Hujan, kau tampak sedih rupanya.
Siang hingga malam, kau basahi Bandung.
seperti air mata yang tak kunjung kering di pipi langit.
Apa yang membuatmu menitikkan duka?
Apakah ibu pertiwi sudah tak peduli?
Atau manusia telah lupa caranya mendengar rintikmu?
Dulu, kau datang membawa sejuk.
menghidupkan tanah yang haus.
menjadi nyanyian bagi daun-daun yang berbisik.
Kini, kau datang dengan deras yang bising.
membawa arus yang menelan jalan.
menggenangi kota dengan nestapa.
Hujan, apakah kau menangis karena rindu?
Rindu pada bumi yang dulu memelukmu lembut.
bukan yang kini membendungmu dengan rakus?
Jika iya, menangislah sepuasmu.
hingga langit lelah meratap.
hingga manusia sadar bahwa air matamu
adalah amarah yang mereka ciptakan sendiri.
Keren ini... ππΌππΌ