Aku sebenarnya ngga bermaksud membawa ke arah definisi. Tapi ada diksi lain yang mirip namun ternyata ranahnya berbeda sama sekali, yaitu spiritualisme. Jadi ada spiritualitas, ada juga spiritualisme. Ini penting untuk dibahas karena maknanya sering tercampur sehingga menimbulkan kebingungan dan konflik.
Spiritualitas merujuk pada pengalaman batin manusia, pencarian makna, kesadaran, relasi secara hakikat, bisa hadir di dalam atau pun di luar agama. Intinya spiritualitas menyentuh bagaimana kita hadir dalam hidup, cara melihat dsb. Meskipun berhubungan dengan dimensi batin/tak kasatmata, namun hasilnya tetap menyentuh pengalaman sebagai manusia.
Adapun spiritualisme ternyata lebih spesifik, terkait dg kepercayaan, ideologi, atau paham, dan biasanya terkait dengan dunia non-fisik seperti roh, energi, gaib, entitas. Spiritualisme sering berfokus pada komunikasi dengan dunia spiritual melalui medium atau praktik-praktik lain seperti meramal, channeling, atau kesurupan. Singkatnya spiritualisme menyentuh apa yang dipercaya tentang realitas tak kasatmata dan cenderung bergantung pada sistem penafsiran eksternal.
Nah, masalah muncul ketika keduanya bercampur. Spiritualisme disangka spiritualitas, kepercayaan disangka kesadaran, dan pengalaman batin disangka kedalaman yang sejati. Seaeorang bisa sangat spiritualistis (percaya banyak hal gaib, melakukan praktik tertentu), tapi dalam keseharian ia tidak hadir, tidak jujur pada dirinya sendiri, terseret pikiran, dan hidup dari mode survival. Dan sebaliknya, seaeorang bisa saja tidak percaya apa pun soal dunia gaib, namun hidup sangat sadar, utuh, dan terhubung dengan pengalaman batin dan realitas sehari-hari. Intinya, spiritualitas itu bukan tentang apa yang kita yakini, tapi tentang bagaimana kita hadir dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menghidupi kehidupan itu sendiri. Ini sangat sederhana, dan karena terasa sunyi tanpa rasa yang dramatis, kita seringkali melewatinya tanpa menyadari.
(Bersambung ke bagian 2)