AES 194 Lamunan Pagi
joefelus
Friday December 3 2021, 4:41 AM
AES 194 Lamunan Pagi

Pernah mengalami ketika tiba-tiba ide muncul lalu begitu duduk di depan komputer semuanya lenyap? Ya itu yang barusan saya alami, bahkan pada saat ide itu muncul saya sudah punya judul, hanya satu kata, dan saya merasa itu bagus sekali. Sekarang saya sama sekali tidak bisa mengingat apa judulnya :( mudah-mudahan ini bukan gejala dimesia dini hahaha...

Eniwei, tadi pagi saya berjalan kaki ke tempat kerja, seperti biasa, sambil mendengarkan lagu-lagu yang saya sukai. Banyak piano pagi ini yang saya dengarkan, bahkan salah satunya seorang artis dari Philipina, lupa namanya, tapi permainan pianonya bagus sekali. Pagi ini ketika baru berjalan beberapa langkah melewati tempat parkir, saya bertemu dengan seorang rekan kerja, dia dari bagian facilities yang tugasnya menyediakan segala perabotan apartemen dan asrama, seingat saya namanya John.

"Not bad for December, isn't it?" Katanya. Dia memang senang sekali ngobrol soal cuaca dimanapun dia bertemu saya.

"Yes! indeed! Kinda weird for December though. It is too warm than it usually is." Kata saya.

Musim gugur tahun ini memang aneh dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di awal Oktober sudah turun salju, tahun ini hampir tidak terlihat sama sekali, memang sempat 2 kali salju turun tapi sangat kecil, sekitar 1-2 cm saja dan beberapa saat kemudian menghilang jejaknya karena suhu terlalu hangat. Sekarang sudah bulan Desember dan hari ini suhu 22 derajat celcius yang hampir jarang terjadi. 2 tahun lalu saya masih ingat waktu diterjang badai salju ketika saya ada di Denver. Itu malah terjadi sebelum Thanksgiving, artinya masih di akhir bulan November. Dan saya ingat juga tahun lalu salju sudah turun di akhir September masih di musim panas!

Sambil terus berjalan, saya berpapasan dengan sekelompok mahasiswa. Salah satu diantaranya berpakaian sangat nyentrik, blus terusan berwarna hitam panjang sampai di bawah lutut tapi mengenakan celana panjang dengan jenis kain mengkilap berbunga-bunga berwarna ungu. Rambutnya panjang terurai diikat, ponytail. Sekilas saya lihat wajahnya cantik. Saya pikir ini orang punya fashion statement yang unik. Ketika lebih dekat, saya mendengar suaranya yang berat, bariton! Karena saya tidak boleh melototi orang, ini aturan, melototi orang bisa melanggar privasi dan bisa dituntut sebagai harrassment. Saya menunduk dan tersenyum dibalik masker. Ya ini Amerika, orang boleh mengekspresikan dirinya sebebas mungkin tanpa ada halangan dan judgment dari orang lain. Semua orang punya hak berekspresi, mengeluarkan pendapat dan dilindungi undang-undang. Mahasiswa ini adalah laki-laki dan dia cantik sekali, kalau saya tidak pernah mendengar suara baritonnya, saya tidak pernah menyangka bahwa dia bukan seorang wanita.

Jangan salah sangka, saya orang yang sangat terbuka dan menerima orang lain apa adanya. Teman-teman saya mempunyai banyak pronouns, dari she/her/hers untuk wanita, he/him/his untuk pria hingga they/them/theirs untuk mereka yang tidak mau diidentifikasikan gendernya atau yang tidak bersedia mengungkapkan sama sekali. Di email signature ini sering dijadikan sesuatu yang official, yang resmi. Semuanya di mata saya adalah wajar bahkan saya punya teman dari Philipina yang dulunya Julio menjadi Julia (bukan nama sebenarnya). Itu pilihan pribadi dan bukan hak saya untuk menilai, yang penting saya bersedia menerima pribadi mereka apa adanya sebagai teman dan sahabat.

Kebebasan berekspresi memang sangat dijunjung tinggi di sini. Itu di satu hal sangat baik tapi juga banyak loop holes yang bisa disalahgunakan, misalnya kasus Kyle Rittenhouse yang sedang ramai saat ini. Seorang anak 18 tahun yang membunuh 2 orang di sebuah kerusuhan. Dia dibebaskan dan dianggap tidak bersalah karena semata-mata dia memiliki kekebalan dalam berekspresi. Dia membawa senjata otomatis yang larasnya beberapa inci lebih pendek sehingga terlepas dari aturan, dia juga dibebaskan karena dianggap membela diri. Bebas dari hukum tapi dia tidak bebas dari reaksi masyarakat yang juga punya kebebasan berekspresi! Dia didemo di kampus agar dipecat, dikeluarkan dari Universitas. Masyarakat menganggap dia bersalah, dan itu adalah hak masyarakat yang juga bebas berpendapat. Di sini masalah moral yang sedang diperdebatkan, bukannya masalah hukum tertulis yang kadang banyak bolong-bolongnya yang dimanfaatkan oleh pembela di pengadilan sehingga dia dibebaskan.

Bagaimana di Indonesia? Nah ini lain lagi. Indonesia tidak punya the first amendment. Walaupun ada hukum bebas berserikat, bebas menyampaikan pendapat dan sebagainya, tapi buktinya banyak kalangan masyarakat terjerat undang-undang ITE. Ada salah satu teman saya hampir masuk penjara gara-gara menulis di Facebook soal saudaranya yang meminjam uang dan tidak mau bayar, lalu dituntut karena merusak nama baik. Atau ada kasus di Surabaya, seorang pasien perawatan kecantikan yang menulis di sosial media bahwa wajahnya rusak karena pergi ke tempat perawatan kecantikan itu. Dia dituntut merusak nama baik dan sekarang menjelang vonis. Undang-undang ini sepertinya membatasi orang berpendapat, tapi saya bukan ahli hukum jadi tidak dapat berkata banyak walau terus terang nurani saya agak terusik. Ada banyak kasus lain yang saya yakin bisa dijumpai di masyarakat. Perangkat aturan dan perundangan masih membutuhkan reinforcement yang kadang pada praktiknya menjadi terbatas karena ada unsur kepentingan oleh kalangan tertentu. Jangan salah, hal ini terjadi di mana-mana bukan hanya di Indonesia. Contohnya seperti kasus Rittenhouse ini, orang bilang bahwa seandainya anak ini adalah anggota dari masyarakat yang warna kulitnya berbeda, tentu akhirnya cerita akan berbeda dengan yang terjadi saat ini dan kasus semacam ini memang benar-benar terjadi! Ya dalam kasus-kasus tertentu keadilan masih bias, tapi saya masih yakin bahwa nurani masih imun terhadap gangguan.

Berjalan kaki dipagi hari memang memberikan banyak kesempatan bagi saya untuk melamun dan berpikir banyak hal. Lain kali saya akan segera catat kalau ada ide. Sayang sekali ide bagus dan judul bagus tiba-tiba lenyap seperti pagi tadi hehehe.***

Foto: theconversation.com

You May Also Like