AES14

(foto dari PPT pada saat kelas semesta.)
Sebagai pembuka, pernahkah kalian berpikir dan bertanya-tanya “kok bisa gitu”, “kok kepikiran gitu”. Well itu semua berawal dari ide ide liar yang tidak takut salah. Namun ide ide tersebut pasti dibuat untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana cara mencari penyelesaian masalah? Simple, dengan cara design thinking. Apa itu design thinking?
Sebelum mulai ketopik utama aku akan sedikit cerita bagaimana kesan pesan dari kelas semesta hari ini. Kelas Semesta pertama di Semester ini, bertema tentang design thinking. Kesan kesan ku pada saat mengikuti kelas semesta kali ini cukup senang, dan cukup mudah untuk dipahami materinya. Salah satu faktor mudah dipahami adalah karena narasumber yang cukup friendly dan power point yang cukup menarik. Kelas semesta yang mencoba untuk membangun interaksi ini yang membuat kita lebih tertarik dan terasa lebih santai dibandingkan kelas semesta yang terlalu formal. Langsung aja ke topiknya, Apa itu design thinking? Design thinking adalah cara kita menjawab sesuatu atau suatu permasalahan, yang dimulai dengan membedah akar-akar permasalahannya, dan menarik ulur awal mula masalahnya sendiri. Design thinking ini juga bisa dibilang, merupakan salah satu metode untuk seseorang membuat ide ide yang bisa jadi inovatif. Pada Kelas semesta design thinking ini, narasumber kami adalah Kak Mita. Design Thinking ini pernah dilakukan oleh kelompok gobak sodor pada saat K9, pada saat proyek inovasi, oleh karena itu aku tidak merasa terlalu asing pada saat dijelaskan tadi siang. Pada awal presentasinya, Kak Mita membacakan beberapa peraturan basic, lalu lanjut dan menceritakan dan menjelaskan apa itu revolusi industri. Revolusi industri sendiri adalah suatu inovasi yang membawa perubahan besar pada masyarakat, pada setiap zamannya. Misalnya: mesin uap, telepon, komputer, dan Internet. Karena masa kini semua sudah maju bahkan hampir semua hal sudah berkembang dalam sisi teknologi.
Jadi cara membuat design thinking gimana sih? Pertama kita harus bisa tarik ulur, untuk mencari akar permasalahannya. Setelah itu kita akan brainstorming, namun brainstorming ini juga ada aturannya. Pada saat proses mengumpulkan ide kita tidak boleh menghakimi ide sendiri, seperti contohnya “Duh kayaknya gak nyambung deh, gak jadi ah” Namun boleh nya nambahin ide. Ide nya harus gimana sih? Aneh, gila, itu semua gapapa tuangin aja selama masih kontekstual pada akar permasalahan. Mungkin biar kebayang bisa digambarin, atau bahkan lebih baik di praktekin, dan aturan yang terakhir adalah beri ide sebanyak-banyaknya. Namun pada akhirnya kita filter lagi dari sekian banyak ide solusi yang telah kita kumpulkan.
Setelah mendapatkan beberapa ide tersebut kita harus mencobanya, dengan membuat prototipe. Prototipe itu harus bisa menjawab ini: orang orang mau pake solusi ini ak sih?, orang orang mau beli solusi ini gak sih?, apakah orang orang akan lebih pilih solusi ini dibandingkan solusi lainnya?, orang paham gak sih cara kerja nya prototipe ini? Hal itu bisa terjawab dengan menggunakan survei atau pun wawancara secara langsung. Yap setelah test itu pastinya harus dicatat, Sebelum itu kita harus punya yang namanya parameter kesuksesan. Pada saat kita mencoba ngetes prototipe kita jangan terlalu defensif dan memberi alasan2 yang kesannya defensif, ada baiknya kita dengar dulu mentah-mentah.
Feedback apa saja sih yang di perlukan? Feedback itu banyak ada yang “apa saja yang sudah berjalan dengan baik/buruk”, “apa saja yang bisa ditingkatkan”. Dari feedback itu kita harus bisa kembangkan ide ide gila lagi hingga akhirnya bisa dibilang sukses :D