AES18 Mencari Ikigai
Asa
Wednesday March 12 2025, 10:45 PM

Hari ini, aku sepakat untuk berdamai dengan segala keadaan yang dulu kerap kupertanyakan. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang menjelma menjadi kekhawatiran tanpa bentuk, menggantung di benak, dan menuntut jawaban yang tak selalu bisa kutemukan. Namun, aku memilih untuk memulai dengan apa yang bisa kukerjakan. Meski sederhana, meski kecil. Terutama dalam mengelola rasa yang sering kali membingungkan, aku mencoba mengurainya perlahan, satu per satu, menjadi kepingan harapan yang tak tahu kapan akan terkumpul utuh.

Aku berdamai dengan kemungkinan dan ketidakmungkinan, menyatukannya dalam satu rangkaian tujuan. Keraguan yang dulu begitu bising kini kusimpan rapi, tepat di pintu bertahanku. Di sinilah aku belajar bahwa ketidakpastian bukanlah musuh, melainkan ruang untuk merenung dan bertumbuh.

Kertas dan tinta merah jambu menjadi tempat mencurahkan sebagian kecil isi hatiku. Di sana, aku kembali teringat perjalanan di kapal dari Banda Neira menuju Ambon. Di tengah gelombang lautan yang membawa aroma asin, aku membaca sebuah buku tentang Ikigai—rekomendasi dari seseorang yang istimewa, aku memanggilnya Ce Vella. Pertemuan singkat dengannya di Banda cukup membekas. Setiap perkataannya seperti teguran seorang kakak kepada adik perempuannya sedikit menampar tapi penuh maksud dan cinta dibaliknya. Saat itu, aku masih harus menjalani 6 purnama lagi sebagai relawan di pelosok, bergulat dengan kehilangan, menyusun harapan yang kadang terasa semu, bertahan di antara ketidakmungkinan.

“Belajar tidak harus identik dengan kelas, tapi bagaimana kita menciptakan ruang belajar itu sendiri”. 

Pelajaran berharga ini tidak berhenti di Banda Neira saja, melainkan berlanjut hingga kami bertemu kembali di Jakarta, dan bahkan hingga saat ini. Sesekali, kami saling bertukar kabar untuk mengingatkan satu sama lain bahwa pertemuan kami dulu disertai oleh hal-hal baik yang tak mudah dilupakan oleh waktu.

Ikigai: Alasan untuk Terjaga

Ikigai (生き甲斐) adalah konsep dari Jepang yang berarti "alasan untuk hidup" atau "makna hidup". Dalam bahasa Jepang, "iki" berarti hidup, sementara "gai" berarti nilai atau manfaat. Ikigai membantu kita menemukan alasan untuk bangun di pagi hari—hal yang membuat kita termotivasi dan merasa berarti.

Konsep Ikigai ini berpijak pada empat elemen utama:

1. What you love — Apa yang membuatmu bahagia dan bersemangat.

2. What the world needs — Apa yang bisa kau sumbangkan bagi dunia.

3. What you are good at — Keahlian yang kau miliki dan bisa kau kuasai.

4. What you can be paid for — Kemampuan yang bisa menjadi sumber penghasilan.

Ketika pertama kali membaca tentang Ikigai, alih-alih merasa tercerahkan, aku justru merasa terpuruk. Rasanya seakan perjalanan hidupku yang penuh perjuangan belum mencapai apa pun yang bermakna. Aku mempertanyakan apakah semua ini ada artinya atau hanya langkah kosong tanpa tujuan.

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat dengan cara yang berbeda. Aku membaca ulang tentang ikigai dan menyadari bahwa menemukan Ikigai bukanlah tujuan yang langsung dapat dicapai. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh dengan proses pencarian, refleksi, dan kegagalan. Ikigai bukan jawaban cepat; ia adalah dialog terus-menerus antara diri kita dan dunia di sekitar kita.

Kini, aku belajar untuk mempercayai bahwa setiap hari adalah kisah, entah itu baik atau buruk. Aku berusaha menciptakan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya. Jika tidak bisa membahagiakan orang lain, setidaknya aku berupaya untuk tidak menyakiti. Harapan tetap ada selama masih ada keyakinan, keteguhan hati, dan doa kepada Sang Pencipta.

Sukses, kusadari, bukanlah sesuatu yang dicari, tetapi sesuatu yang diciptakan dengan usaha dan ketekunan. Sejauh apa pun melangkah, jika bukan menuju tujuan yang sesungguhnya, kita hanya akan berhenti di tengah jalan. Semoga Tuhan selalu memudahkan setiap tantangan yang datang.

Bagiku jalan panjang untuk menemukan makna hidup mungkin tak mudah, tapi itulah yang membuatku terus berani melangkah dan belajar.

You May Also Like