AES014 - Tentang Perjalanan Pulang dari Perang Troya
Athaillah Alfie
Monday August 10 2026, 5:00 PM
AES014 - Tentang Perjalanan Pulang dari Perang Troya

Akhirnya aku nonton di bioskop lagi. Kali ini nontonnya IMAX karena Christopher Nolan bilang bahwa dia bikin film ini untuk ditonton di IMAX. Beliau juga shooting film ini menggunakan kamera IMAX 70mm seberat 136kg demi mendapatkan kualitas gambar, kejernihan, dan skala imersif maksimal untuk setiap frame filmnya. Ini juga adalah film Christopher Nolan pertamaku. Langsung nonton film terpanjang keduanya beliau setelah Oppenheimer. Aku menonton film The Odyssey tentunya sebagai orang awam mengenai mitologi Yunani. Ada beberapa hal yang kurang aku mengerti, tapi cukup familiar dengan nama dewa-dewanya. Jadi aku akan mereviu ceritanya berbasis dari film, bukan puisi Homer aslinya.

Di film ini, aku menemukan banyak banget quotes menarik yang sampe bikin aku berkaca-kaca karena pernah relate juga tentang "kondisi" itu. Ada beberapa adegan juga yang mengingatkan aku kepada hal-hal yang ada di Al-Quran. Gatau sih, itu bener atau ngga. Bisa jadi itu cocoklogi aku aja, mungkin kebetulan, atau aku menyalahartikan? Mungkin aja.. Oh ya, mungkin tulisan ini akan sedikit spoiler. Jadi, mau dibaca ampe beres boleh, nonton filmnya dulu baru baca ini boleh, selesai baca di sini juga boleh.. Bebas lah. Kontrolnya ada di kamu.

Ceritanya tentang perjalanan pulang Odysseus yang sangat panjang dari Perang Troya. Konflik terbesar pada masanya, yang memakan waktu 10 tahun untuk merebut kembali Helen of Troy yang diculik oleh Prince Paris dari Menelaus.

Cerita bermula dari Thelemachus (anak Odysseus) yang sedang menyusuri bangunan-bangunan Ithaca bersama Eumeus (seorang pengembala babi) yang sangat setia kepada Odysseus. Quote pertama yang kudapat dari Eumeus adalah tentang pemaknaan suatu benda atau hal. Ia mengatakan bahwa Istana sebesar Ithaca yang semegah ini tidak akan ada artinya jika orang-orang tidak memaknai bangunan ini dan tidak menghormati orang-orang yang membangunnya. Ketika orang-orang sudah tidak lagi memaknai bangunan dan kota Ithaca ini, Istana akan hanya jadi bangunan batu tua, dan Ithaca hanya akan jadi sebuah kota.

Singkatnya, Thelemachus memiliki sebuah pertanyaan. Di mana ayahnya? Apakah dia masih hidup? Kemana saja beliau selama kurang-lebih 18 tahun ini? Singkatnya, adegan tiba-tiba flashback ke waktu sebelum Odysseus berangkat perang. Odysseus bilang kepada Penelope (istri Odysseus) bahwa jika nanti Odysseus belum pulang dari peperangan dan Telemachus sudah menikah, maka Penelope perlu menikah lagi dengan orang lain sebagai pengorbanan.

Setelah itu, adegan berubah waktu lagi. Kali ini berpindah ke sudut pandang Odysseus. Ia masih hidup, berada di dalam sebuah goa hangat. Ia mengingat sesuatu. Ia bermimpi bahwa ia berada di dalam tempat gelap dan sempit. Ia mengingat bahwa ia memenangkan perang Troya. Tapi, sekarang ia sedang bersama seorang wanita bernama Calypso yang sering memberinya bunga Lotus untuk dimakan.

Singkat cerita, perjalanan pulang pun dimulai. Setelah cerita tentang peperangan Troya dan Kuda Kayunya, Odysseus berlayar ke sebuah pulau. Ia mampir ke pulau itu untuk menyetok bahan-bahan makanannya dari hal-hal yang ia temuinya di pulau itu. Saat sampai, ia menemukan seekor domba yang memanjat ke atas bukit, ke dalam goa. Saat di dalam goa, ternyata goa itu adalah tempat tinggal seorang Cyclops Raksasa bermata satu yang mengingatkanku kepada Dajjal. Ia tinggal di goa yang sangat terpencil, seorang pengembala domba, dan bermata satu. Odysseus dan awaknya membutakan Cyclops Polyphemus di dalam gua lalu kabur di bawah kawanan dombanya. Namun Odysseus justru memperburuk keadaan dengan menembakkan panah mengejek ke goa, membuat Polyphemus berdoa pada Bapak Poseidon untuk membalas dendam dan mengutuk Odysseus dan awak kapalnya.

Setelah mereka berhasil kabur dari Cyclops, Odysseus dan awaknya mulai berlayar lagi. Setelah mereka terombang-ambing di samudera, Eurylochus (orang kepercayaan kedua Odysseus). menemukan daratan lagi. Kali ini pulaunya terlihat damai, tentram, dan dingin. Seperti tidak akan ada yang menghentikan mereka. Tapi mereka tetap menghormati tempat ini. Mereka tetap berjaga-jaga dan siaga. Mereka sudah lapar, dan mereka menemukan seorang berzirah besi di kejauhan yang sedang berjongkok di tanah. Odysseus dan Eurylochus mendekatinya. Ia terlihat seperti orang dewasa biasa. Ketika Odysseus menegurnya, seorang itu berdiri. Tingginya hampir melebihi Odysseus. Ketika ia berbalik badan, ternyata mukanya seperti anak kecil. Eurylochus bertanya "Apakah ada makanan di sini?" kepadanya. Anak itu bingung dan berteriak.

"Kalo itu masih anak, yang dewasa berarti segede apaan bang?" Celetuk Eurylochus kepada Odyssey. Mereka pun menenangkan anak itu, dan gagal. Tak lama kemudian, orang-orang dewasanya mulai muncul. Mereka sangat besar, bersirah baja mengkilap, tinggi, dengan muka yang tertutupi helm perang dengan pedang yang cukup besar untuk membanting awak kapal Odysseus ke pohon terdekat. Mereka semua lari ketakutan. Ternyata ini adalah pesisir Laestrygonian yang dihuni oleh raksasa kanibal. Di sini, raksasa-raksasa tersebut menghancurkan salah satu kapal Odysseus dan membantai puluhan awak kapalnya. Mereka pun kabur dengan jumlah awak yang jauh lebih sedikit karena Odysseus kehilangan mereka di pulau ini.

Mereka pun berlayar lagi setelah melihat pembantaian awak kapal yang pada akhirnya tidak dikubur secara hormat di tempat. Odysseus sadar dengan perbuatannya. Ia salah, dan memiliki kemungkinan akan dikutuk oleh awaknya yang sudah meninggal. Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah pulau lagi. Setelah rentetan bencana sebelumnya, muncul ketegangan internal yang hampir memicu pemberontakan di antara awak kapal. Dari sinilah awal mula terpisahnya awak kapal dan Odysseus di Aeaea. Selagi Odysseus terpisah dan berburu sendiri, sisa krunya yang kelaparan justru tergoda oleh jamuan makan yang disiapkan Circe di Aeaea, yang ternyata dibubuhi obat/racun sihir. Satu per satu mereka berubah menjadi babi, tak berdaya di bawah kendali sihir sang penyihir. Ini yang membuat aku terpikir hal dari Al-Quran. Katanya manusia mirip seperti babi. Greedy dan rakus. Tak lama kemudian, Odysseus datang ke rumah Circe. Ia tahu sesuatu, ia merasakan bahwa awaknya ada di rumah ini. Hanya dengan bentuk yang tidak biasa. Ia bernegosiasi dengan Circe. Singkat cerita, Circe pun mengembalikan wujud asli awaknya. Odysseus juga meminta petunjuk kepada Circe untuk pulang. Kata Circe, mereka perlu pergi ke arah sungai es, dan bertemu dengan "The Underworlds", menggali lubang, dan menuangkan darah kurban untuk diminum oleh para "dunia bawah".

Saat sampai di pantai dekat sungai es, mereka langsung bersiap. Menggali lubang, menaruh perisai di lubang tersebut, dan menyembelih domba lalu menuangkan darahnya di perisai itu. Seketika para dunia bawah mulai menggali ke atas. Satu-per satu bermunculan. Di dunia bawah, arwah Agamemnon menceritakan pembunuhan dirinya oleh istrinya sendiri, Clytemnestra. Sebuah pratinjau suram soal kepulangan yang berujung petaka. Sementara nabi buta Tiresias memperingatkan bahwa murka Poseidon akan terus mengejar mereka dan mereka tak boleh menyentuh sapi suci di Thrinacia. Sinon menjadi arwah pertama yang muncul di hadapan Odysseus di dunia bawah, dan ia langsung mempertanyakan mengapa Odysseus berbohong padanya dan meninggalkannya mati begitu saja di pantai. Ia bangkit dari tanah dengan wajah berlumur pasir hitam dan darah, meratapi pengkhianatan yang mengubah kata-katanya sendiri menjadi senjata pembantaian. Di adegan Sinon ini, aku kepikiran soal Padang Masyar dari Al-Quran. Di mana semua orang dibangkitkan, dan "mengeluhkan kesahnya" kepada orang yang ia kesali. Seperti Sinon yang mati dalam keadaan marah kepada Odysseus, sehingga ia menuntun keadilan kepada Odysseus sebagai arwah.

Setelah itu, mereka langsung melanjutkan perjalanannya dari sana. Tapi sesuai rutenya, mereka harus melewati para Siren, Scylla, dan pusaran air besar yang dinamakan Charybdis. Kali ini, mereka akan melewati para Siren terlebih dahulu. Mengetahui bahaya di depan, Odysseus memerintahkan awaknya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin lebah dan mengikat dirinya sendiri erat-erat ke tiang kapal. Ia melakukan ini karena ingin menjadi orang pertama yang mendengar nyanyian para Siren dan tetap hidup. Jadi ini keputusan sadar dan disengaja, bukan kecelakaan. Ia juga memerintahkan awaknya untuk tidak melepaskannya apa pun yang terjadi, sekeras apa pun ia memohon, menjerit, atau mengancam mereka, sampai bahaya benar-benar berlalu. Setelah aman, Eurylochus bertanya kepada Odyssey tentang suara nyanyian Siren itu. Bagaimana rasanya? Mengapa nyanyiannya sangat menarik jiwa dan raga untuk mendekat ke laut dan menjadi "makanan mudah" bagi para Siren? Jawabannya sangat menarik dan mendalam.

"Rasanya seperti gatal yang nikmat yang ingin kamu garuk, tapi ternyata ada di bawah kulit, tak terjangkau. Jadi, gatal yang nikmat itu berubah jadi tak tertahankan. Ia memberitahumu bahwa apa yang paling kamu inginkan... adalah apa yang paling tak bisa kamu miliki." Sehingga kamu tertarik dengan para Siren itu. Mengejar hal-hal yang kamu inginkan itu. Menggaruk gatal yang tidak bisa dijangkau. Dengan cara melompat dari kapal, dan mengejar para Siren.

Mereka berhasil melewati para Siren, namun Scylla (monster laut) menyambar 6 awak, dan ketika angin mati membuat mereka terdampar kelaparan di Thrinacia, para awak melanggar sumpah dan menyembelih sapi suci. Hanya Odysseus yang menahan diri. Saat mereka berlayar lagi, badai dahsyat menghancurkan kapal dan menenggelamkan seluruh awak. Hukum Zeus yang dilanggar akan memberikan konsekuensi yang berat. Odysseus merasa sebal, kesal, dan marah kepada awaknya, karena ia sudah mengingatkan mereka sebelumnya untuk tidak menyentuh sapi suci. Hanya makan buah, sayur, lalu pergi. Ia merasa dikhianati dan kecewa atas perbuatan awak kapalnya.

Odysseus pun terdampar di Ogygia sendiri. Di mana bunga lotus mengaburkan rasa waktunya hingga bertahun-tahun berlalu bersama Calypso. Hingga akhirnya sang nymph melepaskannya dengan syarat ia menyerahkan diri pada Poseidon dan membiarkan laut menentukan nasibnya. Tanpa Odysseus ketahui, ternyata ia sudah menghabiskan waktu 7 tahun bersama Calypso. Mengapa bisa? Karena ia memakan bunga lotus. Bunga yang mengaburkan ingatannya, membuatnya nyaman. Calypso memberinya makanan, minuman, kenyamanan, dan cinta.

Poin yang didapat adalah: Dari semua monster dan penyihir yang Odysseus lawan, musuh terbesarnya hanya satu. Kenyamanan. Perang Troya membuatnya bergerak dan kabur, bertemu dengan Cyclops raksasa membuatnya bergerak dan kabur, Laestrygonian membuatnya bergerak dan kabur, Circe juga, Dunia Bawah juga, Siren, Carybdis, Scylla. Semuanya membuat Odysseus bergerak dan kabur. Tapi kenyamanan? Tidak! Berada di zona nyaman tidak akan membuatmu berkembang. Kenyamanan adalah musuh terbesar kita semua. Calypso lah yang membuat Odysseus terjebak di "perjalanan" pulangnya menuju Ithaca. Odysseus merasa nyaman selama 7 tahun. Dan itu adalah waktu yang sangat lama.

Itulah "resensi" yang malah jadi spoiler hampir seluruh film dari aku. Ada yang udah nonton juga? Diskusi di kolom komentar yuuk! Salam Pipiw!

Andy Sutioso
@kak-andy   12 hours ago
Keren... Kak Andy juga baru nonton ini... Yg paling berkesan pada saat perjalanan 'pulang' Odysseus yang memaksanya ia 'melepaskan' segala sesuatunya. Memegangkan diri pada keikhlasan akan hidupnya... Lautan seakan menenggelamkannya tapi akhirnya membawanya pulang...
Filem yang keren banget ya Alphie. Terima kasih tulisannya πŸ‘πŸΌπŸŒΏπŸ˜€.