Halo teman-teman yang budiman, saya mau mengaku sedikit tentang ketidakdisiplinan saya akhir-akhir ini. Saya jarang menulis. Padahal biasanya, tulisan menjadi tempat saya pulang ketika banyak hal terasa terlalu ramai di kepala. Tapi beberapa minggu ini rasanya bahkan merangkai kalimat pun melelahkan.
Saat tulisan ini dibuat, seharusnya saya sedang mengikuti program wajib sekolah: penjelajahan. Kegiatan yang bagi sebagian orang mungkin menyenangkan—berjalan jauh, tidur bersama teman, membuat kenangan yang nanti akan diceritakan sambil tertawa. Tapi nampaknya jiwa dan raga saya tidak sampai untuk memenuhi syarat ikut di sana. Ada lelah yang kadang tidak bisa dijelaskan dengan suhu badan atau surat dokter.
Akhirnya sekolah memberi saya program lain: proyek intensif. Di situlah saya sekarang. Dan lucunya, proyek itu adalah membuat novel.
Sesuatu yang selama ini terasa terlalu besar untuk saya sentuh. Menulis satu halaman saja kadang saya berhenti lama hanya untuk mencari satu kalimat yang terasa jujur. Tapi sekarang saya diminta membangun dunia, tokoh, perasaan, dan akhir cerita.
Novel yang sedang saya buat bercerita tentang “pertemuan dan perpisahan.” Mungkin terdengar sederhana, karena semua orang pernah bertemu dan semua orang pasti berpisah. Tapi justru karena terlalu sering terjadi, kita jadi jarang benar-benar memikirkannya.
Kebetulan tadi malam saya membaca sebuah tulisan tentang perpisahan. Ditulis oleh tangan yang seolah tidak pernah kosong dari kehilangan. Dan sejak itu, saya terus bertanya pada diri sendiri:
Apa sebenarnya arti sebuah perpisahan?
Apakah perpisahan itu tanda bahwa sesuatu gagal dipertahankan?
Atau justru bukti bahwa sesuatu pernah begitu berarti sampai kehilangannya terasa sakit?
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, hidup memang penuh dengan hal seperti itu. Semua yang dimulai akan selesai, semua yang datang suatu hari akan pergi. Itu hukum alam yang bahkan tidak bisa ditawar oleh manusia paling keras kepala sekalipun.
Kita lahir untuk mati pada akhirnya.
Kalimat itu terdengar dingin, tapi mungkin justru karena itulah hidup jadi punya arti. Karena waktu kita terbatas, maka setiap pertemuan menjadi berharga. Setiap obrolan kecil, setiap jalan pulang, setiap orang yang pernah membuat kita merasa dimengerti—semuanya perlahan berubah menjadi kenangan.
Dan mungkin kehilangan bukan selalu soal seseorang pergi jauh. Kadang kehilangan terjadi pelan-pelan, saat sebuah masa habis tanpa kita sadari. Saat teman mulai sibuk dengan hidupnya masing-masing. Saat sebuah tempat yang dulu ramai mendadak terasa asing.
Mungkin itu sebabnya saya menulis lagi hari ini.
Karena saya takut beberapa hal hilang begitu saja tanpa sempat saya simpan dalam kata-kata.