"Dad, ini ada roti. Jo yang buat kemarin." Kata saya sambil memberikan sekantong dinner rolls.
Kemarin memang saya iseng membuat roti. Kebetulan saya menemukan resep tiruan dinner roll dari salah satu kedai steak langganan saya dulu di Fort Collins. Rotinya enak sekali, lembut dan rasa menteganya begitu terasa. Biasa ketika kita duduk menunggu pesanan diantar, kita disuguhi roti dengan cinnamon butter. Tentunya saya tidak membuat cinnamon butter, karena saya tidak bisa makan cinnamon.
Hari ini, setiap Kamis, saya menemani ayah yang sudah sepuh. Biasa menemani hanya untuk beberapa jam saja. Karena roti yang saya buat tentunya tidak akan habis dimakan berdua dengan Nina. Saya bawa ke rumah adik dimana ayah saya tinggal.
Ayah saya tadi agak terkejut. Beliau memang pendengarannya sudah tidak baik, walau tadi saya sengaja berbicara agak keras supaya beliau tidak terkejut ketika saya masuk kamar, ternyata masih kurang terdengar, sehingga beliau tetap terkejut. Saya minta maaf sambil menyentuh bahunya dengan lembut.
Tersentak dan terkejut itu tidak menyenangkan. Saya juga orangnya mudah terkejut, dan sering jadi bahan guarauan teman-teman di tempat kerja. Tidak menyeangkan tapi tidak seberapa jika dibandingkan dengan ketegangan disertai rasa khawatir.
Dalam hidup, saya mengalami beberapa kondisi kekhawatiran beberapa kali. Ini yang saya benar-benar ingat. Anehnya justru ketika yang berhubungan dengan keselamatan dan nyawa, kekhawatiran saya tidak seintens yang nanti akan saya ceritakan. Mungkin karena saya percaya pada dokter misalnya, sehingga ketika Nina menjalani operasi ketika melahirkan Kano saya biasa-biasa saja, ketika menjalani operasi kantung empedu, lalu TKA (total knee Arthroplasty) hingga 3 kali, saya juga biasa saja. Bahkan ketika Nina di ICU karena septik shock, saya malah tidak tahu. Mungkin kalau tahu, saya akan panik.
Kapan saya merasa begitu tegang dan khawatir? Ada 5 kejadian yang sampai sekarang masih ingat. 2 diantaranya saya begitu khawatir karena Nina menghadapi qualify exams. Ini adalah ujian besar yang menentukan apakah Nina bisa melanjutkan program PHD nya atau tidak. Yang pertama qualify exam di Hawaii, yang kedua di Fort Collins. Saya ingat, saat-saat itu saya merasa sangat religius karena tidak henti-hentinya berdoa. (Nah ini contoh manusia tidak baik, yang hanya mendekati Pencipta ketika sedang butuh! Dosa! Hahahaha) Yang kedua, ketika berusaha mencari universitas untuk program Phd Nina. Saking khawatirnya, mengingat ini adalah kesempatan kami yang terakhir karena batasan usia, saya menemani Nina melamar ke 14 universitas. Pihak lembaga bea siswa hanya memberikan jatah 5 kalau tidak salah, 9 universitas yang lain harus dengan biaya sendiri. Bayangkan saja setidak-tidaknya biaya mendaftar sekitar $100 per universitas. Kami harus mengorbankan banyak uang untuk itu. Well, it's worth it in the end karena ada beberapa yang menerima dan kami akhirnya harus memilih.
Yang keempat, pengalaman hampir terdampar di padang pasir di Death Valley, Nevada karena hampir kehabisan bensin. Ini pengalaman yang bagi saya mengerikan hingga saya tulis di satu cerita: Petrifying Adventure
Bagaimana dengan yang ke-5? Hahahaha.. ini yang seru! Berlari di bandara karena kami hanya memiliki waktu 10 menit sebelum pesawat take off, sementara butuh waktu 15 hingga 20 menit untuk untuk menuju gate! Itu terjadi tahun lalu di San Fransisco karena pesawat yang kami tumpangi dari Denver ke San Fransisco mengalami keterlambatan hingga lebih dari 2 jam. Seingat saya, saya pernah cerita tentang ini. Tapi kali ini saya ingin lebih memfokuskan pada perasaan ketika mengalaminya.
Hari itu sepertinya segala sesuatu tidak berjalan dengan lancar. Kami menunggu sangat lama hingga pesawat yang akan membawa kami ke San Fransisco dari Denver tiba. Yang sangat membuat saya khawatir karena waktu transit hanya 3 jam di sana sebelum melanjutkan penerbangan menuju Singapore. Pesawat terlambat hampir 3 jam. Lalu ketika tiba di San Fransisco ada masalah baru, pintu pesawat entah mengapa butuh waktu sangat lama hingga dapat dibuka. Untungnya ada pramugari yang mau membantu, kami harus menerobos antrian keluar pesawat dengan ratusan kali mohon maaf sambil membawa beberapa kopor dan tas.
Nina seharusnya ditunggu kursi roda karena saya tahu dia tidak akan mampu berjalan cepat pindah ke gate yang lain yang jaraknya jauh. Sialnya lagi, kursi roda tidak terlihat, petugas yang seharusnya siaga menunggu ketika kami keluar, sama sekali tidak terlihat. Lagi-lagi menunggu sementara waktu boarding pesawat yang akan menuju Singapore sudah berakhir dan waktu take off sudah terlewati. Saya waktu itu sangat yakin sudah tertinggal pesawat. Harapan saya sudah musnah dan masalah baru muncul ketika tiba di gate ternyata sepi dan tidak ada pesawat. Ternyata gate keberangkatan diubah di saat-saat terakhir dan saya tidak tahu.
Itu kejadian yang sangat mencekam walau akhirnya ternyata kami tetap ditunggu dan terbang sesuai dengan rencana. Ini peristiwa yang sangat tidak menyenangkan, apalagi kemudian pesawat dari Singapore ke Indonesia sepertinya juga mengalami kerusakan. AC tidak berfungsi dan pilot memberi tahu crew untuk bersiap landing padahal kami baru terbang 1/3 perjalanan. Mau landing di laut? Bayangkan bagaimana mencekamnya perasaan saya. Itu adalah lebih dari 24 jam perjalanan yang paling mengerikan dalam hidup. Ketika di Death Valley, saya masih bisa mengambil keputusan dan tidak tergantung pada orang lain. Di pesawat lain lagi ceritanya, saya hanya bisa pasrah dan itu perasaan yang luar biasa sulit dialami. Ketika perasaan tidak berdaya melanda, dan hanya bisa berharap dan berdoa, itu adalah suatu yang tidak menyenangkan.
Foto credit: parkview.com