Saya sedang membaca suatu buku berjudul "Who Are You?" yang di tulis oleh Jung Wooyul. Buku ini bercerita mengenai karakter orang yang berbeda-beda dan dijabarkan sesuai dengan topik-topik yang ada. Bagian 1 mengenai Ilmu Psikologi dan di mulai dengan topik "Gosip". Berbunyi, "Gosip adalah bumbu percakapan. Namun, kalau kita terlalu peduli pada gosip, kita malah jadi fokus pada kehidupan orang lain dan akhirnya tidak bisa memahami diri dengan baik. Padahal kalau kita tidak memahami diri sendiri, tidak mungkin kita bisa memahami orang lain, sehingga lingkaran setan dimana kita bergosip tentang orang lain demi menutupi rasa tidak percaya diri tidak akan pernah berakhir."
Dari kutipan diatas, nampaknya sudah banyak berbicara mengenai salah satu situasi di lingkungan kita. Terlebih lagi lingkup ini adalah lingkup yang cukup kecil. Kebanyakan orang tidak memahami apa yang orang rasakan, pikirkan dan apa yang sedang mereka jalani. Namun dengan orang yang men "cap" seseorang karena membentuk gestur atau prilaku kurang enak dilihat itu menjadikan suatu masalah terhadap pandangan orang tersebut terhadap orang yang sedang berkesusahan. Mungkin tidak jarang kita temukan masalah ini, namun rasanya jika terjadi "diluar" tidak akan serumit dan se mengganggu ini. Gosip antar teman, rekan kerja membuat asumsi buruk yang tidak bisa di kendalikan dan sangat "liar". Contoh seorang lelaki berjalan di dalam suatu department store dan membawa katong berlabel kan produk perempuan dan melewati segrombolan laki-laki dan perempuan yang kebetulan melewati jalan yang sama. Mungkin gerombolan tadi akan berpikir bahwa lelaki tersebut adalah trans atau miring atau keperempuanan. Padahal lelaki tersebut hanya sedang membawa hadiah untuk kekasihnya atau menggantikan kantong kresek yang robek dan hanya ada kantong berlabel busana untuk wanita dan bahkan lelaki tersebut hanya membawa kantong kosong. Kita tidak pernah tahu isi pikiran orang lain dan apa yang sedang ia jalani atau rasai, namun sering kali kita membuat asumsi terlalu cepat dan tidak berpikir kedepan bahwa banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi.
Selain asumsi belaka yang sangat "liar" itu. Ada juga mengenai pendapat yang memaksakan kehendak seseorang. Sungguh aneh jika disuatu perusahan dan ada seorang pegawai mendapatkan hari libur sebab lembur dari sang pemilik perusahan lalu di bantah bahwa ia tidak boleh libur oleh atasan atau manager di lapangan kerja. Mungkin jika seperti itu atasan atau manager memiliki hak juga untuk mengatur hari atau jam kerja, namun jika apa yang di lakukan sang pegawai sangat di butuhkan dan dalam kondisi fatal lalu diberikan apresiasi berbentuk hari libur oleh sang pemilik perusahan apakah wajar jika hal itu di bantah mentah-mentah oleh manager/atasan tanpa memikirkan kondisi sang pegawai. Hal ini mungkin tidak banyak di temukan secara "langsung", biasanya melalui sebuah proses terlebih dahulu mulai dari berargumen, berdebat. Tetapi mengapa hal ini dilakukan oleh seorang senior di suatu perusahan yang baru pindah cabang?