AES 03 - Si Celepuk
Arief Djati
Sunday February 6 2022, 4:15 AM
AES 03 - Si Celepuk
Dalam kabut yang memendung pagi tadi, sewaktu berjalan-jalan dengan si Fluffy, anjing kecil kami, campuran Shih Tzu dan Pudel,  tiba² saya memperhatikan sesuatu, entah binatang apa, yang lagi berdiri di pinggiran jalan. Dia diam. Tidak bergerak melihat kami. Anjing kecilku juga tidak memberikan reaksi apapun. Padahal biasanya kalau melihat binatang, atau sesuatu yang aneh, dia akan akan menyalak, lalu kalau yakin binatangnya tidak berbahaya, dia akan mendekat, mengendus-endus, dan kemudian selesai.  Dia akan pergi dengan  puas kalau sudah berhasil mengendus-endus binatang yang baru ditemuinya.  Tapi kali ini dia tidak menggonggong, seolah-olah binatang yang diam itu memang benar² benda. Bukan mahluk hidup. Dan sebaliknya si binatang itu sendiri itu juga diam,  mengesankan kalau dia memang benda, ketika kami mendekati dan melewatinya. Sesudah beberapa langkah, saya menengok dan baru melihat dia bergerak-gerak; dia binatang: bukan tupai seperti dugaan saya semula -- tupai memang banyak berkeliaran di sekitar rumah kami. Dia Burung Hantu. Melihat bentuknya yang kecil, rasanya dia Celepuk Reban (Otus Lempiji). Itu lho Burung Hantu Jawa. Kok diam? Cedera? Meditasi? Entahlah.


Beberapa saat berlalu, ketika kembali ke sudut jalan itu bersama si kucing putih Blue,   saya  masih melihat  si burung  itu di tempat semula. Masih diam. Blue juga diam; sepertinya tidak menduga kalau ada binatang di dekatnya. Mereka sama² diam. 


Mendadak, dari jurusan lain, muncul Shadow, si kucing bermotif lurik dengan ekor panjangnya, mendatangi kami. Lalu menengok si Celepuk, mendekatinya. Burung itu menyadari  bahaya dan mulai bergerak-gerak, coba mengusir Shadow. Dan Shadow berhenti. Mengamati saja.


Saya langsung menggendong Blue, dan kemudian memasukkan Shadow ke dalam rumah.


Istri dan anak saya kemudian  membawa si Celepuk itu, yang ternyata masih kecil, dan menempatkannya  dalam bekas kandang kucing, tanpa perlawanan. Dia sudah lemah. Mungkin semalaman ada di luar dan kedinginan. Di dalam kandang kelihatan gelisah, dan kedinginan.


Kami memberinya selimut handuk, memberinya minuman, dan dia masih diam. Kami menyelipkan sebatang kayu kecil untuk bertengger di dalam kandang. 


Sehabis minum, dia diam lagi dan kami memindahkannya ke dalam kotak kardus yang lebih besar dan gelap. Dia kelihatan lebih tenang di situ. Dia kemudian tidur ketika kami bersijingkat meninggalkannya.


Sambil berdiskusi bagaimana, siapa yang bersedia menampungnya dst dst, dan memang ada yang bersedia memeliharanya. Dia siap mengambil siang atau sore harinya. Kami juga berusaha mencarikan makanan yang cocok buat anak Celepuk ini. Serangga kecil dan harus bersiap membeli di pasar, di tempat makanan burung. Dan begitulah sampai waktu bergulir menjelang makan siang. 



Dan ketika ditengok lagi, ternyata dia sudah pergi menghadap si Pencipta. Sedih. Merasa tidak bisa menyelamatkan Celepuk itu.  Sesudah dikubur berdekatan dengan kucing² kami yang sudah pergi lebih dahulu, saya tercenung sambil membayangkan bahwa dia hanya mampir sekelebatan di rumah kami, berkenalan dan mencicipi air serta menghangatkan badan  -- mudah²an itu semua cukup berarti -- sebelum meneruskan perjalanan panjangnya menemui Si Pencipta...