AES158 Yth, Kota Bandung
carloslos
Thursday August 7 2025, 2:46 PM
AES158 Yth, Kota Bandung

Halo teman-teman yang budiman, perkenankan aku memperkenalkan diri ulang: namaku Carlos. Mungkin nama itu pernah muncul di tulisan-tulisan sebelumnya, mungkin juga belum pernah terdengar. Aku bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang pernah tumbuh di dua kota, dua dunia, dua cara pandang.

Sejak usia lima tahun, aku tinggal di Papua. Sebuah tempat yang mungkin sering hanya dipahami lewat citra eksotis atau cerita-cerita yang tak lengkap. Tapi bagiku, Papua adalah rumah kedua. Tujuh tahun lamanya aku tumbuh di sana, menyusuri hari-hari dengan irama yang berbeda yang kadang terasa lebih lambat, lebih lapang, dan lebih jujur.

Lalu aku kembali, kembali ke kota awal sebelum Papua: Bandung. Sudah genap lima tahun aku menetap kembali di kota ini, kota yang katanya kota kembang, kota yang katanya romantis, kota yang katanya kreatif. Tapi izinkan aku hari ini untuk mengeluh.

Lima tahun tinggal di Bandung dan boleh aku katakan, banyak hal yang masih terasa seperti pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.

Kemacetan misalnya, di kota ini pagi dan sore adalah dua waktu yang tidak pernah jujur. Kau bisa saja punya rencana, tapi semua berubah ketika harus bertemu lampu merah dan antrean kendaraan yang tak bergerak. Jalan sempit, kendaraan pribadi merajalela, dan arah yang tak pernah jelas.

Lalu jalanan bukan hanya padat, tapi juga buruk. Lubang di sana-sini, aspal yang tambal-sulam seperti janji yang ditarik ulur, trotoar yang tak layak membuat pejalan kaki harus memilih antara keselamatan atau kecepatan.

Transportasi umum? Jangan ditanya. Di kota ini, berjalan kaki masih lebih logis daripada menunggu angkot yang tak tentu arah atau bus yang tak kunjung datang. Entah berapa kali aku harus menunggu lebih dari setengah jam hanya untuk berpindah tiga kilometer. Sementara kota-kota lain misal Surabaya atau Jakarta sudah bicara soal MRT, trem, bahkan integrasi sistem sedangkan Bandung masih sibuk dengan wacana dan estetika.

Kau boleh bilang ini bentuk cinta, sebab hanya mereka yang peduli yang berani mengeluh. Aku bukan benci Bandung, aku tumbuh di sini, aku memiliki teman, cerita, dan kenangan di sudut-sudut jalannya. Tapi justru karena itu, aku ingin kota ini berubah.

Sebab Bandung punya banyak potensi, udara sejuk, generasi muda yang penuh ide, komunitas yang hidup. Tapi semua itu seperti tanaman yang tumbuh di pot retak. Indah, tapi rapuh.

Dan dari semua itu, mungkin inilah saatnya kita berhenti menyebut Bandung hanya dengan nostalgia. Kota ini harus disikapi dengan keberanian, bukan hanya dikagumi dari masa lalu tapi didorong untuk jadi kota yang benar-benar siap untuk masa depan.

Andy Sutioso
@kak-andy   9 months ago
Ini juga.tulisan yg berani bernas dan jernih pandangannya. Salut, Carlos. 👍🏻😀
DarthMalfoy
@vania   9 months ago
selalu suka dengan tulisan carlos bintuni
Tatha Wu
@tatha-wu   9 months ago
ARGHHHH BANDUOOONGG
You May Also Like