Menakutkan tapi juga sangat luar biasa bagiku, bahwa ada begitu banyak memori yang kita lupakan. Bahkan mungkin, kita lupa bahwa kita lupa, kita lupa bahwa mereka pernah ada. Berapa banyak hal kecil yang akan hilang selamanya karena tak pernah kita ingat? Berapa banyak ide, pemikiran, tangkapan, tertinggal tak tercatat dan tertelan waktu? Berapa banyak hidup yang terlupakan?
Manusia secara fundamental punya hasrat untuk diingat. Cap-cap tangan di tembok gua, misalnya: ada yang bilang itu seni, ada yang bilang itu upacara. Ada yang bilang itu sesederhana meninggalkan jejak. I was here; tercermin ribuan tahun kemudian dalam mural di tembok kota yang ditinggalkan para vandal, dalam pahatan nama kekasih di meja sekolah, dalam goresan berbentuk hati di jendela yang berembun.
Tapi, kenapa diingat menjadi sesuatu yang penting? Kita tahu bahwa kita begitu kecil di dunia yang begitu besar. Mengapa menjadi berharga bagi kita kalau ada tiga orang baru yang mengingat kita, kalau orang melihat jejak kaki kita tanpa tahu siapa yang meninggalkannya?
Mungkin alasannya adalah kemenangan sosial Manusia adalah makhluk sosial, awalnya untuk alasan sederhana: bertahan hidup, saling merawat, saling menjaga. Setelah mulai memahami dunia sosial, kita mulai membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu. Kita ingin dikenal. Semakin kita dikenal, semakin aman diri kita, dari ancaman musuh atau dari bahaya.
Mungkin alasannya adalah pujian. Kalau kita berprestasi, orang akan melihat kita, mengagumi kita. Egoisme adalah bagian dari kemanusiaan – bahkan, sampai batas tertentu, keharusan untuk bertahan hidup.
Mungkin, ada alasan yang lebih eksistensial. Kita hanya ingin hidup, dan terus hidup, lewat karya kita dan anak-anak kita. Apakah prokreasi memiliki manfaat yang tak sebatas biologis? Dengan memastikan kita punya keturunan, kita memastikan bahwa setidaknya sebagian dari diri kita bisa hidup terus di dunia. Kita ingin melawan waktu, ingin hidup selamanya.