Hari kemarin, saya mengikuti kegiatan Lingkar Belajar (LB) yaitu pengelolaan emosi kakak. Yang mana, LB tersebut bertujuan untuk belajar dan mengingat kembali bagaimana mengelola emosi saat menjalankan amanah di keseharian, memang bagi kakak fasilitator di Smipa yang memiliki misi tidak hanya transfer ilmu tapi transfer pengalaman hidup, pasti akan bersinggungan dengan ruang-ruang konflik dan emosi, yang mana hal tersebut sangatlah wajar dan fitrah dialami oleh remaja.
Awalnya, kami mencoba memetakan terlebih dulu memetakan fenomena dan penyebab, yang menarik adalah kadang sebagai fasilitator tidak bisa netral dalam memandang situasi, mungkin karena ada masalah, hal-hal yang belum ‘selesai’ ataupun masalah yang dibawa dari rumah. Maka dari itu, penting bagi fasilitator untuk menyadari hal tersebut lalu meminta bantuan kepada partner, KJ maupun SPP. Itulah mengapa di Smipa itu gurunya tidak sendiri, selalu ada support sistem yang mendukung.
Di sesi terakhir, kami melakukan refleksi mendalam masing-masing, mencoba mengukur, senetral apa kita dalam bersikap, lalu mengurai perasaan mulai dari hal-hal yang membuat kesal, sedih dan bingung, serta hal-hal berat yang pernah dialami. Saya di forum itu merasa bersyukur banyak bertemu kakak-kakak hebat yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan asertif. Keren.
Terakhir, kami coba mengecek ke dalam, ke internal tim kami, memastikan apakah ada hal-hal yang membuat tidak nyaman diantara kakak2 sebagai tim jenjang, baik dari sikap, komunikasi maupun hal lainnya. Poinnya adalah bagaimana kita bisa mengelola emosi anak, saat emosi antar kakak berjalan tidak sehat? Sepertinya rutin mengecek, istilahnya melakukan medical check-up, jangan-jangan ada yang tidak beres. Jadi sesi terakhir berubah dan berimprovisasi jadi sesi deep talk, saling curhat dan ujungnya, semoga antar kakak bisa jadi lebih ‘saling mengerti’.
Alhamdulillah, diiringi hujan lebat pertama di bulan oktober, kami menutup sesi dengan sukacita. Kalau di Smipa, tentunya pengelolaan emosi sangat berkaitan dengan pengenalan dan penemuan diri. Mun ceuk Semar Badranaya mah. “Entong waka suka seuri, mun can manggih jati diri” (Jangan bersenang dahulu sebelum menemukan jata diri).
Tulisan yang luar biasa kak Asep. Nuhun pisan. Semoga pengalamannya bermakna. 🙏🏼😊
“Entong waka suka seuri, mun can manggih jati diri” (Jangan bersenang dahulu sebelum menemukan jata diri). Terbaik nih kak Asep. Momennya pas, langsung diendapkan oleh hujan, ya.
Aslina kak, langsung diendapkeun ku hujan