Bertahun-tahun mengamati, proses anak belajar membaca semakin terlihat sebagai suatu proses yang ajaib. Bisa saja terbangun alamiah, lancar tanpa kendala berarti bagi sebagian anak, sebaliknya bisa menjadi momok yang sulit diatasi bagi sebagian lain. Cukup banyak anak yang sudah menunjukkan ketertarikan pada huruf sejak usia dini. Ketertarikan ini tentunya perlu direspon dengan tepat. Kerap hal itu dianggap sebagai pertanda anak siap untuk belajar membaca. Pertanyaannya, apakah secara fisik mereka sungguh sudah siap?
Di usia dini, anak membaca dengan menggunakan pusat baca di belahan otak kanan, dengan mengenali gambar. Pusat baca di belahan otak kiri, yang mengenali bunyi huruf (fonetis) baru berkembang dan bekerja simultan dengan belahan otak kiri (rata-rata) di usia 7 tahun. Setelah itu terjadi, baru mereka dapat mengenali huruf, merangkai jadi suku kata, membaca kata, sekaligus paham karena dapat menciptakan imaji visual dalam benaknya. Banyak terjadi anak yang mulai belajar membaca dengan belahan otak kanan, membawa kebiasaan ini hingga ke jenjang-jenjang selanjutnya. Dengan melihat kata sebagai gambar, bukan mengenali huruf-huruf di dalamnya, mereka kerap jadi menebak saat membaca, salah baca atau kesulitan memahami dan membayangkan teks panjang yang dibaca.
Bukan hanya kematangan pusat baca, untuk mendukung kemampuan membaca, beberapa sistem dan kerja organ dalam tubuhpun perlu terbangun mantap dulu. Seperti sistem proprioseptif yang berhubungan dengan kemampuan anak membayangkan bentuk-bentuk abstrak dari huruf, arah kiri dan kanan, atas dan bawah, yang biasanya jadi berdampak sering terbalik arah atau malah lupa bentuk huruf.
Mudah-mudahan bersepakat bahwa membaca merupakan salah satu proses yang tidak bisa digegas. Cepat bisa baca bukan berarti lebih cerdas. Karenanya alih-alih terburu-buru mengajar membaca, lebih baik mengajak anak untuk memantapkan dahulu kesiapan tubuhnya. Stimulasi jasmani untuk ketrampilan motorik, keseimbangan badan, kekuatan otot, melatih integrasi saraf, dll menjadi tahapan penting. Seperti berlari, melompat, memanjat, bergelatungan, engkle, meniti, menari, menyanyi, menggambar, meronce, tepuk tangan berirama, termasuk juga ketrampilan hidup sehari-hari seperti menyapu, mengelap, mendorong kursi, menggotong/ membawakan belanjaan, menuang air, mengosongkan tong sampah, menyiangi rumput, menyiram tanaman, dllsb. Berbagai gerakan yang sehat, harmonis, ritmis, dan tidak kompetitif akan membangun dasar untuk kemampuan belajar yang baik ke depan.
Tak kalah penting adalah peran stimulasi berbahasa itu sendiri. Lewat paparan dan pengalaman berbahasa yang menyenangkan, hangat dan beragam. Sering diajak mengobrol 2 arah, mendengar dan didengar, paparan berbagai dongeng terutama dari buku-buku yang termasuk kategori Living Books / Pustaka Hidup (meminjam istilah Charlote Mason), akan menjadi bekal untuk proses belajar membaca yang lancar dan alami.