AES03 - Shine
Ara Djati
Friday April 1 2022, 6:22 AM
AES03 - Shine

[repost dari ning, 18 Juni 2021]

Shine adalah seekor kucing yang selalu ceria. Warnanya oranye terang, tubuhnya kecil dan bulat. Dia bungsu di antara sembilan kucing kami. Dia kami temukan di dekat rumah, dibuang orang di antara semak-semak. Saat kami menemukan Shine, ada juga tiga ekor kucing lain. Dua dari tiga kucing ini akhirnya meninggal. Hanya tersisa Shine dan kucing hitam itu, yang kami beri nama Shadow. Mereka masih kecil sekali waktu itu, belum sampai dua minggu. Kondisi Shine paling mengkhawatirkan. Bagian belakang tubuhnya bengkak, jadi dia sulit berjalan dan duduk.

Pada saat itu, kami sudah memiliki sekeluarga kucing yang lain. Mereka menerima kedatangan Shadow dan Shine. Bahkan, satu kucing bernama Teh sering mengajak mereka main. Teh juga menjilat-jilat bagian tubuh Shine yang bengkak, seolah ingin menyembuhkannya. Lalu, ajaib, bengkaknya memang sembuh! Shine mulai lebih segar dan aktif. Dia sudah bisa berlari ke sana kemari, bermain dengan Shadow.

Kami juga memiliki satu kucing di dalam rumah, namanya Blue. Dia sendirian karena sering menyerang kucing lain. Dia juga tidak bisa mendengar. Ketika sudah lebih kuat, Shine dan Shadow kami perkenalkan padanya, langsung diterima dan disayang. Mereka tak hanya berteman dengan Blue. Mereka juga berteman dengan anjing kami, Fluffy. Anjing kami yang lebih besar, Huggy, juga membiarkan mereka masuk ke kebunnya. Pada akhirnya, kedua ‘anak kecil’ ini memiliki ‘paspor’ ke seluruh tempat di rumah. Semua menyayangi mereka, baik itu kami, kucing lain, maupun para anjing. Terutama pada Shine.

Karena dia kucing bungsu, kami memanggilnya ‘Baby Shine’. Kata ayahku, wajahnya memang awet muda. Kataku, lebih tepatnya awet bayi. Dia sering memasang wajah tak berdosa ketika minta makan. Bila bermain dengan Shadow, Shine sering kalah dan merengek minta belas kasihan. Padahal semuanya tahu dia melebih-lebihkan ketika memasang wajah kesakitannya.

Shine, yang dulunya susah makan, menjadi rakus sekali! Apapun yang sedang kami makan, dia ingin juga. Ayah pernah memberinya kacang garuda pedas, siapa tahu dia jadi berhenti minta-minta karena takut kepedasan. Eh, dia malah suka.

Ekor Shine sering kusebut ‘ekor nanggung’. Tidak panjang, tidak juga pendek, hanya setengah. Ujungnya bundel, kaku pula. Mungkin lukanya dulu masih belum sembuh betul, karena ekornya tak bisa ditekuk-tekuk. Ditarik ke bawah, naik lagi. Kalau dia berlari, ekornya bergoyang-goyang lucu. Ditambah dengan hidungnya yang merah dan meong-nya yang memelas, semakin membuat kita tidak tega.

Tapi yang paling khas dari Shine adalah karakternya. Dia selalu gembira, kalau marah tidak pernah lama. Dia juga ramah dan mudah dielus-elus. Bila ada orang yang kebetulan jalan kaki lewat rumah kami, pasti dia sambut dengan ceria.

Aku sering merekam perilaku kucing-kucingku di tablet. Pernah, suatu pagi, aku memasang tali Blue di kalung Shine. Tali ini dipakai Blue tiap pagi untuk jalan-jalan—kegiatan yang paling dinantikannya, karena ini satu-satunya saat dia bisa keluar. Ketika Shine dipasangi tali, dia kebingungan dan berguling-guling lucu. Aku tertawa dan melepaskan talinya. Lusa akan kurekam, kupikir.

Tetapi lusa tidak pernah datang untuk Shine. Keesokan harinya, dia tertabrak mobil. Untungnya tidak ada luka terbuka, tetapi yang tertabrak adalah kepalanya, sehingga berakibat fatal. Dia dikubur di kebun dekat rumah. Petak tanah ini kini ditanami bunga yang sering Shine mainkan.

Semua kucing lain tampak lebih murung. Bahkan anjing-anjing kami juga. Shadow, teman main Shine sejak kecil, paling terdampak. Sore itu, dia bermain lama sekali di dekat kuburan Shine sambil hujan-hujanan. Biasanya dia masuk bila hujan.

Kami juga sedih sekali. Meskipun waktu itu aku tahu Shine pasti bahagia, aku tetap sangat tertekan. Semuanya terjadi tiba-tiba, tanpa sempat berpamitan atau apa-apa. Mungkin lebih terasa karena Shine kami urus sejak kecil. Dia datang beberapa bulan sebelum pandemi, sehingga kami bisa melihatnya tumbuh karena banyak di rumah. Kejadian menyedihkan ini terjadi pada tanggal 30 November tahun kemarin, jadi sudah cukup lama, dan aku sudah memiliki waktu untuk merenungkannya.

Pada hari keempat setelah Shine pergi, aku sudah mulai lebih melepaskannya. Sekarang aku sudah tidak sedih lagi, meskipun aku kadang sedikit merindukannya. Tapi, kepergian Shine memberiku banyak pelajaran. Kadang kita tidak menyadari betapa berharganya suatu hal hingga hal itu tidak kita miliki lagi. Kadang kita tidak menyadari bahwa, suatu hari nanti, hal itu akan pergi. Sekarang, bila kupikir lagi, dulu aku tidak menyadari akan harus mengucapkan selamat tinggal pada Shine. Secara teori, tentu saja aku tahu dia tidak bisa bersamaku selamanya. Tetapi tak pernah benar-benar kupikirkan—dan memang tidak baik juga dipikirkan dalam-dalam. Tapi Shine masih ada di kenanganku, itu yang penting. Kita tidak bisa melupakan sesuatu hanya karena mengingatnya kembali membuat kita sedih. Kita perlu belajar tetap mengingat tapi menerimanya.

You May Also Like