Ketika lingkar kehidupan tetiba terguncang badai, sungguh sulit menata kembali semua yang berantakan agar dapat melihat posisi diri dan membuat keputusan logis. Butuh waktu dan ruang untuk berduka, menyadari apa yang terjadi, menghilangkan pedih yang terasa, menenangkan emosi yang terusik. Terutama yang membuat semua terasa absurd dan tidak lagi logis; bingung, ketakutan, kesedihan, kehilangan, rasa tidak berdaya, tidak percaya, harapan ke depan yang tak lagi dapat terwujud, dan banyak lagi rasa-rasa dan bayangan yang bermunculan tanpa sekat, saling sikut untuk menjadi yang terdepan. Hal-hal sederhana bisa memicu mereka untuk muncul tiba-tiba. Tak ada teori bagaimana mengatasinya, mungkin hanya butuh waktu untuk menetralkan.
Kadang membantu bila dapat bercerita pada orang yang tepat, orang yang dapat berempati, bersedia dan dapat mendengar tanpa memperkeruh situasi. Meski orang di lingkaran terdekat tak selalu menjadi orang yang tepat. Kerap menjadi semakin kompleks karena turut emosi, turut terganggu badai, ingin segera teratasi dengan caranya. Perlu juga memberi sedikit jarak dan waktu untuk menenangkan diri agar tidak turut terlarut. Sambil mengingat bahwa pada dasarnya setiap orang punya kemampuan untuk menghadapi tantangan yang hadir dalam hidupnya. Dalam takaran yang baik, konflik dan tantangan membuat manusia menjadi kuat. Mendorong munculnya sisi-sisi yang kerap tersembunyi di balik tampilan sehari-hari. Misteri semesta yang kadang lupa disadari. Dalam takaran yang baik juga, kasih sayang orang terdekat tentunya merupakan dukungan yang tepat.
Teriring doa dan harapan, semoga menjadi lebih kuat.
Photo by Erik Mclean: https://www.pexels.com/photo/shabby-house-in-old-town-5634570/