Matahari Jogja itu lengket, kental, mengantuk. Aku heran kenapa orang-orangnya bisa begitu segar, bermotor ugal-ugalan, tidak mau jalurnya diambil. Sementara aku, rasanya otakku meleleh ke dalam tempurungnya. Panas membuatku tidak bisa berpikir. Lengket, kental, mengantuk.
Tapi Museum Nasional Yogyakarta tidak membawa kesan yang sama. Begitu masuk gerbangnya, kami disambut oleh beringin tua nan sejuk. Angin mulai bersemilir lembut. Otakku bukan lagi sop leleh tak berguna. Tapi tetap saja, matahari tidak mau dihentikan: cahaya langit berpantul benderang pada tembok putih museum, silau, silet. Para seniman dan aktivis Jogja sudah di sana, memotret-motret, membaca judul besarnya. Pameran Seni Rupa: Patung dan Aktivisme - Dolorosa Sinaga & Budi Santoso.
Pameran ini adalah salah satu alasan utama aku ke Jogja. Ternyata memang sungguhan worth it. Tiap-tiap patung tampak dipahat penuh rasa dan niat, kaya akan makna dan protes sosial. Ada satu yang terbuat dari lelehan karet, tentang buruh di pabrik karet. Ada lagi tentang ibu yang dirobek menjauh dari anaknya, atau tentang sekelompok sosok meratapi jasad. Bu Dolo dengan semangat berlarian bercerita, suaranya nyaring berkumandang.
Patung-patung Budi Santoso meghiasi lantai atas. Terasa lebih halus, tapi juga penuh rasa. Ada sosok-sosok Kartini memegang tumpukan buku, yang kata Ibu mirip denganku karena "jidatnya gede". Banyak detail kecil yang menarik, seperti seekor patung anjing kecil di kakinya.
Tapi pusat dari seluruh pameran ini adalah talkshow di akhirnya. Kata Ayah, orang-orang di sini rata-rata datang untuk menyaksikan Rocky Gerung, seorang aktivis. Banyak sekali yang datang: tua, muda, pakaian luar biasa modis. Mereka tertawa dan bertukar pikiran, semua mengerung di pendopo, asap rokok saling bercampur, tertiup angin yang kian kencang. Dan angin memang jadi kencang! Kain yang kupakai menggembung-gembung menyenangkan. Matahari Jogja sudah jauh dari lengket, kental, mengantuk. Kini udara terasa bergemuruh dengan listrik, dengan semangat, dengan seni, dengan harap. Kupikir, betapa menyenangkannya jadi muda, jadi bergairah. Ini masa depanku, kupikir. Aku bersyukur bisa sekolah di tempat yang menuntunku, punya orang tua yang mau membuka pintuku, punya semangat yang mau mendorongku. Betapa menyenangkannya jadi muda.