AES 645 Kertas & Buku
joefelus
Tuesday February 28 2023, 10:16 AM
AES 645 Kertas & Buku

Seharian saya begitu lelah. Pukul 2 siang sudah duduk dengan lesu dengan mata redup dan mengantuk. Tidak ada lagi pekerjaan tersisa karena hari Senin biasanya memang hari yang longgar. Menunggu 2 jam lagi sebelum pulang, itu harus melalui perjuangan yang sangat berat. Saya sendiri heran mengapa begitu kelelahan. Paling gampang memang menyalahkan kondisi thyroid hahaha.. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dokter, hasil test terakhir tidak pernah saya ketahui karena dokter spesialis saya cuti melahirkan. Saya baru akan bisa bertemu lagi akhir bulan Maret. Sementara itu mungkin saya akan mencoba bertemu dengan dokter umum. Minta test darah dan sebagainya. Eniwei, bukan ini tujuan saya menulis, tidak seru kalau ngobrol masalah keluhan. Saya mau bicara tentang kertas, buku dan emotional values.

Beberapa hari terakhir ini di Ririungan Smipa banyak tulisan tentang Festival Literasi dan buku-buku. Saya belum pernah ikut acara ini karena seingat saya ketika masih sering nongkrong di Smipa belum ada kegiatan seperti itu, malah dulu saya bagi-bagi buku di warung ibu Soem dan di kantin karena banyak buku yang saya miliki, lebih tepatnya Kano miliki, sudah tidak dibaca lagi alias buku-buku itu sudah tidak menarik lagi untuk dia karena bertambahnya usia. Jadi kami berpikir mungkin buku-buku ini akan lebih bermanfaat bagi teman-teman yang lain.

Bagi saya sendiri buku merupakan benda yang istimewa. Jika saya pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, saya akan menyempatkan diri ke toko buku dan membeli minimal sebuah buku. Saya paling senang membaca buku-buku koleksi pribadi dan lebih istimewa lagi ketika membuka halaman pertama ada tulisan dimana dan kapan saya membeli buku itu. Jadi setiap buku selalu punya arti yang unik karena dikaitkan dengan banyak peristiwa.

Pernahkah terpikir bahwa kertas itu merangsang emosi? Saya pernah bercerita bahwa setiap kali ke toko buku, harum kertas itu men-trigger memory. Bau kertas, bau buku apalagi jika toko buku itu memiliki kedai kopi sehingga harumnya bercampur dengan harum kertas, maka otomatis emosi saya tergugah. Terdengar sangat aneh ya? Tapi ternyata berdasarkan penelitian, misalnya Temple University, membuktikan bahwa ketika membaca buku, bukan buku digital loh, tapi yang dicetak di kertas, ternyata ada respon emosional yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan membaca melalui layar monitor atau tablet, juga orang yang membaca buku yang dicetak akan lebih ingat apa yang mereka baca daripada melihat di layar kaca. Penelitian lain juga telah membuktikan dengan menggunakan FMRI (functional magnetik resonance Imagery) bahwa kertas memberikan informasi yang lebih nyata pada otak. Jadi secara umum disimpulkan bahwa kertas memberikan efek yang lebih, tidak melulu dalam hal emosi, yang alat-alat digital tidak mampu suguhkan.

Nah sekarang saya mulai mengerti kenapa buku itu sangat penting bagi saya. Begitu pentingnya hingga saya rela mengeluarkan banyak biaya untuk menggondol buku-buku itu pulang ke tanah air. Mungkin saya pernah cerita dulu saya harus menyewa 2 buah pallet hanya untuk mengirimkan benda-benda pribadi terutama buku-buku. Nina mungkin lebih meyukai yang digital, dia bisa bekerja dengan beberapa tablet, laptop dan layar monitor yang besar, tapi saya jauh lebih tradisional. Sekarang saya mulai jarang menulis dengan pensil, tapi lebih menggunakan keyboard alias mengetik karena untutan pekerjaan dan kecanggihan jaman sekarang, tapi kalau urusan membaca saya lebih suka buku cetak. Ada sentuhan secara fisik yang memberikan kepuasan yang khas, indra perasa pada kulit ketika menyentuh kertas lembar-demi lembar ditambah harumnya kertas memberikan keistimewaan yang tidak bisa ditawarkan oleh layar monitor. Saya punya 2 tablet yang sering dibawa untuk membaca, tapi anehnya jika ke toko buku tablet itu saya abaikan dan lebih memilih langsung membaca dari buku.

Buku memang mahal, itu saya akui. Jika membeli sebuah novel misalnya dalam bentuk digital, saya hanya perlu mengeluarkan uang setengahnya saja dari buku cetak, Tapi mengetahui bahwa saya tidak bisa menulis di lembar pertama tempat dan tanggal ketika saya membelinya, semangat saya langsung merosot. Emotional value yang ditimbulkan begitu luar biasa jika saya membeli buku cetak. Apakah teman-teman ada yang begitu?

innocentiaine
@innocentiaine   3 years ago
ga sampai selalu ditulisi pak, tapi tetap prefer buku, ramah di mata pula..
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Sepakat! Membaca buku fisik memang pengalaman multisensori. Bukan begitu kak @ratrikendra?
ratrikendra
@ratrikendra   3 years ago
Iyaa Kak, banyak indera yang terpantik bekerja hehe, otomatis jadi lebih bermakna 🌱
You May Also Like