Pekan literasi telah usai, perjalanan selama 5 hari terasa personal untukku. Festival sekolah yang dinikmati seluruh warga penduduknya malah seperti boot camp bagiku banyak hal yang kudapatkan selama sepekan ini.
Bersama pak Jo menjadi penunggu (bukan hantu) workshop AES menyuguhkan cerita-cerita menarik yang tidak kudapatkan pada kesempatan lain. Berinisiatif mengajak orang lain untuk mulai menulis, melihat kontras kegaduhan dan keheningan anak-anak yang mencoba menulis untuk pertama kalinya, melihat raut wajah menyerengit warga yang baru pertama kali atau sudah lama tidak menulis. Satu hal yang dapat kupastikan dari mereka semua. Mereka bertekad menyelesaikan tulisannya dan semua berhasil. Wajah lega menghiasi kepergian mereka dari workshop AES. Perihal melanjutkan atau tidak bukan jadi soal, mereka berhasil mengalahkan diri mereka sendiri saat itu, saat mereka menuliskan kata pertama pada tulisannya. Terima kasih sudah mencoba π
Mencoba workshop mandala, kali pertama untukku mencoba bermandala. Setelah selesai di hari pertama aku bertekad untuk menggambar sepanjang festival. 5 hari 5 gambar. Apapun idenya akan kujadikan gambar mandalaku. Tidak apa berbeda dari gambar kebanyakan orang walaupun rumput tetangga selalu lebih hijau. Kali ini aku sungguh ingin melihat diri, standar orang bukan standarku. Mari lakukan dengan penuh semangat!
Belum lagi sesi dadakan yang kebetulan mengalir menjadi sebuah cerita refleksi diri dari kak Leo dan kak Mamat benar-benar berkesan mendalam, dibuat diam dan merenung seharian hahaha
Mengisi suara untuk salah satu cerita dalam sesi pojok dongeng juga sesuatu yang tak pernah terpikirkan. Ajakan rekan orang tua lain mendorongku untuk mencobanya. Minggu ini akan kumanfaatkan sebaik-baiknya dalam mencoba berbagai hal baru. Podcast. Akhirnya aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan setelah selesai menulis. Menganggap hal yang baru saja kucoba bukan tempatku. Tapi bisa jadi hanya sebuah prasangka saja karena kecemasan masih mendominasi keadaan. Suatu saat malah perlu mencoba kembali, menghadapinya.
Membantu rekan orang tua mempersiapkan acara puncak, situbuncang. Mengumpulkan buku dari tiap kelas, menginput jumlah buku, menuliskan nama pemilik buku, menyortir buku, aku mencoba hadir melakukannya sendiri. Mencoba hal baru seperti ini terasa asing apalagi saat pelaksanaan, semangat anak-anak yang tinggi terasa mengintimidasi. Mendebarkan melihat anak-anak yang mengantre untuk menukar token dengan buku tetapi kesigapan rekan orang tua lain membuatku lebih tenang. Ketakutanku berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Banyak cerita silih berganti menyapa diri. Terima kasih telah bersedia menceritakan kisahmu saat bertemu denganku.
***
Penghujung hari aku mendapat ide membuat mandala dari gabungan emosiku selama sepekan ini. Aku memilih pulpen biasa. Warna warni emosi sudah menemaniku kemarin. Pada mandala perpisahan akan kubuat sederhana tanpa riuhnya warna. Menjadi diriku yang asli. Persona terdalamku.
Mandala berakhir di garis kedua terluar. Aku berhenti menggores disana. Kurasa aku tahu waktu yang tepat untuk berhenti. Aku masih ingin kosong, Banyak kekosongan berarti baik untukku, aku masih mendapat ruang kosong untuk terus belajar.
Terakhir, menurut cerita yang kudengar mandala belum seutuhnya selesai saat belum melepaskan. Dari cerita tersebut pada awalnya aku berniat untuk membakar mandalaku namun setelah apa yang kurasakan sekarang ide itu menjadi tidak relevan lagi, terlalu agresif. Bergulirlah sekarang pada rencana menyobeknya menjadi suatu fragmen-fragmen kecil. Merelakan hancur.
Tak sampai disitu ide baru muncul untuk menerima. Menerima sesuatu yang hancur, menyusun ulang menjadi sesuatu yang lebih indah. Kesempurnaan bukan suatu keindahan absolut. Hasilnya malah aku mendapat lebih banyak ruang karena menempelkannya disebuah kertas besar. Memperluas wadah tanpa membuang isi. Sampai jumpa tahun depan!
Kintsugi
Embracing your flaws and imperfections
Wah ini dalam sekali. Memperluas wadah tanpa membuang isi! Suka banget kalimat ini.
Gara-gara ditraktir pak Jo kemarin aku jadi sedikit pintar berkata-kata seperti yang nraktir! hahahaha
hahahahahah
Waaah, ini luar biasa... Keren bangeet. Terima kasih Sanya sudah masuk dalam proses dan membagikannya dalam sebuah narasi di AES. Nuhuun pisan. Satu tulisan ini sudah memberi makna yang begitu mendalam untuk proses belajar berliterasi di Semi Palar. Sekali lagi nuhuun. ππΌπ€
Sama2 kak Andy kembali kasih :D
Merinding sekaliiii... tulisan ini bikin aku mikir, melepaskan ternyata bisa membuat kita menjadi lebih kaya. Tanpa mengurangi makna apapun, tetapi kembali dalam bentuk lain dengan pemaknaan yang lebih luas serta dalam.
Makasih tulisannya bu Sanya! Senang bisa bertemu dan berbincang selama sepekan ini. Sebelumnya hanya kenal bu Sanya lewat tulisan.
Kembali kasih bu Bubuy, makasih selalu sabar menghadapi pegawai magang :D
Terima kasih banyak Sanya untuk tulisannya yang bikin mikir dan untuk semua energinya, ajakan workshop AES yang sulit ditolak bukan karena segan tapi karena terlalu sayang untuk dilewatkan.
Kembali kasih bu Amel semoga semangatnya terus mengalir yaaa:D