AES180 Hari-Hari Tak Bertuan
carloslos
Monday May 11 2026, 8:23 AM
AES180 Hari-Hari Tak Bertuan

Halo teman-teman yang budiman, satu minggu ini proyek saya terus bergulir. Awalnya hanya perencanaan kecil di kepala, lalu berubah menjadi catatan, lalu perlahan menjadi sesuatu yang benar-benar harus dikerjakan. Dan sekarang saya berada di tengah proses itu—fase yang paling melelahkan sekaligus paling sunyi.

Tak ada yang perlu dibanggakan sebenarnya.

Saya hanyalah seseorang yang sedang mencoba menulis, sambil sesekali bertanya pada diri sendiri apakah semua ini nantinya akan berarti atau justru menjadi eksperimen gagal yang dilupakan begitu saja. Kadang saya merasa seperti sedang membangun rumah dengan tangan kosong: lambat, berdebu, dan penuh keraguan.

Entah mengapa pagi ini terasa berbeda dari kemarin. Energinya tidak sama. Tidak seringan biasanya. Ada semacam kabut tipis di kepala yang membuat semuanya terasa sedikit jauh. Bahkan untuk sekadar menyusun satu paragraf saja rasanya seperti mendorong sesuatu yang berat.

Saya tidak tahu apakah ini hanya efek samping dari kelelahan, atau memang beginilah cara pikiran bekerja ketika terlalu lama dipaksa berjalan.

Hari-hari seperti ini selalu aneh.

Tidak ada tragedi besar. Tidak ada kesedihan dramatis. Tapi juga tidak ada semangat yang benar-benar hidup. Semuanya terasa menggantung. Seperti hari yang tidak punya tujuan jelas. Bangun pagi, duduk, menatap layar atau buku catatan cukup lama, lalu berharap sesuatu muncul dari kepala yang sebenarnya kosong.

Mungkin ini yang disebut hari-hari tak bertuan. Hari ketika waktu berjalan, tapi hati tidak benar-benar ikut bergerak.

Di fase seperti ini saya mulai sadar bahwa menulis bukan cuma soal inspirasi. Menulis kadang hanya soal bertahan duduk lebih lama daripada rasa malas dan keraguan. Karena kenyataannya, ide tidak selalu datang seperti petir. Kadang ia datang pelan-pelan, setelah kita mau diam cukup lama mendengar isi kepala sendiri.

Dan jujur saja, saya takut pada kekosongan seperti ini.

Takut kalau-kalau saya kehilangan kemampuan untuk merasa. Takut tulisan saya nantinya hanya menjadi kumpulan kalimat tanpa nyawa. Tapi mungkin semua orang yang membuat sesuatu pernah melewati fase serupa—fase ketika dirinya sendiri menjadi orang pertama yang meragukan hasil pekerjaannya. Meski begitu, pagi ini saya tetap berharap satu hal sederhana: semoga pikiran saya cukup jernih untuk menulis.