Aku jarang sekali menulis tentang hal-hal seperti ini. Bukan karena nggak peduli, tapi karena sering kali merasa βAh, suara aku kecil bisa apa?β Tapi kemarin, hati aku tergerak saat lihat teman-teman dari Wamena, Papua berorasi. Mereka menolak makanan gratis dan meminta pendidikan gratis. Itu bikin aku berhenti sejenak dan berpikir, di saat banyak orang sibuk berdebat hal-hal yang kadang terasa remeh ada sekelompok anak muda di ujung timur Indonesia yang memperjuangkan hal paling mendasar: hak untuk belajar.
Seberapa banyak orang yang sadar kalau pendidikan itu bukan sekadar hak, tapi fondasi masa depan. Makanan gratis memang penting, tapi pendidikan? Itu bekal hidup. Makanan bisa habis dalam sehari, tapi ilmu? Itu bertahan seumur hidup. Pendidikan menurutku adalah fondasi utama sebuah bangsa. Bayangin aja, di Jawa, sekolah-sekolah sudah maju dengan fasilitas lengkap, akses internet cepat, dan guru-guru yang terlatih. Tapi di Papua, cerita itu beda jauh. Di sana, pendidikan masih terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.
Aku bisa bilang begini karena aku pernah merasakan sendiri. Aku pernah sekolah di Papua, lebih tepatnya di Bintuni dan aku tahu persis bagaimana rasanya. Guru-guru yang mengajar kami saat itu bahkan ada yang tidak digaji. Bayangkan mereka datang mengajar, membagi ilmu tapi hak mereka sebagai pengajar tidak terpenuhi. Aku ingat wajah-wajah lelah mereka, tapi tetap tersenyum di depan kelas. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena mereka tahu "kalau bukan mereka, siapa lagi?". Tapi seberapa lama kita bisa berharap pada orang-orang baik hati tanpa sistem yang mendukung?.
Padahal anak-anak Papua berhak punya mimpi setinggi anak-anak di kota besar. Mereka berhak punya kesempatan yang sama untuk jadi dokter, insinyur, seniman, atau apapun yang mereka mau. Tapi kenyataannya? Kesempatan itu sering kali terhalang oleh jarak, dana, dan kebijakan yang entah kenapa terasa lambat. Papua tidak kekurangan anak-anak cerdas, yang kurang adalah kesempatan dan perhatian. Krisis pendidikan di Papua bukan cuma soal kurangnya gedung sekolah atau buku pelajaran, tapi soal hak dasar yang selama ini diabaikan. Kalau pendidikan gratis masih terasa seperti utopia di sana, lalu bagaimana kita bisa bicara soal kesetaraan?
Aku tahu, tulisan ini mungkin tidak akan langsung mengubah apa-apa. Tapi setidaknya, aku ingin suara teman-teman di Wamena, di Bintuni, dan di seluruh Papua didengar. Bahwa yang mereka butuhkan bukan sekadar bantuan sementara, tapi investasi jangka panjang dalam bentuk pendidikan. Karena pendidikan adalah jalan, jalan untuk bermimpi, jalan untuk berubah, jalan untuk membuktikan bahwa kita semua punya hak yang sama, tanpa peduli di mana kita dilahirkan.
Dan buat teman-teman di Wamena, aku salut. Kalian mengingatkan kita semua bahwa perubahan nggak dimulai dari teriakan orang besar, tapi dari suara-suara kecil yang berani bicara.
Salut betul untuk apa yang disuarakan Carlos lewat esai ini. Terima kasih banyak. Ijin share ke teman-teman kak Andy yang bergerak di pendidikan. Mudah-mudahan memantik lebih banyak pihak untuk memberi perhatian soal ini. ππΌπ
Nuhun kak π