Ceritanya saya ingin “ngadem” mencari tempat yang teduh dan sejuk untuk sedikit melepaskan diri dari kesibukan di rumah. Sebetulnya di rumah saja juga bisa karena saya sekarang memiliki kamar yang menggunakan AC, tapi tidak ada salahnya untuk sementara waktu mencari tempat yang lain supaya ada variasi. Kebetulan ada seorang sahabat yang mengajakl saya ke Nuart. Seingat saya tempat ini selain juga sangat artistic karena milik salah seorang seniman yang luar biasa, juga memiliki banyak pepohonan dan udara yang segar. Saya setuju untuk menghabiskan waktu sepanjang hari di situ.
Saya duduk di sebuah kedai kecil dan menikmati es kopi susu gula aren, yang menjadi salah satu minuman kegemaran saya yang baru. Setidak-tidaknya racikan kopi ini ada nuansa lokalnya, yaitu menggunakan gula aren, walau saya minta gulanya dipisah karena saya juga sedang berusaha mngurangi konsumsi gula. Lokasi yang dipenuhi dengan karya-karya seni ini memang menjanjikan karena dikelilingi banyak sekali pohon-pohon besar. Saya jadi sangat bersemangat dan berharap dapat mencetuskan sebuah tulisan yang baik. Ternyata tidak.
Walaupun dikelilingi banyak pohon, tubuh saya masih terus meronta-ronta karena masih terhitung panas dan dengan Tingkat kelembaban yang lumayan tinggi. Saya terus menerus berkeringat dan tubuh saya menjadi lengket. Saya sama sekali tidak bisa diam merenung karena terkendala suhu dan cuaca yang bagi tubuh saya masih kurang bersahabat.
Sebetulnya jika ada angin akan dapat membantu, tapi hari ini menurut aplikasi cuaca angin hanya mencapai 6km/jam. Jadi hampir tidak terasa, sehingga rasa panas membuat tubuh saya tidak berhenti berkeringat hingga akhirnya sakit kepala. Dalam kondisi semacam ini jangankan merenung, berpikir saja sangat sulit karena tubuh merasa sangat tidak nyaman.
Kapan saya akan dapat terbiasa? Hmm.. entah lah. Saya sungguh tidak tahu dan belum pernah memikirkan ini. Dulu saya lakukan saja dan sama sekali saya tidak ingat berapa lama hingga saya menjadi terbiasa. Anehnya kali ini saya sungguh menginginkan proses penyesuaian diri ini segera berakhir. Saya ingin juga bisa seperti mbak yang duduk di meja sebelah yang mengenakan sweater hahaha.. Bukan karena saya ingin mengenakan sweater tapi saya ingin segera bisa mentolerir kondisi cuaca seperti ini. Sebetulnya apa sih susahnya menghadapi suhu 32 derajat Celsius? Selama ini saya dapat bertahan dengan suhu di atas 40 derajat! Tapi memang faktor kelembaban yang membuat saya menyerah. Yang saya dapat lakukan sambil menunggu waktu pulang adalah menyeka wajah saya dengan air dingin yang segar berkali-kali. Ini salah satu cara menghadapi kelelmbaban, tapi itupun tidak bertahan lama. Pakaian yang saya kenakan sudah mulai menjadi lembab sebatas leher karena saya gunakan untuk mengeringkan wajah sesudah diseka. Tak apa, ini merupakan bagian dari petualangan. Nanrti begitu tiba di rumah saya akan menyegarkan diri dan mungkin makan Tylenol jika sakit kepala ini tidak kunjung hilang.
Foto credit: atourin.com