AES190 Sonichi
carloslos
Wednesday July 15 2026, 11:39 AM
AES190 Sonichi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama.

Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seorang member baru memulai debutnya. Ada rasa gugup, ada wajah-wajah yang belum terbiasa, ada panggung yang sama tetapi suasananya terasa berbeda.

Barangkali hari ini juga begitu. Hari pertama. Meski harus saya akui, hari ini sedikit membosankan. Tidak ada ledakan besar, tidak ada peristiwa yang terlalu dramatis. Hanya sekolah yang kembali ramai, langkah-langkah yang terdengar lagi di lorong, suara percakapan yang tumpang tindih, dan wajah-wajah baru yang mulai memenuhi ruang.

Banyak orang datang dengan semangatnya masing-masing. Ada yang baru mulai mengenal tempat ini, ada yang masih mempelajari tempat, ada pula yang mungkin diam-diam sedang menata keberanian untuk menjadi bagian dari lingkungan baru.

Tema utama hari ini adalah adaptasi. Kata itu terdengar sederhana, tapi saya rasa tidak pernah benar-benar mudah dijalani. Bagi teman-teman baru, adaptasi berarti memulai jenjang baru.

Mereka harus mengenal ruang, mengenal orang, mengenal ritme sekolah, dan perlahan belajar bagaimana caranya berdiri di tempat yang belum sepenuhnya mereka pahami. Tapi bagi saya, adaptasi hari ini terasa berbeda.

Saya bukan lagi orang yang baru datang. Saya bukan lagi wajah yang sedang mencoba memahami apa itu KPB dari awal. Saya sudah terlalu sering melewati tangga yang sama, melihat sudut yang sama, dan melihat wajah yang sama.

Namun justru karena itu, saya merasa hari ini bukan tentang memulai. Hari ini lebih terasa seperti tanda bahwa semuanya perlahan akan berakhir. Bukan soal belajar, karena belajar memang akan terus berjalan dengan bentuknya masing-masing.

Yang saya maksud adalah hawa kehadiran saya di tempat ini. Rasanya tiba-tiba menjadi lebih tipis. Seolah saya baru sadar bahwa waktu saya di sekolah ini hanya tersisa setahun lagi. Setahun terdengar lama jika dihitung dari hari ke hari. Tapi jika dilihat dari belakang, waktu selalu punya kebiasaan buruk: ia berjalan diam-diam, lalu tiba-tiba kita sudah sampai di akhir.

Mungkin itu sebabnya hari pertama ini terasa aneh. Untuk sebagian orang, hari ini adalah permulaan. Untuk saya, hari ini adalah pengingat bahwa saya sedang memasuki bagian akhir dari sebuah perjalanan. Dan di antara wajah-wajah baru itu, saya seperti melihat diri saya yang dulu.

Masih canggung, masih mencoba membaca suasana, masih belum tahu akan menjadi siapa di tempat ini. Bedanya, sekarang saya berdiri di sisi lain. Bukan lagi sebagai orang yang sepenuhnya baru, tetapi sebagai seseorang yang mulai sadar bahwa sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari masa lalu sekolah ini.

Barangkali itulah lucunya waktu. Ia membuat orang baru datang dengan harapan, sementara orang lama mulai belajar melepaskan. Maka hari ini, meski membosankan, tetap punya arti. Ia tidak perlu ramai untuk menjadi penting. Tidak perlu penuh kejadian besar untuk bisa dikenang. Kadang satu hari biasa saja cukup untuk membuat kita sadar bahwa hidup sedang bergerak.

Sonichi. Hari pertama bagi sebagian orang. Dan mungkin, awal dari akhir bagi saya.