AES 001 Semesta Mendukung
asyillandjani
Saturday February 11 2023, 7:40 PM

Jeda semester 6 menuju 7 perkuliahan membuatku termenung memikirkan, "Semester depan nanti, apa langkah yang mau ku ambil ya?". Awalnya aku sudah memiliki rencana untuk melanjutkan penelitianku di sekolah lamaku. Namun rasa-rasanya lingkungannya masih kurang mendukung. Rasanya aku akan terseok-seok seperti mahasiswa yang kurang support apabila melanjutkan penelitian di sekolah tersebut. Meskipun aku tahu, menyelesaikan sesuatu memang butuh perjuangan, namun tetap saja rasa mengganjal itu membuatku berhenti untuk melanjutkan kerja sama dengan sekolah itu. Dari situ, mulailah aku memikirkan alternatif sekolah lain yang dapat aku prospek.

Nama Semi Palar memang sudah tertanam di kepala ku sejak awal kuliah, "Kayaknya seru punya kesempatan untuk magang di sekolah yang tidak biasa". Padahal sebutan "sekolah tidak biasa" itu setelah kusadari sudah muncul sejak aku SMP. Salah satu teman les ku adalah murid disini yang kata teman-temanku "belajarnya nggak terlalu akademik, santai". Ketidaktahuanku membuatku mulai mencari informasi terkait sekolah ini. Barulah aku tahu kalau sekolah ini sebenarnya memiliki metode Project Based learning di SMP sedangkan SMA nya adalah sekolah informal. 

Tanpa berpikir panjang, aku mencari nomor sekolah ini dan mulai menghubungi kontak admin yang tertera di google. Aku bertanya tentang SMA di sekolah ini, berhubung jenjang yang aku sasar pada objek penelitianku adalah anak SMA. 4 hari setelah aku pertama menghubungi, barulah chat ku di balas. Pada saat itu, aku langsung diarahkan untuk menghubungi dan bertemu dengan Kakak Koordinatornya. Semula aku dikira orangtua murid yang tertarik untuk uji coba anaknya di sekolah ini. Haha, bisa saja. Barulah aku bilang bahwa aku adalah mahasiswa yang mau melakukan penelitian. Kami pun bertemu minggu depannya. 

Senin pun datang, aku bersama teman baikku berkunjung ke sekolah ini pukul 9.15. Sedikit terlambat dari waktu janji kami karena terjebak macetnya perempatan Pasteur. Sesampainya disana, kami langsung menuju LongPus, tempat Kak Leo berada. Ia sedang mengobrol dengan beberapa anak kelas 12, sepertinya asistensi terkait proyeknya. Kami pun diminta menunggu di dekatnya. Duduk di bawah tanpa alas kaki bukanlah suatu kebiasaan kami ketika mengunjungi suatu sekolah. Namun, hal unik ini  sudah membuatku sumringah, membuatku penasaran hal ajaib apa lagi yang akan aku jumpai selanjutnya. 

Setelah Kak Leo selesai mengobrol dengan anak anaknya, kami pun mulai memperkenalkan diri. Perkenalan yang cukup biasa. Beberapa hal seperti keberadaan kampusku di Jakarta dan caraku menemukan Semi Palar cukup membuatnya terkejut. Mungkin pikirnya "kok bisa nyasar kesini yaa.." Kami mengobrol tentang KPB dan kurikulum SMA informalnya. Beberapa hal turut membuat aku dan temanku terperangah karena kami baru menemukan sekolah yang cukup antik seperti ini di Bandung. Konsep "Laku-Ning-Loka" nya KPB pun turut mencuri perhatianku meskipun aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang ia sampaikan.

Kami pun melanjutkan obrolan sambil melihat beberapa kelas dengan judul "observasi". Padahal mungkin lebih tepatnya kepo-kepoan sambil mencari ide untuk mengkonfirmasi, apakah bisa aku melanjutkan penelitian di sini? Kami mengobrol dengan beberapa teman-teman KPB, termasuk kaka-kaka nya. Beberapa dari mereka sedang melakukan refleksi terkait olah rasa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu. Kami ikut menyimak meskipun tidak mengerti apa-apa. Canggung-canggung dikit ngga papa lah ya! Namanya juga orang baru. Beberapa anak KPB lain sedang membahas tentang motor listrik yang sedang mereka rancang untuk salah satu komunitas. Meskipun anak-anaknya sedikit, kesan unik, mendalam, dan free-soulnya sangat terasa pada kami. 

Pada saat itu kami sedikit berdiskusi, "Setelah gue pikir-pikir, kayaknya dulu gue gapernah didorong buat mikirin komunitas atau apa yang terjadi di sekitar gue. Apalagi sampe disuruh presentasi ke kepsek soal ini. Hidup dimana ya gue, sekolah mikirinnya pelajaran mulu." Haha, kami tertawa sambil kembali mengkritik sekolah kami di masa lalu yang mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi kalau direfleksikan kembali, yah aneh juga sih. Maklum, kami baru bertemu yang seperti ini.

Hari itu kami ikut penutupan kelas dan waktu hening menjadi kejutan bagi kami. "Eh bentar, ini kok diem lama? emang diem ya? lagi berdoa kah? atau apa?" Ooh, ternyata ini namanya waktu hening. Pertama kalinya aku diperkenalkan pada meditasi yang dilakukan secara bersama, aku dan temanku merasa aneh sekaligus kagum. Ternyata meskipun canggung, kami mampu mengikuti prosesnya tanpa menimbulkan kegaduhan disana. Alhamdulillah, hari pertama yang sangat mengesankan. 

Minggu depannya, guliran kampusku sudah dimulai yang bisa dibilang sesuai dengan perkiraanku. Ya, aku hanya kuliah hari Senin! Artinya, Selasa sampai Jumat aku bisa kembali ke Bandung untuk magang dan penelitian di sekolah ini. Obrolanku dengan dosenku berjalan dengan mulus, meskipun setelahnya aku kembali berpikir, apa yang akan aku lakukan di sekolah ini dengan penelitianku? Tapi sesuai dengan prinsipku yang tidak boleh "stuck" lama-lama, minggu depannya aku kembali lagi ke sekolah ini untuk mencari kembali apa yang sebaiknya aku lakukan. 

Pada pertemuan kedua aku mengobrol lebih banyak dengan kaka-kaka, yang alhamdulillahnya sangat welcome meskipun baru dua kali bertemu denganku. Akupun disarankan berbagai hal, mulai dari mengajukan proyek matematika hingga mencari kesempatan lain di SMP yang memang menjalankan Project Based Learning secara penuh pada gulirannya. 

Siang itu, ada kunjungan ke SMP untuk sosialisasi KPB. Aku mengikuti beberapa gulirannya meskipun hanya dari pinggir mengamati. Disinilah momen ajaibnya. Tiba-tiba seseorang yang ku kenal lewat jauh didepanku. Beliau adalah Koordinator SMP Semi Palar. Nama beliau memang sudah disebut-sebut sejak aku berada di KPB, namun aku tidak menyangka bahwa beliau adalah orang yang kukenal itu. Hari itu aku tidak berhasil menyapa nya, akhirnya dengan percaya diri aku menyapanya lewat WhatsApp. Alhamdulillah beliau masih mengingatku. Sepertinya obrolan kami berlangsung terakhir 4 tahun lalu, ketika aku menyelesaikan 3 tahun les untuk membimbing masa-masa belajarku ketika SMA. 

Momen itu menjadi lucu, karena dulu beliau adalah salah satu guru yang kerjaannya menghujat (secara konstruktif) sekolahku bersamaku. Yang mungkin tidak secara langsung mengajakku untuk menjadi guru, namun menimbulkan berbagai energi yang mengarah kesana. Beliau pun turut ku ceritakan kemana aku akan melanjutkan kuliah, dan kata-katanya lah yang mendorongku untuk mencari tempat kuliahku sekarang, meskipun itu hanyalah "Jangan sekolah di Univ A, deh!", tempat yang awalnya kuputuskan untuk mendaftar, walaupun sebenarnya ini adalah pilihan terakhirku. 

Kembali ke momen hari ini, Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu kembali dan mengobrol keesokan hari nya. Dua jam setengah habis untuk mengobrolkan banyak hal, mulai dari kuliah dimana sekarang, bagaimana PBL di SMP, sampai sedikit menyerempet ke isu-isu hangat hari ini, yang tidak sempat aku pikirkan lebih dalam sebelumnya. Wajah sumringahku tidak bisa tertahan setiap detiknya. Aku sangat senang namun heran, kok bisa aku sampai sini, ketemu sama beliau, dan mengobrol sejauh ini? Pada waktu yang cukup pas pula. Kebetulan? Atau Betulan? 

Keesokan hari nya aku mengikuti presentasi Pusaka kelas 9 dengan perasaan "merinding" di berbagai momen nya. Hal yang mereka bawa dalam presentasi mungkin sederhana, tapi kesan dan arti yang mereka tunjukkan sangatlah dalam. Aku terharu dengan pembelajaran yang aku lihat hari itu. Bahkan ketika aku SMP dulu, tidak ada guliran sekolah yang bisa membuatku lebih menghargai dari mana aku datang dan pusaka apa yang penting untuk dijaga keluarga ku. 

3 hari di minggu tersebut cukup untukku untuk menentukan langkah apa yang akan ku ambil selanjutnya. Magang di SMP dan melanjutkan penelitian tentang Project Based learning. Meskipun ada sedikit proposal yang perlu ku ubah. Aku dengan semangat dan yakin mengubahkan proposalku agar segera mendapatkan persetujuan dosenku. 

Akhirnya beliau setuju, bahkan bertanya lebih lanjut, "apa sih spesial nya sekolah ini sampai kamu bela-belain stay di Bandung untuk meneliti dan magang disitu?" (terlepas dari karena rumahku memang di Bandung, sih). Berbagai hal turut ku ceritakan, mulai dari lingkungan hingga orang-orangnya. Obrolan kami cukup membuat kilauan di matanya, yang merasa senang dan semakin penasaran dengan sekolah ini. Terlebih karena beliau sebenarnya memang tertarik pada metode pembelajaran PBL. 

Obrolan dengan dosen pembimbingku pun berkembang jadi obrolan di kalangan dosen prodiku. Dimana mereka turut tertarik untuk mengkaji sekolah ini dan ingin saling belajar serta memberi. Diskusi tersebut pun dilanjutkan dengan pihak sekolah beberapa waktu setelahnya, untuk menggali lebih dalam terkait kebutuhan apa yang bisa diberikan para dosenku pada sekolah ini. 

Sampailah kita pada pertemuan kemarin. Para dosenku akhirnya berkunjung ke Semi Palar berbekal informasi tentang kurikulumnya. Mereka datang untuk mengobservasi, bercengkrama, dan mengkonfirmasi beberapa informasi yang sudah mereka olah sebelumnya. Selain itu, mereka pun berbagi mengenai pandangannya tentang kurikulum SMP, yang memang sedang dikembangkan dalam 2 tahun kebelakang oleh Semi Palar. Meskipun aku tidak mengikuti sesi FGD kedua, dimana para dosenku mempresentasikan temuannya dan berbagi tentang kajiannya terkait kurikulum, aku dapat melihat bahwa apa yang dibawakan dosenku menimbulkan percikan dan dorongan baru untuk kelanjutan pengembangan kurikulum SMP. Kakak-kakak yang mengikuti sesi tersebut turut bercerita bahwa hal tersebut memang butuh untuk menjadi perhatian di SMP Semi palar.  

Setelah beberapa momen itu aku lalui, aku sadar ternyata peranku disini tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhanku. Selain untuk magang (yang pada akhirnya aku bekerja disini hehe), ada puzzle piece yang turut aku lengkapi, baik untuk Semi Palar dan untuk para dosen ku. 
Cukup merinding untuk menyadarinya. Ketika, "wah, kamu jadi kuncian yang bermanfaat loh. Padahal yang kamu lakukan awalnya cuman mencari sekolah untuk magang dan penelitian, tapi berkembang jadi manfaat yang jauh lebih besar dari itu." 

Di momen ini aku masih bertanya-tanya, What are the chances? Untuk bisa jadi kuncian bermanfaat, yang berkembang bukan hanya untuk diri sendiri tapi komunitas yang lebih besar. Ternyata hal itu adalah percaya dan mengikuti kata hati. 

Ternyata rencana tuhan memang sebaik itu ya, kalau kita ikuti skenario nya dengan penuh rasa percaya. Mulai dari tempat, orang, hingga waktu dan momen nya. Semuanya ku rasa serba pas. 

Aku percaya kalau kejadian ini bukan hanya bikin melongo diriku sendiri. Aku yakin, beberapa orang yang terlibat di dalamnya merasa, "waah, ternyata ngga sulit ya mencapai titik ini kalau memang tuhan sudah menghendaki". Disitulah istilah "Semesta Mendukung" menjadi relevan untuk kami. Segala kesesuaian, segala keteraturan, dapat terjadi dengan sangat mengalir. Memenuhi kepingan puzzle yang dibutuhkan bukan hanya satu orang, tapi kebutuhan dan kepentingan banyak orang. 

Ah, begini rasanya percaya dengan yang betul-betul memberi. Aku bersyukur.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Waaah senang sekali ada yg berinisiatif menulis di sini. Selamat bergabung kak Asyill. Ditunggu tulisan berikutnya... 🙏🤗
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Mengenai konten, nyambung sama tulisan saya yang ini nih https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/1429/aes043-sinkronisitas
joefelus
@joefelus   3 years ago
Wah... Senang baca tulisan ini. Terima kasih!
matheusaribowo
@matheusaribowo   3 years ago
Keren kak Asyil! Bukan kebetulan, tapi betulan, ya 😃👍 Senang sekali dg diksi keteraturan juga bisa terjadi dg sangat mengalir. Ketika kita percaya. 😊
You May Also Like