Ini sebetulnya saya tulis 2 tahun yang lalu di akhir bulan Nopember menjelang thanksgiving sebelum Covid 19 merajalela. Karena hari ini saya begitu lelah dan tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk mengumpulkan ide menulis, jadi saya titip ini saja:
"How are you doing? can I have double Maker's Mark on the rock, please?" tanya saya sambil memberikan ID dan kartu kredit yang tadi aku pegang.
"Absolutely!" jawab bartender sesudah melihat kartu pengenal saya lalu menaruh sehelai bar napkin dihadapan saya lalu berbalik meraih gelas diisi es batu dan menjangkau sebuah botol di rak minuman.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Club ini tidak terlihat banyak pengunjung, mungkin karena di luar sudah mulai turun salju yang katanya akan menjadi badai salju terburuk di musim gugur ini. Diperkirakan salju akan menumpuk hingga diatas 60 cm.
Liburan pendek yang istri saya rencanakan hampir batal karena salah melihat jadwal. Kano ternyata belum libur. Hotel sudah dipesan jauh-jauh hari dan tidak dapat dibatalkan. Memang kota yang kami tuju hanya 1.5 jam perjalanan jauhnya, tapi meninggalkan Kano sendirian di rumah, karena dia menolak untuk pergi bersama kami dan lebih memilih tinggal sendiri di rumah dengan game kesayangannya, bukanlah perkara mudah karena banyak pertimbangan yang harus kami pikirkan saat meninggalkan si gondrong ini sendirian karena faktor keamanan dan masalah aturan. Saya harus yakin juga secara hukum bahwa meninggalkan anak seorang diri pada usia tertentu tidak melanggar aturan, sebab kalau terjadi sesuatu bisa berabe. Memang ini bisa menjadi sesuatu yang baik juga untuk mengajarkan kemandirian dalam mengurus diri sendiri. Saya hanya menyiapkan makanan dan aku mengijinkan dia menggunakan air fryer untuk menggoreng french fries dan fish sticks misalnya. Saya juga menyiapkan makanan yang kemudian dapat dihangatkan dengan microwave.
"Do you want to keep the tab open?" Tanya Bartender tadi sambil memberikan segelas minuman yang saya pesan tadi.
"Yes, please. Thank you!" jawab saya sambil berjalan ke sudut dekat panggung dimana pemain musik jazz akan beraksi beberapa menit lagi.
Tadi pagi akhirnya kami mengantar K ke sekolah. Siangnya dia akan pulang sendiri karena sesudah mengantar kami langsung berangkat ke Denver. Agak terasa aneh juga berpergian berdua lagi karena selama ini bila ke luar kota kami selalu bertiga. Sesudah jadi remaja, anak saya mulai punya kesibukan sendiri.
Perjalanan ke Denver sangat lancar, walau kami mulai kelaparan karena tadi tidak sarapan. Rencananya kami akan brunch di Denver makan dim sum di restoran yang sudah agak lama tidak kami kunjungi.
Tujuan kami ke Denver sebetulnya hanya sekedar melepas lelah dan menjauhkan diri dari rutinitas. Saya sengaja mengambil libur menjelang hari raya Thanksgiving. Kampus tutup, para mahasiswa mudik dan tidak banyak kegiatan yang bisa saya kerjakan, nah kesempatan ini saya ambil untuk libur. Istri saya memang sudah merencanakan jauh jauh hari untuk bersantai menikmati street art. Ada 1 kompleks yang dinding-dindingnya penuh dengan lukisan. Dulunya daerah sini adalah daerah industri yang penuh pabrik, lalu kemudian bangkrut dan terbengkalai. Entah siapa pencetusnya, daerah itu dihidupkan kembali dengan membangun restoran-restoran lalu para seniman menyumbangkan karyanya dengan melukis dinding-dinding bangunan sehingga lokasi ini menjadi hidup kembali dan dijadikan salah satu tempat wisata, kuliner dan hiburan.



Flurries mulai turun, tidak terasa kami sudah cukup lama berjalan keliling-keliling menikmati karya-karya para seniman yang unik. Kami juga menyempatkan diri mampir sebentar untuk minum kopi di salah satu kedai yang katanya sangat terkenal karena udara mulai sangat dingin. Dari media sosial kami mengetahui bahwa Fort Collins sudah diguyur salju sangat lebat. Saya agak khawatir karena Kano harus pulang sendiri dari sekolah dengan berjalan kaki, jadi saya berusaha kontak dia. Ternyata dia pulang ikut mobil temannya yang tinggal satu kompleks dengan kami, jadi kekhawatiran saya ternyata tidak beralasan.
"Kamu mau minum apa?" tanya saya pada Nina.
"Ga tau, enaknya apa ya? Wine kali." jawabnya.
"Red or white?"
"Red."
Saya kembali berjalan ke bar dan memesan minuman untuk Nina. Malam ini kulihat hanya ada 2 pemain musik. Seseorang dengan memakai topi Fedora berwarna hitam menyiapkan organ dan seorang lainnya mengambil kursi dan membuka tas bawaannya serta mengeluarkan clarinet dan saxophone. Ini menarik pikir saya karena belum pernah menikmati seseorang bermain jazz dengan organ. Organnya malah terlihat kuno, dengan pedal-pedal bass di bagian bawah, persis seperti organ-organ yang ada di gereja. Saya sebetulnya jauh lebih mencintai permainan jazz dengan piano, tapi apa boleh buat, hari Senin malam tidak banyak jazz club yang buka, bahkan yang sebenarnya ingin kami datangi justru tutup setiap hari Senin.
Entah karena hari Senin atau karena di luar sudah turun salju maka di club ini tidak banyak pengunjungnya. Ada sekelompok orang mondar mandir membawa balon dan kue, sepertinya akan ada pesta ulang tahun atau apa. Tapi tetap saja kurang dari 10 orang yang ada di sini. Pemusik Jazz pun mulai memainkan lagu-lagunya. Warna musik jazz yang agak unik dan sepertinya belum pernah saya nikmati sebelumnya. Saya sungguh bingung ini jenis jazz apa. Selama ini saya selalu menikmati yang mainstream, bossa nova, cool jazz, smooth jazz dan sebagainya. Tapi yang ini walaupun enak untuk dinikmati tapi ada sesuatu yang tidak biasa. Mungkin karena selama ini belum pernah mendengar jazz menggunakan alat musik organ.

Sore tadi kami menyempatkan diri mengunjungi Chriskindl Market, semacam pasar malam yang hanya diadakan menjelang liburan Thanksgiving hingga menjelang Natal. Sayangnya ketika kami tiba di sana hujan es turun lumayan deras sehingga tempat ini sepi dari pengunjung bahkan banyak kios-kios yang tutup. Pasar ini sebetulnya seperti bazaar tapi ala bavarian karena yang disajikan adalah makanan minuman, karya seni serta pertunjukan yang berbau Jerman. Kalau mau mencoba Spiced Wine yang namanya Glühwein atau bir yang disebut bavarian bier, Pretzels, keju dan sosis Jerman silahkan mampir ke sini. Kami juga menemukan sebuah toko buku retro. Saya sebut retro karena ketika saya masuk ke toko ini seperti berada di dalam perpustakaan kuno dari generasi sebelum saya lahir. Lantai dan pintu serta rak-rak bukunya dari kayu tua, bahkan baunya pun seperti bau di jaman dahulu, namanya Tattered Cover Bookstore. Sudah menjadi kebiasaan saya jika mengunjungi sesuatu tempat, saya mampir untuk membeli sebuah buku. Di kemudian hari ketika saya membaca ulang buku itu, saya akan merasa seperti memegang sebuah bukti sejarah dari suatu persitiwa yang pernah aku alami. Misalnya 20 tahun yang lalu aku membeli sebuah buku di kota New York yang hingga sekarang buku itu menjadi salah satu favorit saya yang sudah dibaca berulang-ulang, Tuesdays with Morrie karangan Mitch Albom. Di setiap buku yang saya beli, selalu ada goreskan tanggal dan tempat dimana memperoleh buku itu. Nah kebetulan sekali di toko ini saya menemukan sebuah buku kesekian dari pengarang yang sama. Ketika menuliskan tanggal dan tempat, saya merasa seolah-olah memahat huruf-huruf di sebuah prasasti yang kemudian akan dilestarikan untuk dijadikan sebuah bukti sejarah yang nanti akan saya lihat kembali di masa yang lain.
Hari semakin malam, musik terus mengalun diiringi tepuk tangan ala kadarnya di akhir setiap lagu karena setelah hampir 1 jam belum ada juga pengunjung lain yang masuk, bahkan kelompok yang sudah ada ketika kami masuk club ini sibuk ngobrol sendiri dan tidak peduli dengan penampilan duet pemusik jazz unik ini. Kasihan juga sebetulnya karena hanya saya dan istri saja yang seringkali bertepuk tangan. Pemain jazz yang ada didepan kami akhirnya beristirahat sebelum sesi kedua dimulai lagi. Musiknya lumayan menyenangkan, tapi kami sebetulnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Setelah berpergian ke berbagai tempat dan menikmati banyak pertunjukan jazz, yang ini sama sekali tidak spesial. Tidak perlu dibandingkan dengan para pemain kala kami di Chicago atau yang rutin kami nikmati di Honolulu. Ini hanya sekedar biasa saja. Kami memutuskan untuk pulang karena harus segera beristirahat dan besok siang harus mengemudi pulang ke Fort Collins.
Di luar ternyata sangat berkabut dan warna putih di mana-mana. Hampir tidak ada kendaraan atau manusia yang berlalu-lalang, hanya kami berdua! Mungkin tidak ada yang sesinting kami untuk keluar rumah ditengah badai salju. Udara memang sangat dingin, tapi karena mood kami sedang baik sesudah bersantai menikmati jazz dan minuman hangat, badai salju hanya seperti bumbu dari keseruan sepanjang hari ini. Kami berjalan pelan-pelan sambil ngobrol menuju hotel yang letaknya beberapa blok dari club tadi. Jalan raya sangat sepi, semuanya tertutup salju yang semakin lama semakin tebal. Agak aneh juga melihat ibu kota Colorado yang hampir tidak terlihat bentuk kehidupan sebab hampir semua orang diam di dalam rumah. Kami saja yang mungkin dianggap gila, berjalan kaki hampir tengah malam dalam guyuran salju yang semakin lama semakin deras. Namun itu semua tidak menghapus kegembiraan kami, apalah artinya guyuran salju dibandingkan perasaan senang tidak harus bekerja atau bergumul dengan rutinitas? Ini semua adalah bagian dari sebuah petualangan!


Besok masih ada setengah hari untuk petualangan kuliner sebelum kami pulang. Mudah-mudahan salju tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk mengemudi kalau itu terjadi, dan tentu saja sangat berbahaya. Rencananya kami akan ke Central Market di River North District yang kami kunjungi tadi siang. Di sana banyak disajikan Gourmet food dari local vendors yang menyajikan berbagai variasi makanan yang sangat bermutu dari sandiwich, pizza, seafood bahkan produk daging segar. Belum lagi bakery di sana menyajikan berbagai jenis sajian yang fresh from the oven. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku membanjir ha ha ha ***