Di era digital ini, smartphone telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kemudahan akses informasi dan komunikasi yang ditawarkannya membawa banyak manfaat, termasuk bagi para penjual kaki lima yang kini terhubung dengan dunia digital. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat dampak negatif yang perlu diwaspadai, yaitu berkurangnya interaksi antara penjual dan pembeli.
Fenomena ini terlihat jelas pada para penjual kaki lima yang sibuk dengan ponselnya, mengabaikan pelanggan yang ingin membeli. Hal ini tentu saja menimbulkan rasa kecewa dan ketidaknyamanan bagi pembeli. Mereka merasa tak dihargai dan tak mendapatkan pelayanan yang optimal. Dampak negatif ini tak hanya merugikan pembeli, tetapi juga penjual itu sendiri.
Interaksi yang baik dengan pelanggan adalah kunci utama kesuksesan bisnis. Ketika penjual sibuk dengan ponselnya, mereka kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan dengan pelanggan, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan pelayanan yang personal. Hal ini dapat menyebabkan pelanggan merasa kecewa dan enggan untuk kembali membeli.
Terdapat dua pihak perlu membenahi dan sadar akan pentingnya interaksi sebagai makhluk sosial. penjual sebagai yang menyediakan barang harus menyadari pentingnya interaksi langsung dengan pembeli. Mereka perlu memahami bahwa pengalaman berbelanja yang menyenangkan akan meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Penjual bisa membatasi penggunaan telefon genggam hanya untuk keperluan yang sangat mendesak.
Kedua, pembeli juga memiliki peran dalam mengubah perilaku penjual. Dengan mengajak berbicara langsung kepada penjual yang terlalu sering menggunakan telefon genggam, ataupun pembeli dapat membantu penjual memahami dampak perilaku mereka terhadap kepuasan pelanggan. Kita tidak bisa menyalahkan penjual sepenuhnya atas berkurangnya interaksi dengan pembeli, banyak hal yang membuat mereka jarang berbicara. Faktor relasi jadi salah satu alasannya, ambil contoh penjual di desa dan penjual di kota. Di desa, penjual dan pembeli sering kali saling mengenal satu sama lain karena komunitas yang lebih kecil dan lebih erat. Hubungan sosial yang lebih kuat ini mendorong interaksi yang lebih personal dan ramah. Sebaliknya, di kota, interaksi cenderung lebih impersonal karena populasi yang lebih besar dan mobilitas yang tinggi, sehingga hubungan antara penjual dan pembeli tidak seakrab di desa.
Selain faktor diatas, hiburan digital seperti video, permainan, dan berita online juga menjadi penyebab penjual teralihkan perhatiannya. Dalam waktu luang atau ketika tidak ada pembeli, penjual cenderung mencari hiburan melalui telefon genggam mereka. Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, penting untuk menjaga keseimbangan agar interaksi sosial tetap menjadi bagian integral dari pengalaman berbelanja. Dengan kerjasama dan kesadaran dari semua pihak yang terlibat, kualitas interaksi antara penjual dan pembeli dapat ditingkatkan, menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih menyenangkan dan memuaskan