak naik-naik karena orientasi saya kacau, pesawat sebetulnya melaju dengan cepat tapi karena berada di atas, jadi seolah-olah tidak bergerak sama sekali sebab pemandangannya serasa tidak bergerak. Berbeda sekali di jalan raya ketika disamping kiri kanan pohon dan rumah bergerak ke arah belakang sementara kendaraan bergerak maju, kecepatan sangat terasa. Beda dengan di pesawat karena disamping kiri dan kanan hanya udara terbuka dan pemandangn ke bawah hampir tidak bergerak. Yang saya rasakan pada saat itu adalah, kapan kondisi ini akan segera berakhir karena rasa sakit di pinggang dan punggung bawah mulai tidak tertahankan.

Saya tidak tahu berapa lama kami terbang, pilot yang duduk disamping saya tiba-tiba menjulurkan tangannya dan membuka pintu pesawat. Nah saat itu saya langsung disadarkan bahwa beberapa saat lagi saya harus melompat dan terjun bebas. Pada saat itu saya mulai berdebar-debar tapi otak saya tidak bisa dipergunakan untuk memikirkan apa-apa karena terlalu sibuk untuk bergeser dan mengubah arah duduk saya yang tadinya menghadap ekor pesawat sekarang menghadap ke samping ke pintu yang sudah terbuka lebar-lebar. Kaki kiri Blair keluar lebih dahulu, lalu kaki kiri saya menjulur keluar disusul dengan kaki kanan dan diikuti kaki kanan Blair. Kini kami berdua menghadap keluar pesawat diterpa angin besar. Tanpa sadar tangan saya langsung berpegangan pada tubuh pesawat yang langsung ditarik oleh Blair. Saya tidak boleh memegang apa-apa, dan wajah saya ditarik ke belakang untuk menghadap ke atas. Saya tahu inilah saatnya dan tiba-tiba tubuh saya sudah berada di luar pesawat menukik dan berputar dengan kepala terlebih dahulu. Kami sempat sepersekian detik terlentang melihat pesawat ada di atas. Mungkin gerakan summersault, saya tidak tahu. Yang saya rasakan adalah angin yang begitu kuat menerpa wajah serta bunyi menjuit seperti peluit yang sangat kencang. Bayangkan saya jatuh dengan kecepatan luar biasa, hampir 200km/jam. Naik mobil saja saya belum pernah secepat itu. Anehnya sesudah sekian detik saya tidak merasa takut sama sekali dan ingat bahwa kedua tangan saya harus direntangkan dan kedua kaki saya harus dilipat keatas.

"Hmm.. jadi seperti ini toh rasanya jadi Tom Cruise waktu membuat film Mission Impossible!" Pikir saya.

Tiba-tiba karena teringat tentang shooting film, saya jadi ingat bahwa di tangan kiri instruktur saya ada 2 kamera gopro.. Langsung saya menengok ke arah kamera dan berpose sambil tersenyum hahahaha... Coba bayangkan sempat-sempatnya saya berpikir tentang kamera dan berpose sambil gaya, padahal saat itu kami sedang terjun bebas melayang diudara dan jatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi!

Entah berapa detik saya terjun bebas. Otak saya masih sulit mencerna tentang apa yang sedang terjadi. Yang saya perhatikan adalah tanah yang penuh warna putih bekas salju di bawah sana dan sekian detik saya mulai bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan ini. Tiba-tiba tubuh saya tersentak seolah-olah ditarik oleh kekuatan yang luar biasa dan mumbul ke atas. Saya tengok ke atas, parasut sudah terbuka. Posisi saya yang tadinya tidur telungkup dengan tangan terbentang dan kaki dilipat ke atas sejajar dengan permukaan tanah di bawah sana, seketika berubah seperti orang berdiri tergantung pada parasut. Seketika saya merasa lega bahwa saya tidak terjun bebas lagi dan merasa aman karena sudah tergantung pada parasut yang terkembang.

"How was it?" Tanya Blair ditelinga saya.

"It was awsome! Unbelieveable!" Teriak saya dengan nada sangat takjub dan bahagia.

Saya pikir sekarang saatnya untuk bersenang-senang menikmati pemandangan, sehingga masih sempat menyapa kamera dengan penuh kegembiraan,"Hallooo" dan ternyata saya salah. Mungkin juga karena Blair berpikir bahwa saya sangat menikmati kegiatan ini karena tadi saya bilang awesome dan unbelieveable, jadi dia mulai menambah keseruan kegiatan ini dengan memainkan payung. Saya langsung berteriak dengan ngeri karena bumi di bawah berputar putar, lalu langit ada di bawah saya hingga kemudian bumi terlihat lagi. Saya merasa seperti diombang-ambingkan oleh angin puting beliung. Ngeri sekali... dan Blair tidak hanya satu kali melakukannya melainkan berkali kali. Saat itu saya berteriak sangat keras,"Oooh Noooooooo." Yang terdengar jelas oleh semua orang yang ada di bawah! Hahaha..

Naik roller coaster atau sling shot atau apapun di carnaval atau theme park tidak ada apa-apaya dibandingkan dengan kengerian yang saya rasakan ketika bermain dengan parasut ini. Entah apa yang Blair lakukan saat itu tapi yang jelas pandangan saya menjadi agak kabur karena terombang-ambing dan tanah di bawah berputar-putar dengan sangat cepat. Entah apakah saya berputar 360 derajat atau bagaimana. Untungnya jarak saya dengan permukaan tanah semakin lama semakin dekat. Blair kemudian memberikan instruksi untuk mengangkat kaki tinggi-tinggi ketika akan menyentuh tanah sehingga kami akan mendarat dengan bokong terlebih dahulu.

Itu petualangan saya hampir 3 minggu yang lalu. Saya sengaja menceritakan hari ini agar tidak lupa akan segala detailnya. Saya katakan kemarin bahwa kegiatan menulis saya itu tujuannya untuk mendokumentasikan semua peristiwa hidup yang saya alami. Daripada hanya mengatakan "Oh saya sudah pernah terjun payung." tapi lupa sebetulnya apa yang saya rasakan maupun detail yang dialami, sayang sekali bukan? Sama seperti dulu saya naik kapal selam, saat ini saya hanya ingat sebagian saja, apa yang sungguh-sungguh saya alami dan saya rasakan sebagian besar sudah terlupakan. Nah saya tidak mau hal seperti itu terulang kembali.