AES169 Memahami Retorika
carloslos
Friday November 7 2025, 1:14 PM
AES169 Memahami Retorika

Halo teman-teman yang budiman, ampuni hamba yang kerap ingkar janji. Sudah lima hari lamanya saya tak menulis di sini padahal pernah berikrar di hadapan layar ini untuk lebih rajin, lebih tekun, lebih konsisten. Tapi seperti biasa, manusia memang mudah lupa. Kadang bukan lupa karena tak mau, tapi karena otak ini tersesat di lorong-lorong pikiran yang terlalu ramai.

Beberapa hari lalu, saya membaca sedikit tentang sesuatu yang disebut retorika. Kata itu terdengar megah, seperti istilah yang hanya diucapkan oleh para filsuf di aula marmer atau politisi di depan mimbar. Tapi semakin saya baca, semakin saya sadar bahwa retorika itu tidaklah jauh dari kehidupan sehari-hari kita.

Kasarnya, retorika adalah seni membujuk. Seni untuk membuat orang lain percaya pada apa yang kita katakan. Bisa digunakan untuk menjual barang, memengaruhi hati, atau sekadar menenangkan seseorang yang sedang marah.

Namun di balik kata “membujuk”, ada sesuatu yang lebih halus dan lebih manusiawi. Retorika bukan semata tentang memenangkan argumen, tapi tentang bagaimana kita memahami manusia lain. Tentang bagaimana memilih kata yang tidak hanya terdengar indah di telinga, tapi juga terasa lembut di hati pendengarnya.

Saya masih mencoba memahaminya, tentu saja. Kadang di kepala saya muncul pertanyaan yang tak terjawab: apakah retorika itu alat kejujuran, atau justru topeng yang digunakan untuk menutupi kebenaran? Apakah seseorang bisa membujuk tanpa menipu?

Mungkin jawabannya ada di niat. Kalau niatnya baik untuk meyakinkan tanpa merugikan, untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bisa diterima maka retorika adalah seni yang luhur. Tapi kalau niatnya culas, maka kata-kata pun bisa menjadi pedang yang menusuk diam-diam.

Saya teringat pada guru saya dulu yang pernah berkata,

Orang yang pandai bicara belum tentu pandai berkata benar.”

Kalimat itu dulu saya anggap nasihat biasa. Sekarang, baru saya pahami betapa dalam maknanya. Retorika tanpa kejujuran hanyalah racun yang dibungkus pita emas.

Jadi hari ini saya menulis bukan untuk mengajar, tapi untuk belajar bersama.

Belajar bagaimana berbicara tanpa menggurui. Belajar bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa memaksa. Dan yang paling sulit, belajar bagaimana berkata jujur tanpa menyakiti.

Begitulah, teman-teman kalau hari ini saya menulis tentang retorika, mungkin karena saya sedang belajar membujuk diri sendiri untuk tak lagi malas menulis, untuk kembali menemukan rasa cinta pada kata-kata yang sempat hilang di jalan.

You May Also Like