Pada hari Senin, cuaca nampak sedikit muram tidak terlihat matahari yang senantiasa untuk menyinari kita. Aku awali hari ini dengan nasi kuning yang ku beli seharga tujuh ribu rupiah, murah sekali, dan sangat kenyang sekali. Ini hari pertama aku untuk observasi di semipalar, rumah belajar yang belakangan ini intens aku kunjungi. Aku sedikit grogi di rumah, membayangkan hal apa saja yang akan terjadi, namun aku harus melawan rasa itu, karena hakikatnya hidup memang seperti itu, harus melawan apapun, termasuk diri sendiri, bahkan itu yang paling utama mungkin. Motorku masih sakit, koplingnya tidak berfungsi dengan benar jadi beberapa hari ini dia dirumahkan, untuk sampai ke semipalar aku memesan ojek online, dia telah menunggu di depan rumah dr.Denis, karena itu titik jemput yang paling mudah untuk diakses, maklum rumahku disela-sela gang sempit. Mas ojol sudah siap menungguku, lalu aku menyapanya. Dia langsung berbicara "Sukamulya a?" aku menjawab iya, karena itu memang tujuanku kan. Di perjalanan aku tidak diam, aku sedikit berbincang diatas roda dua yang kami tumpangi, Mas ojol asli orang sulawesi, namun dia telah menikah dengan orang ciamis dan tinggal di Bandung. Dari sela-sela percakapan itu, aku merenung, dan renungan itu menghasilkan beberapa pernyataan kepada diriku sendiri, semua orang butuh uang untuk menghidupi orang terkasihnya, dan motor Mas ojol ini menjadi saksi betapa kerasnya dia berusaha dalam menjalankan kewajibannya. Karena jarak tidak terlalu jauh di rumahku, kami pun sampai, aku keluarkan uang sebelas ribu di saku jaket kiriku, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Mas ojol, semoga doaku menyertainya, mendapatkan penumpang yang banyak, dalam hatiku.
Di depan gerbang semipalar, aku langsung berjalan masuk, suasana nampak lengang, namun jarum jam telah menunjukkan 07.00 WIB, aku pikir aku kesiangan untuk berpartisipasi dalam upacara hari Senin. Namun ternyata belum dimulai, lalu aku berkontakan dengan rekan aplikan lainnya, yang nampaknya dia juga sudah tiba, lalu kami pun berbincang, perihal latar belakang kita, dan sedikit basa-basi untuk mempertahankan obrolan. Singkat kata, kami pun langsung diarahkan menuju kelas yang akan kami observasi, untuk hari pertama ini aku kebagian di SD 6. Aku berkenalan dengan kakak-kakak disana, sedikit bebrincang, lalu bersiap-siap untuk observasi kelas. Waktu hening mengawali pembelajaran, semua siswa dan kakak-kakak menutup matanya masing-masing, mataku terbuka, mengamati ekspresi mereka yang bagiku berharga sekali, nampak tidak ada beban, tenang seperti aliran sungai. Waktu hening selesai. Kami semua dengan seksama pergi ke lapangan, untuk menyelenggarakan upacara, tidak ada microphone pengumuman guna menertibkan siswa untuk berbaris, semuanya sudah mengerti, baik siswa maupun kakak-kakak disana, bahwasannya pada waktu yang ditentukan harus mulai merapihkan barisan. Aku berbaris dibelakang kakak-kakak yang lain. Upacara dimulai, semua jenjang nampak sudah berkumpul dari TK sampai KPB. Petugas upacara mengenakan baju serba hitam dan syal berwarna merah putih. Aku suka busana mereka, sungguh sangat simbolik, bagi aku baju serba hitam itu mengartikan untuk mengesampingkan terlebih dahulu identitas mereka sebagai mereka, lalu sekejap menjadi manusia nusantara seutuhnya, sungguh sangat nasionalis. Upacara dimulai, rangkaian upacara seperti pada umumnya, dari mengibarkan bendera, mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu wajib nasional. Namun ada yang janggal pikirku, tidak ada pembina upacara yang menyampaikan amanat, seperti pidato kenegaraan yang durasinya bisa sampai berpuluh menit, aneh pikirku, biasanya upacara selalu ada yang pingsan karena terlalu lama berdiri, tapi ini tidak ada, aku pikir itu biasanya terjadi, entah aneh saja bagiku.
Upacara telah selesai, aku langsung masuk ke kelas, melanjutkan lagi proses observasiku, kondisi kelas terlihat banyak karton-karton yang sudah dihiasi map nusantara, dan kisah lutung kasarung, perkakas dari tipe-x sampai lem tembak lengkap semua ada, bahkan ada bola plastik di sudut kelas. Konsep white board yang terpisah, disudut kiri ada jadwal piket, ditengah materi yang akan dibahas, disudut kanan banyak sticky note yang ditempelkan, aku tak sempat untuk mendekatinya, jadi aku tidak tahu sticky note itu isinya apa. Semuanya serba baru dalam sudut pandangku, siswa dan kakak duduk melingkar, lalu kakak menanyakan pendapat para siswa tentang upacara yang sudah dilaksanakan, beberapa murid memberikan pendapatnya, seperti: upacaranya terlalu cepat, bagus tim protokolernya, paduan suaranya terlalu tergesa-gesa, dsb. Iya, aku hanya mengawasi dan meilhat masing-masing dari ekspresi siswa yang begitu polos seperti permukaan kertas kosong atau batu mentah yang belum diukir. Mereka dengan aktifnya mengacung, aku tidak melihat adanya perbedaan antara guru dan murid, bahkan kakak menyebut mereka sebagai teman-teman, maka dari itu istilah fasilitator sangat sesuai.
Pembelajaran dilanjutkan kepada materi yang sebelumnya sudah dikerjakan, iya aku sendiri tidak menangkap apa materi sebelumnya, namun nampak gambar-gambar yang memperlihatkan krisis iklim seperti sedimentasi, kebakaran hutan, dan banjir, dalam keterangan kertasnya tertulis krisis iklim di tempat mana. Mereka diarahkan untuk membaut solusi serta menganalisis 5W+1H, yang disingkat dalam bahasa Indonesia menjadi ADIKSIMBA (Apa, DImana, Kenapa, SIapa, Mengapa, BAgaimana). Menarik sekali pikirku, mereka diberi tantangan untuk membuat mind-mapping, lalu memberikan solusi berdasarkan adiksimba. Dengan antusiasnya mereka membuat mind- mapping, dan yang telah selesai, langsung melakukan asistensi dengan kakak. Mereka mendiskusikan hasil yang telah mereka kerjakan, semua dipanggil satu-satu. Dan aku melihat mereka menjelaskan begitu detailnya, dengan ekspresi wajah yang penuh keseriusan serta rasa penasaran.
Jarum jam menunjukan ke arah 10.00 WIB saatnya istirahat, tidak ada suara bel. Yang ada suara angin sepoi-sepoi serta percakapan para murid yang begitu antusias. Para Siswa SD 6, mereka duduk melingkar di pendopo, membawa bekal yang sudah dibuatkan oleh orang tua tercinta, tidak nampak gadget satu pun. Yang ada canda tawa dan obrolan-obrolan anak kecil sebagaimana mestinya, tentunya dibumbui candaan-candaan gen-Alpha yang tidak aku pahami sama sekali. Aku mengawasi dari kejauhan, ingin ikut berinteraksi namun aku masih malu-malu. Mereka pun masuk kelas.
Semua sudah selesai melaksanakan tantangan membuat mind-mapping dari isu yang sudah ditentukan selanjutnya kakak mengajak para siswa untuk bermain. Menyenangkan sekali, namun bagi aku permainannya bukan hanya sekedar permainan tapi ada makna yang bisa digali dari sana. Kakak membagikan kartu berbentuk persegi panjang dengan masing-masing ilustrasi yang menarik lalu titik-titik khas kartu domino, bentuknya besar segenggaman pria dewasa. Mereka diarahkan untuk menyusun segitiga, dan dibagi kedalam empat kelompok. Masing-masing kelompok dengan antusiasnya bermain membentuk segitiga, yang paling cepat mendapatkan skor. Aku mengawasi kelompok yang berdekatan di posisi aku duduk, mereka tampak bekerja sama, ada juga yang ingin menonjol sendiri, namun masih terasa kerja sama timnya. Setiap selesai kartu domino tadi dikurangi satu, dah harus menjadi bentuk, kartu tidak boleh tersisa. Aku pikir ketangkasan mereka diuji disana, bersabar serta memberikan ruang kepada orang lain.
Permainan kedua, semua kelompok berbaris, dan harus menggambar di punggung temannya, gambarnya mesti sama. Berdasarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh kakak. Nah disini menurutku menguji chemistry dari para siswa, intuisi menjadi unsur yang paling utama, apakah mereka sepemikiran dalam menggambarkan pertanyaan yang dilontarkan. Dan semuanya nampak asik, berlomba-lomba siapa yang paling terbaik. Oh iya, tetapi aku tidak merasakan suasana kompetitif, semuanya lebih peduli untuk menyelesaikannya secara bersamaan, daripada buru-buru untuk terlihat menang. Sungguh sangat menarik.
Setelah itu permainan ketiga berdurasi selama satu minggu, masing-masing siswa diberi pasangan yang sudah ditulis dalam secarik kertas tergulung. Setelah mendapatkan nama itu, nantinya siswa harus berbuat kebaikan kepada temannya tanpad diketahui bahwa siswa tersebut berpasangan dengan siswa lainnya. Disini aku pikir siswa harus bisa lebih berkreatif dalam bertindak, dan beberapa pendapat juga sangat masuk. Diharapkan untuk lebih cerdik dalam menanggapi aturan permainan yang telah dibuat.
Singkat cerita pembelajaran telah selesai. Aku langsung pamit undur diri kepada kakak-kakak yang sudah senantiasa memberikan aku akses untuk bisa mengobservasi kelasnya, beberapa pertanyaan aku ajukan dan syukur alhamdulillah aku puas dengan jawabannya. Setelahnya aku kumpul di ruang kantor untuk berbagi cerita observasi yang telah dilakukan.
Waduh sungguh hari yang panjang, aku pulang berjalan kaki, menembus rintik hujan yang begitu awet layaknya ketidakadilan di negeri ini. Aku tidak membawa payung, jadi aku menggunakan jaket untuk menutupi kepalaku. Sangat dingin sekali, langkah demi langkah, kuselipkan do’a untuk diriku sendiri dan orang tua yang sedang menunggu di rumah dengan pengharapan yang amat kaya. Semoga semua yang telah aku lakukan, menjadi berkat di suatu hari nanti. Dan aku belajar banyak hari ini, dari para siswa, driver ojol, kakak-kakak semipalar, kakak-kakak aplikan lainnya. Aku belajar banyak dalam perjalanan ini, dan perjalanan ini masih sangat jauh, ku harap akan selalu seperti itu, sebelum aku bercumbu dengan langit ijinkan aku bermesraan dengan bumi serta seisinya. Terimakasih Tuhan, setiap nafas yang kau berikan kepada kami, adalah hal yang paling mahal dari apapun, terima kasih Tuhan, semoga semua umat manusia mendapatkan kesejahteraan selamanya, berada dalam lindungan-Mu. Di perjalanan pulang, kubawa pulang juga ilmu serta pengalaman yang telah aku dapatkan di hari ini. Jika disimpulkan, observasi yang telah aku lakukan, mengerucut menjadi kalimat ini: “Kebaruan bagi diriku akan tetap ada, pendidikan itu adalah ibadah panjang yang dilakukan oleh umat manusia termasuk diriku sendiri, pola belajar itu tidak bersifat hirarkis sama sekali, dan umur hanyalah angka, dan aku senang ketika melihat siswa-siswa wawasannya lebih tinggi dariku, tidak secuil pun ego ku tersentil, karena pola belajar yang bersifat horizontal itu sungguh menyenangkan, tidak ada yang lebih pintar, yang ada hanyalah belum mengetahui”.
Akhir kata dari saya Rizal Kusaendi. Salam kebajikan.
Bandung, 17 Februari 2025.