Sabtu kemarin saya, kak Lyn dan kak Ine hadir di peluncuran buku ibu Martina Sudibja yang berjudul Disiplin dan Cinta. Tante Martina, saya memanggilnya, karena saya kenal beliau cukup dekat dan juga sudah kenal sejak lama.Β
Buku ini adalah hasil dari proses panjang Tante Martina - 17 tahun proses beliau membaca berbagai situasi membantu entah berapa banyak orang terutama di ruang konsultasinya. Saya masih ingat bahwa @rico juga pernah berbincang dengan tante Martina di tengah proses pencariannya beberapa tahun silam. Terima kasih ππΌπ.
Yang istimewa adalah bagaimana kemudian tante Martina merumuskan sekian banyak pengalaman dan pemahamannya ke dalam dua buah kata, Disiplin dan Cinta. Dua kata yang dijadikan judul buku beliau. Dua kata yang saya percaya menjadi esensi pemahaman beliau tentang bagaimana sebuah keluarga bisa menumbuhkan karakter di dalam diri anak-anaknya. Saya sendiri belum sempat membaca bukunya, baru sekilas saja melihat halaman-halaman bukunya. Buku yang banyak sekali bercerita pengalaman beliau, yang seperti disampaikan salah satu pengulas - mas Helmi seperti membaca sebuah karya jurnalistik. Jadi memang buku ini bukan sekedar buku teori psikologi.Β
Apa yang disampaikan tante Martina saat menjawab pertanyaan dari moderator memang saya sepakat adalah esensi pendidikan karakter. Walaupun sederhana dua hal inilah yang kerap luput diterapkan di ruang-ruang pendidikan. Cinta dan Disiplin perlu dihadirkan berpasanga. Anggaplah seperti dua sisi dari satu kepingan koin. Yang sering terjadi kalaupun diterapkan, saya lihat seringkali satu terlepas dari yang lainnya. Cinta dan Disiplin tidak diterapkan berdampingan atau diterapkan tidak seimbang. Nah kalau bicara kesetimbangan, saya kira kita harus bicara juga tentang kesadaran. Selain menggunakan logika, dimensi rasa seperti empati harus juga bicara.Β
Apa yang disampaikan olah tante Martina bagi saya sangat relate dengan berbagai hal yang kami yakini dan kami coba terapkan di Semi Palar. Bahwa cinta harus jadi pondasi sebelum kita menerapkan disiplin bagi anak anak saya sepakati sepenuhnya. Ini juga terkait dengan ungkapan Connection before Correction. Bahwa kemudian salah satu penjabaran nya terkait dengan penerimaan dan pemahaman mengonfirmasi juga hal-hal yang kami upayakan di Semi Palar dalam proses anak-anak belajar dan bertumbuh-kembang.Β
Saat sesi penutupan, saat menunggu beroleh tanda tangan di halaman depan buku ini, muncul keinginan kuat untuk mengundang tante Martina berbagi dan bertemu langsung dengan rekan orangtua Smipa. Kak @innocentiaine sudah menghubungi dan meminta kesediaan tante untuk mampir ke Semi Palar - dan sudah mendapat sambutan hangat. Terima kasih banyak tante. Kita jadwalkan di bulan Februari.Β
Di akhir pertemuan saya dan kak Ine diminta untuk ikut berfoto bersama dengan rekan-rekan senior, pembina dan junior gugus depan Bandung 19 dan 20. Saya merasa terhormat diminta ikut berdiri di sana. Ya saya juga sangat mendapatkan Cinta dan Disiplin selama belajar di kepramukaan puluhan tahun yang lalu. Proses yang membentuk diri saya seperti saya hari ini. Cukup banyak murid-murid Smipa yang aktif di gugus depan seperti saya dulu, ada Belva, Belvi, Teresa, Felno, Flavi dkk. Ini juga menjadi salah satu sumber kebanggaan dan kebahagiaan saya.
Sekali lagi terima kasih dan salam hormat saya buat Tante Martina. Terima kasih atas segala inspirasinya. ππΌπ