Manusia diciptakan menurut citra Penciptanya. Itu yang diajarkan oleh agama sejak kita masih kecil. Yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah kemampuan merasakan, mengerti dan melampiaskan emosi. Manusia diberkahi dengan emosi, tidak hanya merasakan yang kita alami sendiri tetapi juga kita mampu mengerti emosi yang dialami oleh orang lain.
Kita sering merasa ikut berbahagia ketika misalnya kenalan lulus ujian, berhasil dalam karir dan sebagainya. Kita ikut bersedih ketika tetangga kehilangan anggota keluarganya. Ini memang sebuah berkah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Simpati. Ini juga kita miliki jika menyaksikan seseorang yang dirundung malang. Seperti misalnya yang saya alami setiap kali ke kolam renang. Ada 2 orang yang saya ketahui tidak memiliki tempat tinggal. Mereka masing-masing memiliki Van dan dijadikan rumah mereka. Setiap kali saya ke kolam renang mereka sedang mandi di shower, mereka tidak berenang tapi hanya ikut mandi. Salah seorang dari mereka kesehatannya tidak terlalu baik, dia bercerita bahwa kakinya patah, tulang punggungnya sudah tidak baik sehingga dia bungkuk ketika berjalan. Setiap kali saya penyapa,"How are you doing?" dia selalu menjawab dengan nada getir,"Still alive" lalu mulai cerita hal-hal yang membuat saya miris karena sepertinya si bapak ini penuh dengan penderitaan hidup. Saya bersimpati. Tapi ya itulah kenyataan hidup. Setiap orang berbeda-beda, ada yang berhasil sukses, ada yang terpuruk harus hidup dengan mengais-ngais di bawah. C'est la vie! That's life!
Kita biasanya ikut bersedih jika ada orang yang tertimpa kemalangan, Kita adalah mahluk yang compassionate! Tapi jangan salah, kadang kita senang ketika melihat orang lain sengsara atau menderita! Betul khan? misalnya dalam pertandingan olahraga, kita bersorak sorai ketika lawan kalah. Kita teriak penuh emosi ketika tokoh penjahat di dalam sebuah film dihajar habis-habisan oleh pemeran utama! Apakah itu menjadikan kita monster? orang yang jahat? ternyata itu tidak! Menurut para ahli itu yang disebut dengan Schadenfreude!
Apakah itu Schadenfreude? Ini adalah bahasa Jerman yang dalam bahasa Inggris "harm-joy" kesenangan yang merupakan respon dari penderitaan orang lain. Menurut sejarah katanya, hal ini sudah ada sejak jaman Aristoteles dengan istilah epichairekakia dan oleh orang-orang Perancis dinamakan joie maligne atau leedvermaak dalam bahasa Belanda yang pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama. Sementara orang Jepang katanya punya peribahasa yang kalau diIndonesiakan akan berbunyi Kemalangan orang lain rasanya seperti madu!
Lalu apakah mentertawakan kemalangan orang lain menjadikan kita jahat? katanya sih tidak, karena pada dasarnya kita tidak pernah mendoakan orang lain untuk tertimpa kemalangan, kecuali ketika kita sedang sangat marah, itu adalah semacam bentuk agresi, persaingan dan keadilan. Nah coba, bagaimana pendapat anda? hehehe..
Wah, Pak Jo nanya pendapat nih. Saya jawab dengan esai saja ya. Biar kayak di Ning dulu lagi sahut-sahutan.
Asyik.... 🤣