Kesenangan menulis sebenarnya sudah saya lakukan sejak lama. Diawali kelatahan demi melihat teman-teman perempuan di sekolah menengah pertama yang memiliki notes atau semacam jurnal dengan cover depan lucu-lucu serta kertas warna-warni di dalamnya. Berlanjut hingga mencoba membuat cerpen akibat berlangganan majalah remaja yang memang hanya dibaca bagian cerpennya saja lalu kembali lebih menikmati majalah bobo yang tak lekang oleh waktu.
Meski ada masa-masa dimana saya mulai lupa pada kesenangan akan menulis – sepertinya ketika sebagian waktu lebih disibukkan oleh menggambar. Namun, tetap memilih membeli jurnal harian setiap kali mampir ke toko buku saat melengkapi keperluan alat tulis. Isinya gak jauh dari jadwal harian serta catatan penting lainnya. Iya, sebatas itu dengan sedikit coretan-coretan yang kalau dibaca lagi sekarang terasa menghibur.
Sekitar 2005 – ketika saya mulai bekerja di Jakarta kebutuhan akan menulis datang lagi, mungkin terdorong rasa sepi yang mampir saat terjaga sendiri atau di sela waktu menunggu render-an 3d saya selesai. Kala itu rasanya saya punya banyak kesempatan memikirkan apapun yang terjadi sehari-hari, banyak sekali hal yang lalu lalang di kepala. Banyak pertanyaan yang hadir ampai saya mengakui masa itu sebagai yang paling berkesan, haha masa-masa penuh dengan “what if..” tapi enggan saya sebut halu.
Jika dibandingkan dengan sekarang, masa itu bisa dianggap sebagai masa penuh impian. Ada banyak list yang saya tuliskan dari angan-angan yang sebagian kecilnya berhasil diwujudkan. Menghadirkan rasa senang dan bangga karena berhasil menemukan sendiri cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Di awal tahun 2021 – saya menantang diri untuk menulis jurnal harian. Idenya datang saat melihat tantangan R membuat jurnal. Sebetulnya hal yang menarik bagi saya bukan tentang jurnalnya, tetapi ajakan untuk membuat sendiri buku jurnalnya. Bisa ditebaklah ya, selanjutnya saya mencari tutorial book binding dan berhasil membuatnya dengan berisikan 40 lembar / 80 halaman. Kenapa tidak 100? Saya ragu -meragukan diri sendiri itu tidak baik ternyata- karena belum terpikir akan merutinkan jurnal harian.
Konon katanya ada banyak manfaat yang bisa diambil dari menulis jurnal; meningkatkan produktivitas dengan cara menuliskan prioritas, menjadi fokus dengan menuliskan perasaan-permasalahan-alasan terjadi sehingga memudahkan untuk mengindetifikasi serta belajar dari kesalahan terdahulu, mengulas pencapaian hidup, serta yang paling saya suka dan jadi tujuan saat memutuskan mau rutin men-jurnal adalah mengurangi stress atau saya sebutnya sebagai salah satu media untuk healing.
Hasilnya gimana? Ternyata di bulan ke 8 men-jurnal saya jadi tahu bagian terbaiknya yaitu apa aja yang sudah berjalan secara konsisten dan mana yang masih perlu di-disiplin-kan. Memang berbeda dengan menulis blog atau essay (yang baru saya coba), boleh dibilang men-jurnal ini sifatnya buat saya seperti mengumpulkan keping hidup secara tersusun. Isinya jelas lebih personal dari sekedar merencakan aktivitas, habits tracker, mencatat kejadian penting, menyalurkan hobi tempel menempel stiker juga menggambar. Intinya menambah jatah “me-time” persis seperti jaman dahulu saat senang-senangnya menuliskan daftar keinginan atau target apa yang seharusnya bisa dicapai. Cuma bedanya, kali ini lebih realistis. Dan satu lagi, membiasakan lagi menulis tangan. Iya, kalau nge-blog kan tinggal ngetik serta emosinya lebih bisa 'diatur', sedangkan menulis tangan terasa sekali emosi apa yang hadir jadi ada jejaknya meski yang ditulis gak selalu tertuju pada poin penyebabnya.
Ah, tapi ngomong-ngomong soal angan-angan, kalau ditanya apa yang masih terus ada sampai sekarang? Jawabannya cuma satu; pengen ngerasain tinggal di suatu pedesaan! Alasannya sederhana sih, ingin merasakan waktu berjalan lambat. Iya gitu? Mungkin sih, tebakan saya begitu. Dan mungkin ini akan selalu jadi ada di wish list atau bucket list? Hm.. gak tahu.
@ahkam ada lagi nih yg 'ketauan' punya angan2 pindah ke desa... ☝️🤗
Wah, mantap Kak. Bertambah satu lagi calon Wong Deso. 😎👌
Hihihi.. yuklah, pak 🤭